Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bunga Kamboja dan Kucing Mati oleh Yanusa Nugroho

Posted on Ming, 09 Okt 2022

Yang turun dari langit itu es batu. Sebesar sirtu, mungkin ada yang nyaris sebesar bola pingpong. Begitu saja turun tanpa didahului ramalan cuaca. Bergelatak keras di atap-atap rumah. Berdeplok deplok di lantai tanah, juga di aspal hitam yang selalu lengang itu. Anak-anak kecil berteriak-teriak girang menyaksikan es jatuh dari langit. Mereka mencoba memunguti, tapi dicegah.

Yanusa Nugroho

”Benjol, baru tahu rasa…,” begitu ucap entah siapa.

”Sakit?”

”Coba, sana. Tapi nggak boleh nangis, ya….”

Es masih berjatuhan, tiba-tiba disapu angin keras. Dahan pohon trembesi itu patah, berderak dan gemerasak jatuh. Dahan itu melintang, memotong badan jalan beraspal hitam. Angin seperti membetot apa saja yang tegak di atas tanah. Banyak gubuk di pinggir kali yang terangkat beberapa meter dan diempaskan tak jauh dari situ. Jangan kau tanya bagaimana penghuninya. Belum selesai angin menggila, hujan sangat deras mengempas, disusul geledek menggelegar, kilat menyambar. Sebatang pohon kelapa tersambar petir, menjelma obor raksasa di tengah badai air yang menggila. Di jalanan, banyak kendaraan menepi sambil menyalakan lampu sein berkedip. Jarak pandang hanya 10 meter, siapa yang berani nekat berkendara.

***

Di depan sebuah rumah, yang letaknya di jalan kecil beraspal, seekor kucing mati. Ada sisa genangan darah dari luka di kepalanya.

Di dekat kucing mati itu tumbuh pohon kamboja. Bunganya cukup banyak dan berwarna merah dan kuning. Satu pohon tetapi berbunga dua warna. Dan seusai badai itu, menyaksikan tubuh malang si kucing, kamboja menggugurkan bunga-bunganya. Selebihnya, sepi. Selebihnya, bumi basah, dingin dan sunyi yang menggelimang. Ada kucing mati dengan luka di kepalanya. Tak ada lagi sisa es batu dari langit.

Ada laki-laki menggandeng anak kecil lima tahun. Tiba-tiba seperti mematahkan pembicaraan si ayah sebelumnya, si kecil berlari menuju si kucing mati.

”Ayaah… si empus matiii…,” teriaknya. Ada nada sedih yang sangat dari teriakannya. Selebihnya hanya kebekuan. Si ayah mendatangi anaknya, yang masih lima tahun itu, menggendongnya dan mengajaknya pulang. Si anak, seperti tak rela, mengulang-ulang ucapannya sambil menangis, ”Si empus matiii, si empuusss matiii….”

”Ya, sudah… sudah… empus sudah mati, mau diapain…” bisik ayahnya mencoba menghibur. Tapi si anak malah memberontak turun. Dia seolah ingin menuntaskan kesedihannya melihat si kucing yang mati dengan luka di kepalanya, dengan darah yang masih menggenang di sekitar kepalanya; sebagian terbawa sisa hujan, seakan membentuk lukisan aneh yang sulit dicerna.

Si ayah tetap berusaha menghibur anaknya, tetapi si anak seakan makin terluka. Dia meraung. Kilat bekerjap di langit kelabu. ”Mau hujan lagi, De, pulang yuk…,” bujuknya.

Si anak tetap meraung dan ndeprok di dekat si kucing mati. Celananya basah, dan dia tak peduli. Bajunya basah dan dia tetap meraung. ”Empus matiii… empus matiii….”

Hujan pun turunlah. Si ayah meraih anak laki-laki kecil itu. Si anak berontak dan kian menunjukkan dukacitanya. Di tengah derai hujan, si bapak jongkok di dekat anaknya, yang menangisi kucing mati di dekat pohon kamboja.

Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. ”Ada apa, Bim?”

Si ayah mendongak dan menceritakan apa yang terjadi. Si pengendara mobil mengajak si ayah dan anaknya untuk masuk ke mobil dan pulang. Tapi, si anak kecil itu makin melolong. Apa pun ucapan bujukan dari dua lelaki dewasa itu seolah makin melukai jiwanya yang hijau.

