Cerpen : Sore Ketika Angin Laut Utara Memanggil oleh Annisa Moezha

Muzayyin adalah satu dari sedikit pemuda yang tersisa di kampung pesisir ini. Ia dikenal dengan suara azannya yang merdu serta kepiawaiannya dalam melantunkan puji-pujian yang menggema dari menara masjid. Ia bukan sekadar muazin; ia adalah penjaga waktu—pengingat bahwa kehidupan terus berjalan di tengah sunyi dan riuhnya laut utara dalam mengarak kesepian bagi penduduk kampung pesisir. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Selama Ibu Masih Bersenandung oleh Annisa Moezha

Dari balik jendela, Ruminah melihat puluhan orang memenuhi jalanan, berteriak-teriak dengan wajah penuh amarah. Beberapa menyulut api pada tumpukan ban bekas yang berserakan, serapah dan ancaman bergema di udara. Di kejauhan, api merambati rumah-rumah pertokoan dan swalayan seberang jalan. TIBA-tiba terdengar suara pintu dipukul kasar. Bayangan hitam di luar memaksa masuk. Ibu dan Ruminah bertatapan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Anak-anak yang Lahir dari Kepala Manusia oleh Annisa Moezha

SEBUAH kalimat menenangkan pernah dilontarkan Pram pada suatu malam selepas kami bercinta, katanya, mereka—pasangan pada umumnya, bercinta untuk menunggu bayi-bayinya lahir lalu tumbuh, lalu mati. Selesai. Sementara, tujuan kami bercinta untuk menciptakan anak-anak dalam pikiran; upaya untuk melahirkan kemanusiaan yang akan terus hidup, tak akan usai. Oleh karenanya, saat Tuhan belum juga memberi kami momongan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cara Kerja Kerumunan oleh Annisa Moezha

WAWAN membenarkan posisi kacamata tuanya berkali-kali dengan tangan kirinya, memastikan letaknya tak akan merosot dari punggung hidungnya yang ramping. Sementara tangan kanannya memegangi handphone (hp) milik Wati, anaknya. Matanya nampak menyipit berusaha mempertajam penglihatan. Susah payah ia menatap layar cerah dari hp di genggamannya untuk melihat berkas surat yang sejak tadi ditampilkan di sana.   … Baca Selengkapnya