Ningsih terbangun. Keringat membasahi kening dan lehernya. Napasnya turun-naik dengan cepat. Ningsih menajamkan telinganya, mendengarkan malam. Suara dengung, suara sunyi, begitu jelas. Matanya melirik jam di dinding sampingnya. Oh, ternyata sudah pukul 2 lebih 45 menit, sudah menjelang subuh.
Matanya lalu mengamati sekeliling kamar. Lampu bohlam 5 watt memberi penerangan remang-remang. Kang Aceng, suaminya, pulas di ujung kasur. Ya, karena bagian tengah kasur dikuasai oleh Si Kuneng, gadis lima tahun yang lagi lucu-lucunya. Semalam anak itu memaksa ingin tidur di tengah. Tidak mau tidur di kasur kecilnya di ujung kamar. Jadinya Kang Aceng dan Ningsih ketiduran.
”Ada apa, Ning?” Suara Kang Aceng begitu jelas meski seperti berbisik.
”Tadi, Kang, seperti ada yang mengetuk pintu depan. Assalamualaikum… katanya beberapa kali.”
”Ah, salah pendengaran mungkin.”
”Tapi begitu jelas, Kang. Sampai saya terbangun.”
”Terdengar lagi?”
Ningsih menggeleng.
”Tidur lagi aja sekitar satu jam,” kata Kang Aceng setelah menengok jam dinding.
Tapi Ningsih malah turun dari kasur. Lalu ke tengah rumah. Perlahan membuka kain gorden. Jantungnya berdegup kencang. Meski sudah ada di dalam bayangannya, tapi bila di depan terasnya ada yang berdiri, pastinya menjerit sambil lari ke kamar. Tapi di luar hanya ada gelap, tabir yang hitam pekat, kecuali bagian yang diterangi lampu bohlam di teras. Pohon mangga di pinggir jalan seperti raksasa penunggu berdiri kokoh.
”Assalamualaikum… Punten… Punntteeennn… Assalamualaikuumm….”
Begitu yang tadi terdengar. Makanya Ningsih terbangun. Tapi di luar rumah tidak ada siapa pun.
Ingatan Ningsih tersambung kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada. Katanya, jangan terkejut bila tengah malam ada yang mengucapkan salam. Mungkin itu pertanda bakal ada yang membutuhkan keperluan mayit. Emaknya malah pernah berkisah, suatu malam mendengar yang mengucapkan salam. Dilihat dari celah gorden di luar tidak ada siapa pun. Hanya setelah dilihat secara seksama, di kejauhan ada yang berjalan beriringan, sekitar lima orang, hanya terlihat bayangannya. Tidak menjadi pikiran yang mengganggu. Bapaknya juga waktu dikasih tahu hanya bilang, bukan pertanda apa pun.
Ternyata siangnya ada kecelakaan, mobil angkutan pedesaan terbakar, ada lima orang yang tidak sempat turun. Jaman itu, tahun 1980-an, angkutan pedesaan adalah colt mini yang sulit untuk turun segera. Waktu keluarganya datang membeli keperluan mayit, yang ada hanya tiga set. Dua mayit lagi tidak kebagian, terpaksa membeli ke kota.
Setelah menceritakan pengalaman itu, emaknya lalu bilang begini:
”Makanya dagang keperluan mayit jangan berhenti, Neng. Kalau bisa persediaan jangan kurang dari sepuluh set,” katanya sambil menyisir rambut Ningsih. ”Tidak apa untungnya sedikit atau malah hanya balik modal saja, karena maksudnya juga amal jariah.”
Karena wasiat orang tuanya itu Ningsih meneruskan berdagang keperluan mayit. Membelinya juga tidak terlalu banyak, paling sepuluh set sebagai persediaan, disimpan di lemari khusus. Tidak memasang plang atau spanduk di depan rumah. Tapi orang sekampung sudah pada tahu. Masalah harga tidak pernah menetap. Bila yang meninggalnya dari keluarga tidak mampu bukan lagi jual modal, kadang diterima saja berapa pun punya uangnya.
”Assalamualaikum… Punten… Punntteeennn… Assalamualaikuumm….”
Ningsih bukan main terkejutnya mendengar suara yang seperti berdengung itu. Jelas, begitu jelas suaranya. Ningsih cepat mendekati lagi kain gorden, membukanya perlahan, mengintip. Tapi tidak ada siapa pun di teras rumahnya. Lampu bohlam memang hanya sekadarnya, tapi cukup jelas menerangi sekitarnya. Waktu melihat ke kegelapan di kejauhan, Ningsih terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya bergetar. Di bawah pohon mangga, di pinggir jalan, ada yang berdiri. Tidak jelas wajahnya, tapi berdirinya jelas, seseorang memakai pakaian serba hitam. Bulu kuduk Ningsih merinding. Di kejauhan terdengar suara anjing melolong.
Ningsih bukan main terkejutnya mendengar suara yang seperti berdengung itu. Jelas, begitu jelas suaranya.
Ningsih memanggil suaminya. Tapi suara yang keluarnya tidak jelas. Jangankan terdengar ke kamar. Setelah beberapa saat baru kakinya bisa melangkah. Ningsih berlari dan menubruk suaminya.
”Kang… Kang… ada yang mengucapkan salam lagi, ada yang berdiri,” katanya seperti berbisik. Ningsih sebenarnya inginnya berteriak, tapi entah kenapa suaranya yang keluar malah berbisik.
Kang Aceng mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya, memperhatikan apa yang diucapkan Ningsih. Setelah mengerti Kang Aceng turun dari kasur.
”Siapa yang berdiri?” tanya Kang Aceng.
”Entahlah, karena wajahnya tidak jelas.”
Kang Aceng keluar kamar diikuti Ningsih. Berdua mengintip dari kain gorden yang disingkap sedikit. Di luar hanya ada tabir hitam.
”Mana?” kata Kang Aceng dengan mata masih berkeliling.
”Tadi di bawah pohon mangga.”
”Hanya penglihatan mungkin, karena takut jadi dibayang-bayang,” kata Kang Aceng sambil balik lagi ke kamar.
”Kang, sekalian saja tahajud sudah mau subuh.”
Kang Aceng melihat jam dinding, pukul tiga lebih lima menit. ”Satu jam lagi bagusnya,” gumamnya sambil masuk ke dalam kamar.
”Antar aja ke kamar mandi.” Ningsih menyusul dan membetot tangan suaminya.
”Tumben, takut keterlaluan begitu….”
Meski mengantar yang ke kamar mandi, Kang Aceng terusnya tidur lagi. Ningsih menggeleng melihatnya. Lalu dia sholat tahajud. Sedang khusyuk berdoa, khususnya mendoakan kedua orang tuanya, di luar ada yang mengucapkan salam, ditambah lagi dengan mengetuk pintu beberapa kali. Ningsih terkejut, tapi tidak seterkejut tadi. Cepat dia keluar kamar dengan masih memakai mukena. Mengintip dari kain gorden, ada dua orang yang berdiri di terasnya. Seperti Mang Karta yang seorang. Masih ada tali persaudaraan dengan Mang Karta meski jauh. Tapi bukannya Mang Karta tinggalnya di kampung lain?
Ningsih membuka pintu dengan hati yang anehnya begitu tenang.
”Néng, dipanggil dari tadi, ternyata lagi sholat,” kata Mang Karta.
”Ada apa, Mang?”
”Ingin disiapkan keperluan mayit, Neng.”
”Siapa yang meninggal, Mang?”
”Ibu Hajah Ageung,” jawab yang di sebelah Mang Karta. Ningsih tidak mengenalnya, seperti baru melihat. ”Lalu ada wasiatnya juga, Ceu.”
”Wasiat?” Ningsih berkerut kening.
”Iya, Neng. Ibu Hajah Ageung ingin dimandikan oleh Eneng,” kata Mang Karta.
”Dimandikan saya?” Ningsih terkejut. ”Di sana juga pasti banyak ahlinya, Mang. Ada keluarganya juga.”
”Iya, tapi begitu keinginanya. Beberapa bulan Wak Hajah Ageung dirawat di rumah sakit di Bandung, lalu di Jakarta, baru sehari pulang ke sini, katanya bicara kepada anak-anaknya, ingin dimandikan oleh Ceu Ningsih bila meninggal.”
”Pokoknya begitu, Neng. Sekarang, mah, siapkan keperluan mayitnya, Eneng ditunggu harus ke sana.”
”Insya Allah bakda subuh.”
Tapi setelah sholat subuh Ningsih tidak segera berdiri. Malah melamun sambil menatap sajadah. Ibu Hajah Ageung, siapa pun penduduk sekitar kampung sini pasti mengenalnya. Tokoh masyarakat yang paling kaya di Pasir Muncang. Tidak sekadar sekampung, Ibu Hajah Ageung juga terkenal sampai ke kampung-kampung yang jauh. Ningsih juga yang kampungnya berjauhan, tidak asing lagi.