Si pemilik rumah, mungkin karena melihat ada mobil berhenti di depan rumahnya, ditambah ada seorang laki-laki dan seorang anak jongkok di cuaca berhujan, segera melongok dari teras. ”Ada apa, Pak?”

Laki-laki yang dipanggil Bim menjawab bahwa anaknya tak mau dibawa pulang.

”Kenapa?”

”Ini ada kucing mati….”

”Ooo… kasihan. Kucingnya, ya?”

”Bukan.”

Si penanya kehilangan kata-kata, lalu berucap: ”Hujan, lho… masuk sini….”

”Adee… pulang, yuuuk…. Ayah kebasahan, nih, Ade juga…. Yuuk?”

”Enggaaak… empus matiii.…”

”Iya… empus sudah mati.…”

”Bawa pulaang… empus matiii.”

”Kok, dibawa pulang, De? Kan, sudah mati?”

”Bawa puuulaaaang.”

”Yuuk, Ade… naik mobil, nanti Om antarin pulang…,” bujuk yang di mobil, tanpa turun dari mobilnya.

”Nggak mauuu! Empus bawa pulaaang… empus matiii.”

Si ibu muda pemilik rumah itu keluar membawa dua buah payung besar. Yang satu dibuka, yang satu masih kuncup. Sesampainya di dekat pohon kamboja, diserahkannya payung yang masih menguncup itu kepada si ayah, yang lalu mengembangkannya. Si ibu tegak di bawah payung putihnya. Si ayah jongkok mengembangkan payung hitamnya, memayungi dirinya dan si ade. Mobil itu masih berhenti dengan nyala lampu sein yang berkedip. Selain isakan dan gumaman si ade, yang seperti merapal mantra ”si empus matiii, si empus matiii” selebihnya, bumi basah, dingin dan sunyi yang menggelimang. Ada kucing mati dengan luka di kepalanya.

”Ayah, empus mati… bawa pulaaang…,” rengek si ade memecah keheningan.

”Kan, sudah mati, de…,” jawab si ayah agak jengkel.

”Bawa pulaaang… empus matii….”

”Buat apa dibawa pulang, empus sudah mati! Sudah tidak bisa diajak main lagi.”

”Ini kucing Ade, ya?” tanya si ibu muda.

”Bukan. Entah kucing siapa, tapi selalu main ke rumah kami. Ade selalu ngasih makan dan jadi teman mainnya.” Jawab si bapak seolah menumpahkan kekesalannya. Si ibu muda terdiam.

Si ibu muda masuk ke rumah dan keluar membawa tas plastik ukuran besar.

”Mungkin sebaiknya dibawa pulang saja, Pak. Kasihan si ade kedinginan.”

”Untuk apa bawa kucing mati?”

”Bawa pulaaang… empus matiii… bawa pulaang, Ayaah….” dan tangisnya pecah lagi.

Dengan kejengkelan yang tertahan, si ayah memasukkan si kucing mati yang basah oleh darahnya sendiri dan air hujan ke dalam kantong plastik. Si ade terdiam seketika, menghapus air matanya, berdiri dan menggandeng tangan ayahnya. Si ayah bingung. Menyerahkan payung hitam kepada si ibu muda, memandang sesaat kepada si pemilik mobil—yang kelihatan lega sekali karena dua orang basah kuyup itu tak jadi mengotori mobilnya—dan berjalan bersama anaknya.

Si ibu muda masuk rumah, yang segera diserbu pertanyaan dua anaknya yang sejak tadi nongkrong di depan televisi. Si ibu hanya diam, tersenyum dan wajahnya mengatakan, ”Tak ada apa-apa.”

***

”Si empus mau diapain, De?” tanya si ayah mencoba memahami pikiran anaknya.

”Dikubur, Ayah… kasihan, empus mati.”

”Iyaa, dikubur di mana?”

”Di tanah, Ayah.”

”Di tanah mana, Ade? Rumah kita kan di atas. Nggak ada halamannya.”

Tapi, si ade rupanya tak mau tahu apakah mereka berumah di petak-petak rusun, atau di istana. Yang dia tahu, si empus harus dikubur: kasihan.

