Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wening oleh Yanusa Nugroho

Posted on Ming, 14 Mei 2006

Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Pergelangan tangan itu ngukel1, lalu telunjuknya menjentik. Dia tersenyum. Keindahan memang tak bisa diam, selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Sekali lagi dia tersenyum, sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok.

Dibayangkannya, nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang, yang oleh Mas Ondi—penata busana, akan diberi untaian melati. Jadi, nantinya, di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah, tetapi menebarkan harum yang samar- samar. Ah, di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi.

Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini, tentu akan lain ceritanya.

Waktu terlipat oleh kecepatan, entah siapa yang menjadi biang keladinya. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. Dia berada di tandu, yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Berdiri luka, duduk luka. Memilih “ya” dia akan melukai jiwanya, menolak untuk “ya” pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. Tetapi, siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri?

Sepi sekali malam ini. Anak- anaknya entah ke mana. Sony, si sulung, mungkin pergi dengan pacarnya. Neny, si ABG-itu, katanya tadi nonton “Berbagi Suami” ah, anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. Bang Irfan sendiri, entah ada di ufuk mana saat ini. Sejak hampir sebulan ini, suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Kadang muncul hanya untuk ganti baju, mengeluarkan baju-baju dari koper, mencium kening istrinya, lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. Kadang begitu datang, mandi, makan, lalu menghilang di kamar kerjanya, seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak.

Dia memang memilih untuk “ya” waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan, yang harus selalu menjaga penampilan, siap senyum, tak banyak gerak, tak banyak bicara, dan dia bukan lagi Si Wening. Wening si prenjak telah musnah. Wening si bunga matahari, sudah punah. Wening si walet, harus masuk sangkar; sesuatu yang mustahil sebetulnya, tetapi inilah hidupnya, sejak 25 tahun yang lalu.

“Aku ingin menari, boleh ya, Bang?” bisiknya suatu malam, seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. Barangkali saja, setelah mereguk kenikmatan, Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Tetapi, suaminya tak menjawab apa-apa, sudah mendengkur kelelahan. Wening hanya diam. Airmatanya beku, mengkristal di dinginnya malam. Sepi kian runcing, dan menusuknya tanpa kata. Dan sejak itu, hampir dua puluh tahun lalu, Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi.

Malam ini, sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. Di meja telah tersaji tumpeng kuning, kering tempe, abon, rajangan dadar, ketimun, cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah, seperti tangan penari.

Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Hanya kecupan dan ucapan “Happy birthday, Mom…” dari Neny sebelum pergi. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya, juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Tetapi tak ada dari Bang Irfan, bahkan sms. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan, atau apa pun impiannya. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi “anak idaman” orangtua. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh, cermin, dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Dia ingin menari. Dia ingin menjelma Drupadi. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. Mereka bergerak dalam diam. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak, rapi, hening, namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dan jiwa itu, mengapa hanya ada pada dirinya?

“Cobalah kau mengerti. Aku memberimu semuanya, segalanya, dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari. Itu saja. Apa susahnya?” ucap Bang Irfan, entah kapan.

“Kenapa, Bang?”

“Tidak boleh.”

“Aku hanya ingin menunjukkan keindahan….”

“Keindahan tubuhmu hanya untuk aku … karena kau istriku.”

“Kalau begitu, biar aku menari untuk Abang saja….”

“Aku enggak suka tarian…,” bisik suaminya, “… Aku lebih suka kau … enggak pakai ini…” dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. Wening beku, dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa.

Maka pembicaraan itu terkunci di situ. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian.

Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Album foto pentas terakhirnya. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan “Drupadi Mulat” sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya. Dialah Drupadi berambut panjang itu. Dialah dengan kain panjang putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya, berjalan dari pelataran GKJ, menaiki tangga, membelah kerumunan penonton yang masih di luar, memasuki pintu, membiarkan dengung gong pertama bergema, melintas perlahan di karpet merah, membiarkan berpuluh, mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum.

Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya, memberikan keheningan, menyedot seluruh pancaindera penonton, dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya, melangkah hati-hati, menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Cahaya lampu berkebit, tertiup pendingin udara.

Dalam gemulai geraknya, Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. Akulah keindahan. Akan kuajarkan kepada kalian, wahai makhluk bumi, bahwa inilah jiwa kalian. Biarkan matamu menangkapnya, namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. Jiwamu lebih halus, dan karenanya, ajaklah dia berbicara. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Izinkan dia bersamaku malam ini, maka kau akan dilimpahi cahaya.

Itulah yang menggerakkan Drupadi, menghidupkannya dalam sebuah lakon. Dan penonton memang tak bisa membedakan, manakah Wening dan manakah Drupadi. Tepuk tangan berkepanjangan, berulang, menggema. GKJ pecah, malam itu.

Tetapi, itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. Wening ingat, di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya, dia selalu lantang menjawab, “jadi penari..!” dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya.

Dan ketika diwawancara wartawan seusai “Drupadi Mulat”, Wening remaja 18 tahun itu menjawab, “Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari…” jawabnya agak polos dan kekanakan.

Wening tersenyum pahit mengenang semuanya.

Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. Wening bangkit dari tempat duduknya. Langkah yang sudah dihafalnya benar. Bang Irfan pulang. Mereka terhenti di suatu ruang, yang menciptakan jarak sepi. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup.

“Masih saja … dasar.”

Wening tercambuk, darah mengalir. Begitu kasar ucapan bang Irfan. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini.

“Abang pulang? Sudah makan, Bang?” sapanya.

Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Wening terpaku. Pintu terbanting. Pasti bisnisnya gagal.

Belum lagi Wening duduk, Irfan keluar dengan langkah besar. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. Ucapan kasar, runcing, dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. “Kapan kau mau mendengar ucapanku. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. Aku tidak suka. Aku suamimu, mengapa kau tak mau mendengar suamimu?”

“Apa salahku punya keinginan menari?”

“Itu kesalahanmu!”

“Baik…. Lakukan keinginan abang. Silakan larang aku, tapi kali ini, maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang.” Berkata demikian, Wening masuk kamar.

Suaminya terdiam, tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. Sesaat kemudian, api kemarahannya menggelegak. Diserbunya kamar Wening. Didobraknya pintu.

Pintu rusak, terbuka dengan paksa. Sunyi. Wening melepas bajunya, telanjang. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang, yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Dikenakannya kemben kain panjang putih, yang dulu dikenakannya ketika “Drupadi Mulat”. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai.

Iringan rebab menyayat malam, Wening bergerak sangat lambat. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender; mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m,0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m,0<>w 9738m

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme