Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hotel Orang Mati oleh Kiki Sulistyo

Posted on Sab, 01 Mar 2025

Ketika Maria melihat seorang perempuan duduk sendirian di kursi panjang pinggir jalan, ia merasa pernah mengenalnya. Maria juga duduk di bangku panjang serupa, di seberang jalan, di seberang perempuan itu. Maria mengamat-amati perempuan di seberangnya seraya menebak-nebak siapakah gerangan ia. Sampai memutuskan kembali ke hotel, Maria belum bisa memastikan siapa perempuan itu.

KEPADA suaminya Maria bercerita, dan sambil mengayun-ayunkan kaki di air kolam suaminya menimpali: ”Mata kita melihat apa yang sangat ingin kita lihat. Mungkin kamu sedang merindukan seseorang. Seorang kawan lama, barangkali?”

Maria dan suaminya menghabiskan masa libur nasional yang bersambung dengan libur akhir pekan dengan mengunjungi kawasan wisata dan menginap di sebuah hotel. Tadi pagi saat Maria berjalan-jalan, suaminya masih berbaring di ranjang. Itu hari kedua liburan mereka.

Karena kata ”kawan lama” yang diucapkan suaminya, Maria menjulurkan ingatannya sampai di kejauhan. Ia memang pernah punya kawan dekat, baik di masa kanak-kanak maupun di masa remaja. Namun, ketika kehidupan melaju mereka semua tertinggal di masa lalu. Maria tak pernah bertemu lagi dengan mereka, karena itu ia merasa kawan-kawannya selamanya membeku di masa kanak-kanak atau masa remaja.

”Kegiatan merindukan hanya milik orang yang punya waktu luang. Maksudku betul-betul luang; tidak ada pekerjaan, tidak sedang liburan, bahkan tidak sedang berencana apa-apa,” jawab Maria. Ia keluar dari kolam dan duduk di samping suaminya. Saat itu dua orang tamu hotel yang baru tiba melintas di depan kolam. Satunya orang India; laki-laki berkulit gelap. Satunya lagi seorang perempuan bermata sipit dan berkulit luar biasa putih sehingga cemerlang di bawah langit sore. Mereka tampak masih remaja. Perempuan itu sepertinya dari Korea, begitu pikir Maria. Seorang staf hotel berbicara dengan tamu-tamu tersebut sambil sesekali melirik Maria.

Ponsel Maria berdering dalam kamar. Maria beranjak, lantas dari tepi kolam suami Maria dapat mendengar pembicaraan istrinya dengan seseorang. Nyatalah, panggilan telepon itu tidak diduga-duga. Kesan dari reaksi Maria menunjukkan bahwa yang meneleponnya pasti seorang kawan lama.

Malamnya, saat mereka duduk di kursi teras, suami Maria bertanya: ”Siapa yang meneleponmu tadi?”

”Oh, itu Maria, kawan lamaku.”

”Maria? Namanya sama dengan namamu?”

”Iya. Nama kami kebetulan sama.”

”Dan Maria adalah perempuan yang kamu lihat di bangku panjang tadi pagi?”

Maria diam sebentar. Sekonyong-konyong ia menyadari bahwa sebetulnya ia lupa bagaimana rupa Maria, kawan lamanya itu. Namun, ia menjawab juga: ”Bukan…”

Di mata suaminya Maria tampak ragu-ragu. ”Seperti apa rupanya Maria ini?” tanyanya. Maria kembali diam. Sekarang ia bahkan merasa bimbang adakah ia pernah punya kawan yang namanya sama dengan namanya? Maria memejamkan mata, berusaha menjangkau bagian tersembunyi dari ingatannya.

Lantas ia diserang suatu keyakinan bahwa sesungguhnya Maria sudah mati.

”Pernah ada peristiwa kebakaran di sekolahku. Entah bagaimana ceritanya, kabarnya api bersumber dari laboratorium. Sepertinya setelah itu Maria menghilang,” ujar Maria.

”Bagaimana mungkin kamu melupakan peristiwa semacam itu?”

”Peristiwa itu sudah lama. Di sekolah menengah. Tapi, kebakaran itu memang terjadi. Aku masih ingat api yang berkobar-kobar dan bangunan yang hangus jadi arang.”

”Dan Maria?”

”Nah, itu. Aku lupa apakah Maria yang menghilang setelah peristiwa itu atau anak lain. Seingatku ia ada di kelas lain, bukan di kelas yang sama denganku.”

”Kamu bikin aku pusing, Maria.”

Maria menatap suaminya sebelum berkata: ”Maria ada di kota ini, lho. Dia akan datang ke hotel ini besok pagi.”

Sekitar pukul tiga dini hari, Maria terbangun. Suatu mimpi baru saja dialaminya. Ia berada di sebuah laboratorium yang terbakar. Api menjulang dalam wujudnya yang mutlak. Di tengah kobaran api, Maria hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa. Lantas ia melihat seorang perempuan berjalan, keluar dari api. Maria memanggil-manggil perempuan itu. Entahlah, bagaimana ia bisa tahu nama perempuan itu, sedang perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh.

Ketika terjaga, Maria diserang suatu perasaan yang timbul dari mimpi itu. Suatu perasaan yang setelah dipikir-pikir tidak lain adalah perasaan sedih. Untuk menenangkan diri, Maria beranjak ke teras. Ia membuka pintu dengan hati-hati agar suaminya tidak terganggu.