Sesampai di pinggir kali, sebelum menyeberang ke rusun tempat tinggal mereka, si ayah berkata bahwa sebaiknya si empus dikubur di pinggir kali saja. Setelah diberi penjelasan berkali-kali bahwa tak mungkin mengubur si empus di rumah mereka, karena tak ada halaman bertanah di sana, barulah si ade menurut. Ketika sudah mendapat persetujuan, kini si ayah bingung, bagaimana menggali lubang untuk kuburan si empus?

Aneh, si ade tiba-tiba menggunakan jari-jarinya untuk mengeruk tanah. Si ayah sempat terpaku, lalu buru-buru ikut menggaruk tanah dengan tangan kosong. Si ayah masih sulit mencerna bahwa anaknya mengajarinya bagaimana menggali tanah dengan tangan kosong. Si empus dibungkus plastik dan dimasukkan ke lubang. Ade menimbuninya dengan tanah. Tampak sekali dia berhati-hati menimbuni si empus. Hujan masih turun seperti orang menangis berkepanjangan.

***

”Yaaa… Allooooh, yaa Tuhaankuuu… kenapa sampai basah dan kotor gini, sih? Emang nyarinya sampai mana, sih, Ayah? Kamu, itu, bandel kalau dibilangin, yaa…,” dan sederet panjang kata-kata yang menghambur dari bibir si ibu. Si ayah hanya membisu. Selain karena kedinginan dan basah, dia hanya ingin segera ganti baju, menyeduh kopi dan menikmati kretek dengan harum cengkehnya.

”Di mana tadi ketemunya?”

”Kompleks.”

”Yaa, Alloh, Deee… bandel, kamu, yaa… dibilangin, kalau maen jangan jauh-jauh.”

”Tapi si empus mati, Buuu.”

Si ibu terdiam sesaat mencoba menghubungkan ucapan anaknya dengan kenyataan yang sedang dihadapinya. Tak terlintas di ingatannya bahwa empus adalah seekor kucing. Lalu, sambil tetap mengomel, si ibu memandikan anaknya, mengganti bajunya dengan yang kering. Di luar terdengar suara televisi tetangganya menikmati dangdut. Si ayah menikmati kreteknya, di semacam beranda, di luar ruangan.

***

Di rumah si ibu muda, televisi curve 55 inci menyiarkan orang-orang muda membanggakan koleksi Lamborghini Huracan 580 Spyder dan Rolls-Royce Phantom Coupe. Kedua anaknya sesekali berkomentar, ”Bagus, yaa…” atau yang satunya mengatakan, ”Beli, dong Ma, keren, kan.”

***

Si ade tertidur. Dia bermimpi bermain dengan si empus tak bernama dan entah siapa yang punya. Mereka terikat oleh kegembiraan bermain yang tulus. Pertemanan yang tak bisa diwakili kata-kata. Si empus berlarian di plafon kamar yang kecil itu dan si ade menyusul. Mereka berkejaran gembira di dunia yang jungkir balik. Si ade tertawa-tawa di dalam mimpinya. Kebahagiaannya menembus dunia nyata. Si ibu melihat wajah si ade tersenyum-senyum dalam tidurnya.

Di luar, hujan masih turun. Tidak terlalu lebat, tetapi lebih basah daripada gerimis. Langit kelabu gelap dengan sesekali diterangi cahaya kilat. Kamboja berbunga dua itu tampak lebih tua dari biasanya. Batangnya seperti melengkung tunduk dan bunga-bunganya seperti ditaburkan di tempat si kucing mati; yang kini hanya tinggal sisa darah kehidupannya, yang mengalir membentuk semacam lukisan aneh di pinggir jalan.

Besok masuk tanggal satu Ramadhan; orang-orang memborong bahan makanan.

—

Yanusa Nugroho, lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Cerpennya, ”Orang-orang yang Tertawa”, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam kumpulan cerpen berjudul Diverse Lives—editor: Jeanette Lingard (1995). Beberapa kali mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Cerpennya, ”Selawat Dedaunan”, mendapat Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2012.

Firman Lubis, lahir di Bandung, 1975. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Tertarik dan bergabung dalam beberapa organisasi sketsa. beberapa kali terlibat pameran bersama, yang terakhir Marakayangan Drawing di Bandung 2022.

sumber : harian Kompas edisi 09 Oktober 2022 di halaman 11 dengan judul “Bunga Kamboja dan Kucing Mati”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme