Cerpen : Malam di Luar Hujan oleh Sungging Raga

Malam di luar hujan. Wanita itu berpesan agar kematiannya dirahasiakan. Sungguh permintaan yang membuatku takjub. Bagaimana mungkin seseorang meminta agar sebuah kejadian penting dalam hidupnya, dirahasiakan dari siapapun? ”Jangan menolongku, dan jangan beritahu siapapun. Biarkan tubuhku membusuk di sini,” ucapnya ketika napasnya telah tersengal, dan tak lama kemudian tubuhnya benar-benar tak bergerak lagi… Baik. Kita … Baca Selengkapnya

Cerpen : Si Pengarang Muda oleh Sungging Raga

Alkisah, di sebuah negara yang menolak berkembang, hiduplah seorang pengarang muda yang nyaris putus asa disebabkan selama bertahun-tahun tidak satu pun cerita pendeknya dimuat di surat kabar. Padahal, ia sudah mengerahkan segala upaya, baik itu dengan ikut kelompok-kelompok kepenulisan, lokakarya, hingga menyapa dan berusaha akrab dengan redaktur, tetapi semuanya gagal. Sampai akhirnya ia pun pergi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus… oleh Sungging Raga

  ”Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.” Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih … Baca Selengkapnya

Cerpen : Biografi Kunang-kunang oleh Sungging Raga

  Pada malam hari, ibumu akan menjadi kunang-kunang, terbang ke hamparan bunga-bunga, ke sepanjang jalan, menelusuri remang cahaya, hinggap di daun-daun, berteduh dari embun, lalu terbang lagi, ke atap rumah, ke tiang listrik, ke bawah jembatan. Ibumu menjadi kunang-kunang sepanjang malam, mencari kamu yang sudah lama hilang. ”Di mana kamu, anakku? Di mana?” Nyala di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lempuyangan: Seraut Kenangan oleh Sungging Raga

  Sinyal masuk stasiun dibuka. Kereta kujalankan kembali dengan kecepatan rendah. Tampak Stasiun Lempuyangan detik demi detik semakin membesar, mendekat. Orang-orang sudah berbaris di jalur dua. Kecepatan kereta berangsur-angsur kuturunkan selepas melewati perlintasan di bawah jembatan layang yang penuh mural di setiap sisi penyangganya. Kereta mulai memasuki area stasiun, tepatnya di jalur dua. Aku mengerem … Baca Selengkapnya

Cerpen : Seekor Anjing Manis oleh Sungging Raga

Manisha nyaris terlambat sekolah. Ia bangun kesiangan karena semalam menonton televisi sampai larut, sampai-sampai justru televisi itu yang menonton dirinya terlelap di sofa ruang tamu. Mungkin acara televisi itu terbawa hingga ke dalam mimpinya, bahkan mungkin saja dalam mimpi itu Manisha kembali menonton televisi, lantas tertidur lagi, maka ia pun akan bermimpi di dalam mimpi. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sebuah Rencana Hujan oleh Sungging Raga

  Hujan turun begitu lebat. Nalea belum bisa pulang. Ia berteduh di sebuah pos ronda tua, sepatunya sudah basah lebih dulu akibat berlarian di jalan tadi, ia membuka sepatunya lalu meletakkannya di bawah sebuah meja yang ada di situ. Bajunya juga basah, rambutnya, pipinya, sampai bulu alisnya yang meneteskan air. Gadis kecil itu sebenarnya tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Senja di Taman Ewood oleh Sungging Raga

SATU Akan selalu ada wanita-wanita yang menangis kala menikmati senja di taman ini. Dan mereka tak butuh alasan untuk melakukannya, menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman Ewood, di sudut kota Blackburn. Waktu-waktu berjalan, malam, pagi, siang, sore, dan tentu saja, senja. Aku juga … Baca Selengkapnya