Ingatan kepada Ibu Hajah Ageung bersambung dengan ingatan kepada kedua orang tuanya. Dulu saat masih ada, kedua orang tua Ningsih sering bekerja di rumah Ibu Hajah Ageung. Malah bapaknya pernah menjadi penggarap sawahnya. Lulus SMP Ningsih tidak meneruskan sekolah. Tidak ada biaya karena adik-adiknya yang empat orang pun butuh biaya makan dan sekolah. Ningsih suka ikut emaknya bila bekerja di rumah Ibu Hajah Ageung.
Suatu hari Ningsih membantu emaknya tandur di Sawah Lega. Ada belasan orang yang ikut tandur. Sedang memilih benih padi sambil bercanda dengan Teh Isah, Iroh, Ceu Mimin, waktu itu. Tiba-tiba terdengar orang marah. Suaranya keras dan pedas. Ternyata Ibu Hajah Ageung sedang memarahi bapak Ningsih. Kata bapaknya, kesalahannya waktu itu hanya tandur dimulai dari babaladon. Keinginan Ibu Hajah Ageung, babaladon jangan ditanam dulu, nanti saja dengan benih padi ketan.
Tapi yang Ningsih ingat, kata-kata Ibu Hajah Ageung membuat luka di dalam hati terdalamnya. Bukan saja kata goblok, miskin, bodoh, keluar tanpa disaring. Ningsih yang tidak meneruskan sekolah juga disabitnya. Bodoh turunan katanya makanya anaknya tidak meneruskan sekolah. Ningsih pergi dari petakan sawah, tidak meneruskan tandur. Malamnya emaknya menghibur, besoknya Ceu Mimin malah Uwak Enah juga datang menghibur. Tapi Ningsih malah semakin menangis, semakin sakit hatinya melihat dan mendengar bapaknya dimarahi sebegitu pedasnya di depan banyak orang.
Rasa sakit yang menjadi dendam itu yang kadang muncul kembali meski kedua orang tuanya sudah tiada, meski Ningsih sudah berkeluarga. Makanya waktu diantar oleh Kang Aceng ke Pasir Muncang, waktu berdoa niat memandikan mayit, Ningsih mengerti kenapa dia yang diamanati memandikan. Ibu Hajah Ageung pasti tahu sakit hati Ningsih tidak hilang sampai waktu itu. Ada pikiran untuk memandikan tidak secara sempurna. Tidak mesti dibersihkan kotoran yang belum keluar dari lubang-lubangnya, atau singkap saja auratnya biar terlihat oleh orang banyak. Tapi pikiran itu menguap begitu saja setelah melihat yang meleleh dari ujung matanya. Jelas bukan air untuk memandikan, karena keluar lagi dan lagi.
Tapi Ningsih malah semakin menangis, semakin sakit hatinya melihat dan mendengar bapaknya dimarahi sebegitu pedasnya di depan banyak orang.
Ningsih mengucapkan istigfar di dalam hatinya. Memandikan mayit kali ini begitu khusyuk, karena juga sambil melawan yang bergejolak di dalam hati. Hati yang luluh setelah melihat yang meleleh di pipi mayit. Begitu keras-kepala hidup ini bila tidak ikhlas memaafkan. Karena siapa yang tidak pernah salah selama berkelana di dunia ini?
Sambil mengusap yang meleleh di pipi mayit untuk terakhir kalinya, Ningsih merasa hatinya tenteram. Tidak mesti ditafsir apa yang meleleh di pipi mayit, pertanda apa, apa artinya, karena pengetahuan manusia hanya sedikit, apalagi mengenai sesuatu yang ghaib. @@@
Rancakalong, 14 Februari 2023/23 April 2024
Catatan:
Neng, Eneng: panggilan kepada wanita yang lebih muda
Ceu, Euceu: panggilan kepada wanita yang lebih tua
Mah: kata sambung dalam bahasa Sunda
Tandur: menanam benih padi di sawah
Babaladon: petakan sawah kecil
Yus R Ismail, menulis cerpen, novel, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Bukunya, antara lain, In The Small Hours of the Night terjemahan CW Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Dan dimuatkan dalam majalah Indonesia and The Malay World. Cerpen-cerpennya sudah banyak dipublikasikan media massa. Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, bertani bunga hias dan menulis.
sumber : kompas.id, 28 Feb 2025.