Cerpen : Teror oleh Putu Wijaya

 AKU cabut dari kantor dengan kepala terbakar. Tak ada yang berani menegurku meskipun aku sudah ngacir 2 jam sebelum jam tutup kantor. Mereka tahu aku marah. Kecewa. Frustrasi. Keki. Dalam rapat dadakan, karena majalah kami ditegur penguasa akibat kebablasan satu kata yang dianggap melanggar SARA. Pimpinan menegurku sadis dalam rapat konsolidasi dadakan bersama semua karyawan. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Setelah Kematian Romo Simon oleh Safry Dosom

SETELAH menemukan jenazah Romo Simon di dekat gerbang menuju hutan Poco Leok itu, semua warga kampung L serentak membisu. Setiap orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, terus dihantui oleh rasa takut. Mereka tidak mampu lagi menjelaskan semua peristiwa itu. Romo Simon yang berjuang bersama mereka beberapa hari yang lalu kini hanya tinggal kenangan. Ia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aroma Penyair Mahzan oleh Helvy Tiana Rosa

DI kaki Bukit Seulawah, tinggal seorang penyair tua bernama Mahzan. Rumahnya panggung berlumut, dikelilingi rumpun nilam, dan ilalang yang meninggi. Ia telah lama berhenti menulis di koran, menolak undangan baca puisi, dan menjauh dari ingar bingar dunia sastra. Mahzan sering duduk di serambi rumahnya, menjemur dan mencium dedaunan nilam. Ia percaya bahwa dalam setiap hela … Baca Selengkapnya

Cerpen : Imigran Gelap oleh Vito Prasetyo

PENERBANGAN dari Moskow hari ini harus ditunda. Cuaca sangat buruk di Bandara Domodedovo Mikhail Lomonosov. Badai angin disertai gumpalan hujan lebat menutupi jarak pandang. Semua maskapai penerbangan tidak berani mengambil risiko. Di lobi dan ruang tunggu, hampir semua orang memilih duduk dan berdiam diri. Tidak ada yang mampu mengubah kondisi, selain pasrah dan menunggu kondisi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Daun oleh Yuditeha

STASIUN kecil itu hampir tenggelam oleh senja. Cahaya jingga memantul pada besi tua yang menghitam, membentuk bayangan panjang dari kursi-kursi semen yang terkelupas. Beberapa orang berdiri di ujung peron, menunggu kereta seperti menunggu alasan yang tepat setiap kali tak bisa kembali. Di antara mereka, seorang perempuan dengan mantel hijau lumut duduk sambil memeluk tas jinjing … Baca Selengkapnya

Cerpen : Requiem di Kirov oleh Baron Yudo Negoro

AKU tidak mengenal Nureyev. Tapi saat ia tampil bersama Royal Ballet Inggris, kabar itu mengingatkanku pada Kateryna Melnyk, apalagi pagi tadi aku menyusuri belakang panggung Teater Kirov, bangunan batu di Leningrad yang selalu lembap bahkan saat musim panas. Ia mengarah ke ruang tanpa jendela, studio latihan di sayap timur. Di situlah aku sering melihat Kateryna … Baca Selengkapnya

Cerpen : Budi Anarko oleh Kurnia Gusti Sawiji

DIA tahu bahwasanya pertarungan adalah bayangan yang bertaut di dalam setiap langkah dan gerak-gerik peradaban manusia. Dia juga tahu bahwa nama adalah rantai-rantai yang mengikat umat manusia dengan bayangan-bayangan mereka. Maka dari itu, seyogianya mereka yang terlahir tanpa nama, tetapi menerima adanya nama disematkan ke atas mereka adalah seumpama mengikat diri dengan rantai-rantai. Nama “Anarko” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Penghulu Abal-abal oleh Novia Syahidah Rais

NAMANYA Najib. Usianya empat puluh lima tahun. Tubuhnya kurus, rambut tersisir rapi, dan wajahnya tenang dengan senyum ramah yang senantiasa menghias bibirnya. Ia bukan tokoh penting di masyarakat, tapi Najib memiliki profesi rahasia yang tidak diketahui tetangga bahkan istrinya, yaitu sebagai penghulu nikah. Tepatnya nikah siri. Tentu saja bukan penghulu resmi sebagaimana petugas KUA, bukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumi Tidak Menjawab oleh Muhammad Aswar

KONYA, musim semi yang tak seperti biasanya. Bunga almond mekar sebelum waktunya, dan para peziarah datang lebih awal, mungkin karena mereka lelah menunggu perdamaian yang tak kunjung tiba di tempat-tempat yang bahkan tak mereka pahami. Di antara peziarah itu, ada seorang lelaki bernama Taha, umur empat puluh dua, jurnalis lepas dari Amman, Yordania. Ia tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Siklops oleh Kiki Sulistyo

PENYIAR sedang membahas Wallace Chambers—dalam acara peringatan hari independen—ketika suara radio tiba-tiba padam. Azzam yang duduk berayun-ayun di kursi goyang membuka mata. Ia menengok ke arah radio, lalu ke arah Habsyi yang tidur telungkup di lantai. Saat petugas dari kantor pusat datang tiga bulan sebelumnya untuk mengantar kebutuhan, Habsyi luput memberi tahu bahwa mereka membutuhkan … Baca Selengkapnya