Cerpen : Sebuah Janji di Bumi Lorosae oleh Ni Wayan Wijayanti

“Nona, aku lama mencarimu untuk meminta maaf. Tapi tak pernah aku temukan kamu, bahkan jika itu hanya dalam bayangan.” Semburat warna jingga menghujani langit. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, memeluk pertiwi di ufuk barat sana, tempat peraduannya. Matahari selalu setia untuk terbenam sejenak, sebelum akhirnya ia kembali terbit. Matahari itu begitu setia, tidak seperti janjiku … Baca Selengkapnya

Cerpen : Siwa Nataraja oleh Ni Wayan Wijayanti

Perempuan di hadapanku terdiam. Tatapannya seolah memohon ampun. Namun hatiku sudah terlalu mengeras, bahkan sekadar hanya untuk meliriknya dengan sudut mata. Menurutku, dia sudah lama mati. Bahkan bayangannya saja sudah terkubur dalam, bersama setiap jengkal tapakan kaki, saat aku menarikan Siwa Nataraja. *** Tepat beberapa puluh tahun sebelum hari ini, aku yang hanya seorang anak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Giri Tohlangkir oleh Ni Wayan Wijayanti

”Gunung takkan pernah membunuh. Ia justru menghidupi.” Bapak kerap berucap demikian, setiap kali gemuruh itu muncul dan membuatku khawatir. Mataku masih awas mengamati gumpalan awan-awan hitam yang semakin lama semakin banyak berkumpul di puncaknya. Puncak Hyang Giri Tohlangkir, gunung tertinggi yang dimiliki pulau ini. ”Puncak gunung itu dibawa Batara Siwa dari Jambu Dwipa yang jauh … Baca Selengkapnya

Cerpen : Buaian Rahim Patriarki oleh Ni Wayan Wijayanti

”Kembalikan saja jasadku kepada ibu. Ibu Pertiwi. Biarkan angin membawa nafasku kepada bapak. Angkasa yang perkasa. Leburkan jiwaku bersama saudara empat, Catur Sanak. Lalu tinggalkan saja bekasnya, dalam lautan panas ether.” Kau takkan merasa sedih bukan? Karena tugasku untuk mengantarmu ke pelaminan sudah selesai beberapa tahun silam. Kau, anak perempuanku satu-satunya. Tumbuh dewasa dalam keterpaksaan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kharma Phala oleh Ni Wayan Wijayanti

”Jika Wayan masih miskin, bakar saja mayat bapak tanpa singa. Tidak usah repotkan hal itu.” Begitu laki-laki yang kupanggil bapak berkata dengan santainya. Tentu saja dia terlihat sangat tenang, bagaimana pun sebentar lagi memang benar dia akan pergi. ”Singa itu adalah kendaraan yang menghantarkan roh ke surga. Jika tanpa kendaraan penuntunnya roh akan tersesat dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Leak Bukal oleh Ni Wayan Wijayanti

Matahari belum sepenuhnya terbit. Cahayanya menyembul malu-malu dari bilik peraduan. Burung-burung terlalu enggan menyaringkan bunyi, dan ayam jago pun tampaknya masih pulas menelungkup paruh. Namun, sudah terlihat Dadong Ririg terbangun, keluar gubuknya dan mulai mencangkul tanah di belakang gubuk, berteman cahaya petromaks. Dadong Ririg memang selalu bangun terlampau pagi. Mungkin faktor usia menyebabkan matanya sudah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nyentana oleh Ni Wayan Wijayanti

Gerimis kecil sudah reda sejam yang lalu, tapi di Sabtu pagi itu Ratih tetap berdiam di mes yang disediakan kantor tempatnya bekerja sendirian. Padahal, teman-teman mesnya yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing sejak kemarin sore. Ratih tetap mematung, sebenarnya dia rindu sekali pulang ke desa. Rindu bertemu bapak yang telah menua, yang telah … Baca Selengkapnya