Cerpen : Tutur Wani oleh Putu Oka Sukanta
Mbak Narti berulang tahun yang ke-75, dan saya datang ke rumahnya. Setelah mencium pipinya kanan kiri, ia menyeret tangan saya. ”Sampeyan harus berkenalan dengan keponakan baru, Wani.” Kemudian Wani yang duduk di kursi sambil mengunyah kerupuk berdiri dan mengulurkan tangannya. ”Betha.” Suaranya tidak mulus karena masih ada sisa kerupuk di mulutnya. Ia berdiri menatap saya. … Baca Selengkapnya