Cerpen : Teror oleh Putu Wijaya
AKU cabut dari kantor dengan kepala terbakar. Tak ada yang berani menegurku meskipun aku sudah ngacir 2 jam sebelum jam tutup kantor. Mereka tahu aku marah. Kecewa. Frustrasi. Keki. Dalam rapat dadakan, karena majalah kami ditegur penguasa akibat kebablasan satu kata yang dianggap melanggar SARA. Pimpinan menegurku sadis dalam rapat konsolidasi dadakan bersama semua karyawan. … Baca Selengkapnya