Cerpen : Tutur Wani oleh Putu Oka Sukanta

Mbak Narti berulang tahun yang ke-75, dan saya datang ke rumahnya. Setelah mencium pipinya kanan kiri, ia menyeret tangan saya. ”Sampeyan harus berkenalan dengan keponakan baru, Wani.” Kemudian Wani yang duduk di kursi sambil mengunyah kerupuk berdiri dan mengulurkan tangannya. ”Betha.” Suaranya tidak mulus karena masih ada sisa kerupuk di mulutnya. Ia berdiri menatap saya. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mbak Mar oleh Putu Oka Sukanta

Mbak Mar, begitulah kami sekeluarga memanggilnya. Saya dan istri jauh lebih tua, sedangkan anak-anak jauh lebih muda. Tetapi tetap, ”Mbak Mar”, begitulah kami memanggil Marisantun. Nama Marisantun yang diberikan oleh ibu bapaknya, adalah sebuah ajakan untuk bersantun terhadap sesama, baik tua maupun muda, laki maupun perempuan, ya kaya ya miskin. Tetangga saya, jarang yang memanggil … Baca Selengkapnya

Cerpen : Surat Undangan oleh Putu Oka Sukanta

Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. Istriku yang menyambutnya. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. Kudengar juga suara istriku mengatakan, ya aku ada di rumah. Dan suara berikutnya, istriku menyilakan tamu tersebut duduk, sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. Aku pun keluar kamar. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan … Baca Selengkapnya