Cerpen : Bayangan Darah oleh Yanusa Nugroho

  Setelah semua perkelahian ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh? Mungkinkah kebencian adalah kehidupan kita? Dan tanpa itu, kita bahkan tak berbekas sama sekali? Dua sosok itu termangu oleh pikiran masing-masing. Tubuh mereka … Baca Selengkapnya

Cerpen : Blarak oleh Yanusa Nugroho

Aku terbangun karena daun jatuh. Dengan agak tergeragap, kusingkirkan daun kering itu dari wajahku. Kulihat wajah Mbah Tuhu cerah semringah memandangku. Hehehe… mari pulang, sudah sore…” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya yang tak jauh dariku berbaring. ”Dari tadi, sebetulnya saya mau membangunkan sampean, tapi… kok kelihatannya pules bener, tidak tega, saya. Eh, malah daun … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hikayat Gusala oleh Yanusa Nugroho

Sebatang nyiur itu kini telah mulai menampakkan kecantikannya. Memang belum lagi setinggi anak berusia 10 tahun, namun pelepahnya yang menguning, yang sebagian masih terbungkus tapas, juga sebagian daunnya yang kuncup, mampu menyemarakkan pagi di pekarangan si pemilik. Kelak, entah 10 atau 20 tahun lagi, barulah nyiur itu mampu memberikan manfaat yang sebenarnya bagi si pemilik. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kembang Dewaretna oleh Yanusa Nugroho

”Mas, ayo, sudah setengah delapan, lho…,” suara itu terdengar lembut meskipun ada nada khawatir ketika mengucapkan ajakan itu. Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya. Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya. ”Sampean … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nyanyian Klaras… oleh Yanusa Nugroho

Apa yang bisa kukatakan kepadamu tentang orang-orang ini. Atau lebih baik begini. Jika kau bermaksud mengukur, atau menakar, atau mengira-ira bagaimana watak mereka, kau mungkin akan kesulitan. Tak ada ukuran yang bisa kau gunakan. Kesulitanmu itu bisa jadi karena apa yang kau saksikan adalah sesuatu yang baru dan belum pernah melintas dalam mimpimu sekalipun. Atau, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dinding Mawar oleh Yanusa Nugroho

Tingginya hampir tiga kali tinggiku. Membentang dari utara hingga selatan, selebar kira-kira 700 meter. Tebalnya aku tak tahu persis, karena, bahkan dari celah-celahnya saja, aku tak mampu menembus sisi lain dari bentangan ini. Dan percayalah ini memang sebuah dinding; dinding mawar. Semuanya adalah mawar kampung, mawar yang paling kusukai, karena satu-satunya yang mampu mengharumkan alam … Baca Selengkapnya

Cerpen : Wening oleh Yanusa Nugroho

Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Pergelangan tangan itu ngukel1, lalu telunjuknya menjentik. Dia tersenyum. Keindahan memang tak bisa diam, selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Sekali lagi dia tersenyum, sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Dibayangkannya, nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang, yang oleh Mas … Baca Selengkapnya

Cerpen : Garis Cahaya Bulan… oleh Yanusa Nugroho

Sorga itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke mari. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. Ya, sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat, dengan rumah-rumah kardus atau tripleks, dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini, melambai-lambai ditiup angin. Aku sendiri … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mawar dan Mbak Menik oleh Yanusa Nugroho

Hari itu hari Minggu. Aku biarkan diriku terduduk di beranda-ah, sebenarnya tak bisa disebut beranda. Bayangkan, hanya 50 kali 200 cm, bagaimana mungkin bisa disebut beranda? Mungkin emper adalah kata yang tepat untuk ruang kecil di depan tembok rumahku ini. Tapi, sebenarnya emper, atau teras adalah kata lain untuk beranda. Ah, entahlah, sering kali aku … Baca Selengkapnya

Cerpen : Laki-laki yang Menusuk Bola Matanya… oleh Yanusa Nugroho

Heran, sejak beberapa hari ini mataku sudah tak bisa melihat dengan benar. Kemarin aku yakin sekali melihat seekor kerbau di depan pintu kantor. Tentu saja semua orang tak percaya, termasuk logika pikiranku sendiri. Karenanya, aku tak marah dengan cerca dan gelak tawa mereka yang kuberi tahu bahwa di depan pintu kantor ada seekor kerbau besar … Baca Selengkapnya