Cerpen : Merebut Tanah oleh Supartika

Belum genap setengah hari setelah putusan itu. Putusan pengadilan yang menyatakan: tanah yang selama ini dikuasai adat, kini sah jadi milik Sudarma. Puluhan orang dengan beringas dan penuh amarah datang menyambangi rumah Sudarma. Potongan kayu, linggis, sabit, batu, bata, dan bensin dalam plastik tergenggam di tangan mereka. Wajah-wajah mereka memerah, penuh amarah dengan sorot mata … Baca Selengkapnya

Cerpen : Merebut Tanah oleh Supartika

BELUM genap setengah hari setelah putusan itu. Putusan pengadilan yang menyatakan: tanah yang selama ini dikuasai adat, kini sah jadi milik Sudarma. Puluhan orang dengan beringas dan penuh amarah datang menyambangi rumah Sudarma. Potongan kayu, linggis, sabit, batu, bata, dan bensin dalam plastik tergenggam di tangan mereka. Wajah-wajah mereka memerah, penuh amarah dengan sorot mata … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ridwan Merebut Dunianya oleh Supartika

Ketakutan terbesar Ridwan dalam hidupnya adalah menjadi buta. Ia selalu membayangkan kebutaan sebagai sesuatu yang menyiksa dan menakutkan. Semua yang dimiliki, semua yang diinginkan akan hilang dan tak berguna lagi. Hanya hitam, hitam dan hitam, yang baginya merupakan sebuah kematian dalam hidup. Ketakutan ini mulai menjalari dirinya ketika merasakan penglihatannya semakin hari semakin kabur dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumah yang Selalu Berbau Busuk oleh Supartika

Kini kami harus menanami pekarang dengan aneka bunga yang berbau harum. Ada mawar, cempaka, sandat, dan bunga harum lainnya. Berbagai jenis bibit mawar kami tanam dan kami memutuskan membabat semua tanaman yang tak berbau harum. Di depan kamarku misalnya, aku meletakkan dua pot bunga berisi mawar merah dan putih untuk mengganti dua tanaman sente yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Brewok oleh Supartika

Aku, kau, dan kita semua mengenalnya dengan nama Brewok. Namun aku, kau dan kita semua sudah hampir melupakan nama sebenarnya, Wayan Tagel. Dan jika ada seseorang yang menyebut nama Brewok, maka akan terkenang masa lalu yang pedih, yang sakit, yang cukup membuat bulu kuduk merinding meskipun di siang bolong. Aku, kau, dan kita semua lebih … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dolag Melukis Tuhan oleh Supartika

Si tua bangka Dolag menaruh kanvas lukis berukuran 90 x 50 sentimeter di atas potongan kayu yang disandarkannya pada tembok. Ia pandangi kanvas itu sebelum akhirnya menyeringai, memperlihatkan giginya yang ompong di bagian depan dan sisanya berwarna kuning kehitaman. Kumisnya yang memutih sedikit terangkat, maklum kini ia telah memasuki usia kepala tujuh. Dolag beranjak ke … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepotong Tulang dengan Daging Kering yang Menempel di Sisinya oleh Supartika

Kau tahu? Waktu itu, anak itu masih sangat kecil. Belum bisa bilang mama-papa, dan seharusnya baru bisa bilang ”abaabaaba” walaupun sepanjang aku di sana ia tak pernah mengeluarkan suara atau lebih tepatnya suaranya tak mau keluar. Jika kau berada di sana waktu itu, maka kau akan menemukan ia yang kurus kering dan mengap-mengap di pangkuan … Baca Selengkapnya