Cerpen : Kisah yang Disimpan Keheningan… oleh Yanusa Nugroho

Perkenalkan, sebut saja aku keheningan –mungkin lebih mudah bagimu untuk menandai dan mengakui kehadiranku di sini. Aku ada di mana saja dan kapan saja. Dan apa yang akan kupaparkan ini adalah sepenggal peristiwa yang tertangkap lalu kusimpan untuk suatu kali (dan sekarang inilah saat itu) kukisahkan kepadamu. Ini kisah si pemburu yang tak tahu bahwa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bunga Kamboja dan Kucing Mati oleh Yanusa Nugroho

Yang turun dari langit itu es batu. Sebesar sirtu, mungkin ada yang nyaris sebesar bola pingpong. Begitu saja turun tanpa didahului ramalan cuaca. Bergelatak keras di atap-atap rumah. Berdeplok deplok di lantai tanah, juga di aspal hitam yang selalu lengang itu. Anak-anak kecil berteriak-teriak girang menyaksikan es jatuh dari langit. Mereka mencoba memunguti, tapi dicegah. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Wisanggeni oleh Yanusa Nugroho

Udara naik. Uap tanah naik. Angin kering menggelasak hutan. Hutan terbakar. Rumput di lapangan hangus. Batang-batang tebu kian kering, tapi mungkin kian manis. Mandor-mandornya harus giat berkeliling. Banyak maling. Kebakaran di mana-mana, dan dari salah satu entah bangunan apa sebenarnya, yang terbakar hebat, orang-orang tercekat. Dari dalam gunung api yang menjilat-jilat langit pekat, terdengar tangis … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menyaksikan Sunyi oleh Yanusa Nugroho

Sejak dia bisa mengingat, dia belum pernah menyaksikan siang atau malam. Dia mengenali itu semua dari pembicaraan manusia lain, yang selain menyentuh perasaannya, juga kulit di sekujur tubuhnya. Hanya itulah yang mampu menerjemahkan apa itu siang, dan apa itu malam, kepadanya. Dia memang tak mampu melihat dengan kedua bola matanya, tapi jangan kau anggap dia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tujuh Puluhan oleh Yanusa Nugroho

Jalanan masih sepi. Apalagi setelah peristiwa ’rame-rame’ itu. Peristiwa itu, di bulan Januari itu, sudah beberapa bulan berlalu, masih di tahun yang sama, tapi laki-laki itu masih saja was-was ketika bertemu petugas. ”Nama?” ”Ahmad..” ”Pekerjaan?” ”Kan, ada di situ?” ”Saya tanya sama kamu, bukan mau membaca yang tertulis di sini.” ”Hmm… saya penjual buah.” ”Tapi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dongeng Tarka dan Sarka oleh Yanusa Nugroho

Maka mereka pun hanya membuka telinga badaniah mereka, sebelum mampu membuka yang batin. Mereka–Tarka dan Sarka–mencoba membuka telinga dan menutup lisan. ”Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa, namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun,” begitu pesan ayah mereka, yang memang seorang pertapa. Sarka, sang adik, yang bertubuh kurus dan selalu lapar itu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bukit Mawar oleh Yanusa Nugroho

  Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum. Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bukit Mawar oleh Yanusa Nugroho

  Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum. Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit … Baca Selengkapnya

Cerpen : Salawat Dedaunan oleh Yanusa Nugroho

Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko … Baca Selengkapnya

Cerpen : Raja Kuru oleh Yanusa Nugroho

  Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana. Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, … Baca Selengkapnya