Maria duduk di kursi teras. Permukaan kolam di hadapannya demikian tenang sebab mesin udaranya sudah dimatikan. Hotel itu memang menyediakan kolam kecil untuk tiap-tiap kamar. Namun, di dini hari seperti itu, kolam tersebut seakan kosong, tanpa setetes pun air. Hanya ketika Maria melihat tepi-tepinya tampaklah bahwa kolam itu memang berisi air.

Beberapa meter di seberang kamarnya, Maria melihat dua orang duduk di ayunan yang disediakan di sekitar ruang terbuka. Maria mengenali mereka: itu laki-laki India dan perempuan Korea. Laki-laki India melambaikan tangan ke arah Maria. Dengan ragu-ragu Maria membalas lambaian itu. Timbul keinginannya untuk bergabung dengan mereka. Minum bir seraya bercerita macam-macam. Namun, niat itu lenyap setelah Maria melihat mereka berpelukan dan berciuman dengan ganas.

Maria kembali ke kamar. Ia berharap suaminya terjaga. Namun, justru dirinyalah yang terlelap.

Paginya, Maria dan suaminya berenang bersama. ”Semalam aku bermimpi agak aneh…” ucap suaminya. Maria naik ke tepi kolam, menatap suaminya tanpa berkata apa-apa. ”Aku melihatmu di situ,” ujar suami Maria sambil menunjuk ke arah ayunan, lantas ia bergerak ke tepi kolam dan duduk di samping Maria. ”Aku melihatmu,” kata suami Maria nyaris berbisik, ”sedang berpelukan dan berciuman dengan cewek Korea itu.” Suami Maria terbahak-bahak oleh kata-katanya sendiri. ”Maksudmu, perempuan yang datang bersama laki-laki India?” tanya Maria keheranan. Suaminya terus terbahak-bahak.

Saat itu seorang perempuan sekonyong-konyong muncul dari jalan di depan kamar. Perempuan itu melihat seseorang duduk di tepi kolam, lantas berseru: ”Maria!”

Maria terperanjat, sontak bangkit dan menghambur ke arah perempuan itu. Mereka berpelukan cukup lama. Kepada suami Maria, perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Maria. ”Kebetulan nama kami sama,” ujarnya. Ia mengaku sudah beberapa hari berada di kawasan wisata itu. Maria, meskipun menyambut dengan baik, sesungguhnya masih berusaha mengingat-ingat siapa sesungguhnya tamunya itu.

”Sepertinya aku melihatmu beberapa hari lalu, di bangku panjang pinggir jalan dekat pasar rakyat,” kata sang tamu sambil mengamat-amati Maria. Orang yang diajak bicara diam saja. Saat itu mereka duduk berdua di kursi teras. Suami Maria membiarkan keduanya menghadapi saat-saat pertemuan dan pengingatan tersebut. Maria masih berusaha mengingat-ingat siapa tamunya itu; usahanya sedemikian keras hingga kepalanya terasa panas dan ia merasa tak lagi berada di beranda hotel, melainkan di sebuah laboratorium yang terbakar.

Saat ruang dan waktu kembali hadir sebagai sesuatu yang kini dan di sini, Maria seperti tidak sengaja melihat suaminya duduk di ayunan sambil berbincang-bincang dengan laki-laki India itu. Sementara perempuan Korea duduk di rumput. Tanpa sadar Maria melambaikan tangannya, dan perempuan Korea itu membalas lambaiannya.

Sang tamu, yang melihat Maria melambai, bertanya: ”Kamu melambai kepada siapa?”

”Oh, itu tamu hotel ini. Orang Korea.”

Maria ingat ketika ia menunggu resepsionis mengurus kesiapan kamar untuknya, ia sempat membaca koran ibu kota edisi akhir pekan. Koran itu sudah usang, terbit kira-kira tiga tahun sebelumnya. Entah kenapa koran itu masih ada di sana. Maria sempat membaca berita perihal kasus kebakaran di sebuah sekolah menengah beberapa waktu sebelumnya. Saat kebakaran terjadi, sekolah itu sedang menerima kunjungan belajar dari para siswa asal India dan Korea. Kasus itu mengundang munculnya berbagai teori konspirasi. Namun, bukan kasus itu benar yang diingat Maria, melainkan sebuah cerita pendek yang terbit di koran yang sama. Cerita pendek itu tak dapat sungguh-sungguh dipahaminya, tapi Maria terpesona membaca kalimat pembukanya:

”Orang yang sudah mati akan tetap hidup dalam ingatan orang yang masih hidup. Sampai kemudian ingatan tentang orang yang sudah mati itu pelan-pelan mengabur, dan ketika ingatan itu benar-benar hilang, orang yang sudah mati akan hidup kembali sebagaimana ia hidup sebelum ia mati.”

”Tidak ada siapa-siapa di sana, Maria.” Maria berucap pelan.

Dari seberang kamar, dari balik tanaman dekat ayunan, staf hotel mengamat-amati Maria. Sudah lama hotel itu tidak dikunjungi tamu, bahkan pemilik hotel sudah berencana menutupnya. Maka, ketika tiga hari lalu ada seorang perempuan berniat menginap di sana, ia merasa heran. Dan rasa herannya itu bertambah-tambah saat ia memperhatikan bahwa tamunya itu selalu berbicara dengan seseorang seakan-akan memang ada orang lain yang sedang bersamanya. (*)

KIKI SULISTYO : Lahir di Ampenan, Lombok. Ia telah meraih beberapa penghargaan. Kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Musik Akhir Zaman (Indonesia Tera, 2024).

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 1 Maret 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme