Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Nyentana oleh Ni Wayan Wijayanti

Posted on Kam, 28 Okt 2021

Gerimis kecil sudah reda sejam yang lalu, tapi di Sabtu pagi itu Ratih tetap berdiam di mes yang disediakan kantor tempatnya bekerja sendirian. Padahal, teman-teman mesnya yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing sejak kemarin sore.

Ratih tetap mematung, sebenarnya dia rindu sekali pulang ke desa. Rindu bertemu bapak yang telah menua, yang telah pensiun lima tahun lalu. Akan tetapi, niat itu selalu dia urungkan.

”Pulanglah nak…. Bapak ingin mengajakmu sembahyang ke Tirta Empul!” suara bapak terdengar di seberang telepon. Ratih mengangguk mengiyakan. Sudah berkali-kali dia menolak ajakan bapak untuk pergi ke Pura Tirta Empul. Pura dengan mata airnya yang sejuk, dikelilingi lembah dengan sungai suci Pakerisan mengalir di bawahnya. Sudah berkali-kali pula dia menolak untuk pulang. Namun, kali ini terdengar jelas suara bapak memohon.

Hatinya luluh. Dia segera melangkah ke parkiran mes dengan membawa beberapa helai pakaian untuk pulang. Jarak mes yang disediakan kantornya dengan desa tempat tinggal bapak hanya ditempuh sekitar satu jam mengendarai motor, memang tidak terlalu jauh. Namun, dia lebih baik memilih tinggal di mes daripada di rumah bersama bapak.

Lagi pula dia tidak betah tinggal di rumah semenjak kepergian ibu. Rumah terasa kosong bagai neraka yang sunyi, hanya menyisakan pertengkaran demi pertengkaran tak berujung antara dirinya dan bapak.

”Ratih, bapak hanya punya kamu…,” suara bapak terngiang kembali di ingatannya meski sudah berusaha dia tepis.

”Tapi aku tidak mau putus dengan Widi, Pak. Aku tidak suka laki-laki yang bapak jodohkan!” sahut Ratih waktu itu dengan nada tegas.

”Tapi pacar kamu itu, tidak bisa nyentana! Siapa yang nanti melanjutkan garis keturunan bapak?! Ke mana nanti atma bapak harus bergantung?! Tidak juga kamu pikirkan mendiang ibumu hanya demi cintamu pada dia?” bapak setengah berteriak.

”Ratih kira Bapak akan ikut bahagia jika Ratih bahagia!” Nada Ratih meninggi, napasnya sesak membayangkan harus memutuskan hubungan dengan laki-laki yang dia cintai.

Tapi pacar kamu itu, tidak bisa nyentana! Siapa yang nanti melanjutkan garis keturunan bapak? Ke mana nanti atma bapak harus bergantung? Tidak juga kamu pikirkan mendiang ibumu hanya demi cintamu pada dia!

”Kamu tidak akan bahagia jika kamu tinggalkan laluhurmu. Ingat tanggung jawabmu adalah untuk mengabdi kepada leluhur di keluarga ini, tidak bisa kamu tinggalkan begitu saja! Ratih, bapak hanya punya kamu…,” sahut bapak.

”Bukan mau Ratih dilahirkan. Bukan mau Ratih dilahirkan menjadi anak bapak dan menanggung semua ini! Ratih hanya ingin bahagia dengan pilihan Ratih…. Seumur hidup terlalu lama bagi Ratih untuk hidup dengan laki-laki yang tidak Ratih cintai…. Ratih mohon Pak….” Mata Ratih berkaca-kaca, sebentar saja rasanya tangisnya akan pecah.

”Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, kepada siapa saja…,” ujar Bapak dengan nada tajam.

Ratih menggigit bibir, percuma dia teruskan pertengkaran ini, tidak akan pernah ada penyelesaiannya. Dengan mata nanar dipandangnya langit berharap ada yang memeluknya dari atas sana. Menghilangkan segala kegundahan yang dia rasakan. Namun, tak ada seorang pun datang untuk memahami, bahkan sampai air matanya terkeringkan sendiri oleh angin.

Dalam tradisi Bali yang menganut budaya patriarki, mengharuskan perempuan yang menikah, untuk ikut garis keturunan suami. Meninggalkan rumah, kasta, ataupun warisan mereka demi masuk ke rumah keluarga laki-laki dan ikut kasta keluarga laki-laki sehingga akan menjadi sangat berat, jika suatu saat sebuah keluarga hanya mempunyai anak perempuan karena itu artinya anak-anak perempuan itu harus menikah keluar. Jika hal itu terjadi, keluarga tersebut dianggap buntung tanpa memiliki penerus garis keturunan.

Hal ini seolah mengesankan bahwa kewajiban perempuan Bali adalah melahirkan anak laki-laki! Perempuan Bali akan disalahkan dan dianggap gagal jika hanya mampu melahirkan anak perempuan. Termasuk apa yang terjadi pada mendiang ibu Ratih dulu, yang hanya bisa memberi seorang anak perempuan kepada keluarga suaminya.

Namun, ada beberapa daerah yang menerapkan sistem perkawinan nyentana, yaitu laki-laki masuk ke rumah sang istri, melanjutkan garis keturunan dari keluarga istri. Dalam sistem perkawinan nyentana ini, status laki-laki dianggap selayaknya perempuan, begitu pun sebaliknya.

Dalam budaya patriarki di mana derajat laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, menikah dengan sistem nyentana ini masih dianggap hina dan sulit diterima masyarakat sehingga jarang para orangtua mengizinkan anak laki-lakinya nyentana sekalipun mereka mempunyai anak laki-laki lebih dari satu.

Tidak banyak dari para perempuan Bali terlahir tanpa saudara laki-laki, yang beruntung mendapatkan kekasih yang dengan kerelaan hatinya bersedia nyentana seperti apa yang para perempuan ini harapkan.

Para perempuan yang tidak beruntung ini biasanya harus dihadapkan pada dua pilihan: putus dengan kekasih yang mereka cintai dan menerima perjodohan dengan siapa saja laki-laki pilihan orangtua yang bersedia nyentana, atau mempertahankan hubungan dengan sang kekasih yang kemudian berujung harus meninggalkan orangtua berikut segala yang mereka miliki.

Apa pun di antara kedua pilihan tersebut bagi mereka yang diharuskan memilih, terasa seperti menggenggam mata pisau belati dengan erat di kedua tangan, akan terasa sama-sama perih, akan terasa sama-sama berdarah. Sungguh, budaya patriarki ini hanya tentang pengorbanan perasaan perempuan.

Denting genta berirama dengan lantunan doa dalam kepulan asap dupa yang syahdu di pura Tirta Empul, tak dapat meredakan kebimbangan yang Ratih rasakan. Ratih berlari meninggalkan bapaknya yang sedang dengan kusyuk berdoa, menuju lembah yang di bawahnya di mana mengalir sungai Pakerisan tidak jauh dari pura. Menenangkan segala pikirannya yang berkecamuk semakin tidak karuan.

Dia begitu mencintai Widi, kekasih yang dia kenal semenjak menginjak bangku pertama di perkuliahan hingga kini hubungan keduanya telah menginjak usia tujuh tahun dan masing-masing dari mereka sudah bekerja.

Di matanya, Widi adalah sosok laki-laki sempurna. Dia baik, pekerja keras, dan yang terpenting Widi memperlakukan Ratih dengan tulus. Hari-hari mereka berjalan dengan sangat indah, hingga suatu hari Widi berkata ”Maaf… aku tidak bisa nyentana… Orangtuaku tidak memberi restu.”

Ratih tercekat tidak bisa berkata apa-apa, hanya saja air matanya yang mengenang sudah lebih dari cukup untuk mengisyaratkan betapa hancur hatinya. Widi hanya bisa memeluknya erat dalam tangis diam. ”Aku sayang kamu…,” hanya itu yang keluar dari bibir Ratih kala itu.

”Hyang Widhi, sebetulnya tiyang lelah … sudah berkali-kali tiyang mencintai laki-laki baik, tetapi harus tiyang lepaskan. Jatuh cinta bagi tiyang tidaklah mudah, berhenti mencintai orang yang tiyang sayangi pun demikian sulitnya… Sungguh tiyang tidak bisa memilih. Kedua-duanya berat bagi tiyang, tanpa tahu ujungnya harus kemana….” Ratih terisak dalam pengaduannya kepada Sang Sunyi.

”Tidakkah semua cukup sampai di sini? Maafkan jika tiyang harus melangkah seperti ini… Jika seandainya benar ada kesempatan hidup sekali lagi, alangkah senang jika tiyang dapat bahagia. Seperti kupu-kupu yang meski hidupnya singkat, tetapi dia bebas menggapai langit…. Tidak terkurung seperti jiwa yang ada disini…”.

Air mata Ratih jatuh. Kali ini dia tidak sendirian, gemericik sungai Pakerisan yang deras seakan menyahutkan segala pengaduannya untuk datang.

Bagaimanapun yang dia pilih, sungai tetap akan bermuara ke samudra yang tak terbatas, yang mampu membersihkan segala dosa. Seolah mampu memberikan kebebasan pada jiwa-jiwa mereka yang terikat untuk tenggelam dalam keperkasaannya, oh Baruna!

Ratih tersenyum menengadah ke langit, hati kecilnya memohon pengampunan.

Dari kejauhan tampak kepulan asap dupa, menangkap lantun suara doa mengiringi dentingan genta. Dia pun menjatuhkan diri kepangkuan pertiwi, menghirup napas sejenak untuk merasakan kebebasan yang utuh. Hingga akhirnya semua berakhir dalam riak sungai Pakerisan yang bertemu batu padas, ikut bermuara menuju Sang Baruna yang tiada batas.

Terdengar teriakan Bapak yang memanggil namanya berulang kali. Namun, semua itu, telah terlambat. ”Ratih, Bapak hanya punya kamu…”.

Ubud, 15 September 2021

Nyentana: Tradisi meminta lelaki menjadi pewaris di pihak perempuan.

Atma: Roh atau jiwa.

Tiyang: saya

***

Penulis

Ni Wayan Wijayanti, lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April 1994. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Saat ini aktif sebagai Online Sales and Marketing disalah satu penginapan yang berlokasi di wilayah Ubud-Bali.

sumber : kompas.id, 28 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme