Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selama Ibu Masih Bersenandung oleh Annisa Moezha

Posted on Ming, 22 Des 2024

Dari balik jendela, Ruminah melihat puluhan orang memenuhi jalanan, berteriak-teriak dengan wajah penuh amarah. Beberapa menyulut api pada tumpukan ban bekas yang berserakan, serapah dan ancaman bergema di udara. Di kejauhan, api merambati rumah-rumah pertokoan dan swalayan seberang jalan.

TIBA-tiba terdengar suara pintu dipukul kasar. Bayangan hitam di luar memaksa masuk. Ibu dan Ruminah bertatapan dengan muka pasrah. Kengerian menjalar di tubuh keduanya.

”Bu, mereka datang,” bisik Ruminah, tercekat. Kedua tangannya menekan pintu, sekuat tenaga menahan dorongan dari luar.

”Buka pintunya!!’’ suara laki-laki memaksa. Teriakan itu mengguncang gagang pintu yang nyaris tercabut. Kaca jendela bergetar saat tangan-tangan liar mengetuk keras. Dua bayangan berkelebat di balik jendela.

”Cepat buka atau kami dobrak warung ini!!’’ suara lain berteriak. Di luar, bunyi gaduh kian menggelegar.

Di pelukan Ibu, kau meringkuk memeluk botol susu kesayanganmu dengan sisa isak tangis. Kau mencium napas Ibu yang tak beraturan, dadanya naik turun menyembunyikan ketakutan.

Dengan segenap keberanian, Ibu menghampiri Ruminah yang susah payah menahan pintu. ”Biar saya hadapi mereka, Rum.” Ibu memberi aba-aba agar Ruminah bergeser.

Sedetik kemudian, Ruminah meraih tubuhmu dalam gendongannya. Ibu menyiapkan nyali menghadapi orang-orang beringas yang menunggu mangsanya keluar.

Ibu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Dua lelaki berdiri di hadapannya, wajahnya sangar, tatap matanya liar. Salah satu membawa balok kayu panjang, sementara lainnya memegang karung besar yang setengahnya telah terisi.

”Mau apa kalian?” suara Ibu bergetar. ”Kami hanya pedagang warung kecil. Tidak ada yang bisa kalian ambil. Tidak ada gunanya kalian menjarah di sini.’’

Lelaki dengan balok kayu menyeringai, matanya menyapu ruangan lalu berhenti di wajah Ibu. ”Kami hanya cari orang. Siapa tahu kalian sembunyikan penghuni-penghuni ruko sebelah.”

Matanya menelanjangi seisi warung lalu tertumbuk padamu di gendongan Ruminah. Kau terdiam, tangismu hening.

”Kami tidak sembunyikan siapa pun,” jawab Ibu cepat. ”Kami hanya tinggal bertiga di sini. Kalau mau makan, saya kasih makanan.” Ibu menunjuk etalase berisi lauk-pauk dingin di belakangnya. Belum ada pelanggan satu pun hari ini. Mereka tak bisa disebut pelanggan pertama. Sebab, mereka tidak datang untuk makan.

Lelaki lain dengan karung besarnya masuk, memeriksa tiap sudut warung, menengok ke berbagai sisi.

”Sesama pribumi jangan saling menyusahkan. Tidak ada barang-barang berharga di warung kecil ini,” ujar Ibu, mengikuti lelaki itu. Di satu sudut, Ruminah yang pucat setia menggendongmu erat.

Lelaki dengan balok kayu mendekati etalase, matanya menyipit, mencari sesuatu. Ia membuka laci. ”Tak ada yang bisa diambil di sini,” katanya sambil meludah ke lantai.

Begitu dua lelaki itu pergi, Ibu cepat menutup pintu, lalu meraihmu. Ruminah kembali berjaga di dekat jendela. Kelegaan tampak di wajah Ibu.

Hari ini warung kecilnya tak beroperasi, padahal semua makanan telah siap tersaji. Pagi-pagi sekali, Ruminah mendapat kabar dari pasar bahwa akan ada aksi massa di mana-mana.

”Tidak akan ada yang mampir hari ini, Rum. Tutup saja dulu warungnya. Di jalan raya akan banyak orang turun aksi,” begitu Ruminah menirukan tukang sayur, berapi-api menceritakan kepada Ibu pagi tadi tentang desas-desus demo besar hari ini.

Tanpa pikir panjang, Ibu menuruti. Semua pintu dikunci, tirai jendela ditutup. Segepok uang dari laci ia bungkus koran, dimasukkan ke plastik, lalu diikat kencang di balik daster lusuhnya.

Kau sibuk menyedot susu dari botol kesayanganmu, belum paham akan kekacauan yang terjadi. Ketika suara dentuman terdengar dari luar, matamu berbinar. Kau melompat, bertepuk tangan, mengira ada pertunjukan kembang api di luar sana.

*

Ruminah memandang jalanan yang kacau dengan mata berkaca-kaca. Menit demi menit yang dilalui menjadi lebih menakutkan ketika orang-orang memenuhi jalan raya, berteriak, memecahkan kaca, dan menjarah swalayan seberang jalan. Beberapa berlarian membawa barang hasil rampasan, keluar masuk dengan kantong-kantong besar.

Semua orang di luar sana begitu tergesa-gesa dan dipenuhi amarah. Mobil-mobil diarak dan dibakar. Apinya menyala-nyala memenuhi jalanan. Ruminah bergidik. Tak pernah ia menyangka akan melihat kekacauan seperti ini dalam hidupnya.

Di luar masih berisik, Ruminah terduduk di bangku panjang depan etalase, memandang jalanan seperti menonton televisi besar. Bayangan keributan di hadapannya bagai mimpi buruk di siang hari. Sementara di kepalanya, bayangan rumah dan kampung halaman berkelebat tumpang tindih.

Mungkin ada sesal di hatinya, keputusan untuk ikut merantau ke ibu kota dan meninggalkan Badrun, laki-laki pujaan hatinya. Oleh sebab pekerjaan Badrun sebagai kuli panggul di pasar tak menjanjikan, ia lantas bersedia menyumbangkan keringatnya sebagai pelayan warung demi memenuhi biaya pernikahan impiannya.

Sementara kekacauan di luar semakin menjadi-jadi. Ibu turut duduk di bangku panjang, menyelonjorkan kaki, mengusap-usap kepalamu. Menyadari bahwa masih ada kau dalam hidupnya sebagai kekuatan untuk bisa melewati hari yang gaduh ini.

Ibu mulai bersenandung. Ia mengelus rambutmu, membisikkan doa-doa di antara senandungnya. Dan kau sesekali mendongak melihat wajah cantiknya, menikmati senandungnya.

’’Orang-orang di luar makin ramai, Bu. Api makin merambat ke mana-mana,’’ suara Ruminah pilu. Tapi, Ibu masih terus bersenandung kecil, seolah ingin meninabobokanmu dalam dekapannya.

Ibu mengeratkan pelukan. Matanya lurus menatap kalender yang tergantung di atas etalase. Ruminah ikut mengalihkan pandangan ke arah kalender. Mereka menatap hari yang sama. Hari ini, Rabu minggu kedua di bulan Mei.

Ibu mengusap pelipismu lembut, mulutnya terus bersenandung. Jadwal tidur siangmu tak boleh terlewatkan. Kau tak kuasa menahan kantuk. Suara ramai di luar makin sayup-sayup kau dengar. Dalam sesaat, pejam matamu kian gelap.

**

Ibu mengajakmu pergi menemui Bapak yang sudah lama tak ditemui. Di sampingmu, Ibu duduk memegangi nisan kayu bertulisan nama Bapak. Tempat ini sunyi dan dingin, tapi kau mengenalinya –tempat di mana Bapak tertidur dan tak pernah bangun lagi.

”Kami baik-baik saja, Pak. Kami bertahan meskipun sulit,” suara Ibu pelan dan berat. Tangannya mengusap nisan dengan kelembutan yang sama seperti ketika ia mengusap pipimu. ’’Anakmu pintar, Pak. Usianya dua tahun kini. Dia sudah pandai berlari, banyak mengoceh, dan bernyanyi.”

Kau hanya bisa memandangi Ibu yang terus berbicara.

”Aku rindu, Pak,” suaranya sesak, sudut matanya basah. ”Andai kamu masih ada, melindungi kami…” Pada kata melindungi, suaranya patah. Air matanya jatuh satu-satu.

’’Aku takut, Pak,” ucap Ibu. Pandangannya beralih padamu. ’’Aku takut tak bisa menjaganya. Dunia ini terlalu keras untuknya.”

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. ’’Sungguh aku sangat takut menghadapi hari ini.” Lalu, tangisnya pecah. Ia terisak. Kau tak pernah melihat Ibu menangis seperti itu.

’’Pak, apa boleh aku menyerah?” bisiknya, menusuk keheningan. Kau ingin mendekat memeluk Ibu, tapi tubuhmu terasa beku. Tangis Ibu menggema, membelah ruang mimpi menjadi serpihan kecil.

Tiba-tiba, cahaya putih menarik paksa tubuhmu. Kau tersentak bangun, tubuh kecilmu berkeringat. Begitu membuka mata, suara senandung Ibu masih terdengar lirih, hampir tenggelam di antara keriuhan.

Kau teringat mimpimu, lalu jemarimu berusaha meraih pipinya yang ternyata basah. Mata sembapnya menatapmu, seperti sedang mengunci semua ketakutan jauh di dalam dirinya.

’’DARRR!” bunyi ledakan mendadak menggetarkan dinding. Suaranya meninju udara, terlalu keras, terlalu nyata. Mengacaukan jadwal tidur siangmu.

’’DARRR! DARRR!” Ledakan bertubi-tubi datang, mengguncang tubuh kecilmu. Kau menangis ketakutan. Rasa lapar turut menggerogotimu. Susu di botolmu habis.

’’DARRR! DARRR! DARRR!”

Bunyinya menjalar seperti gelombang, berpadu dengan suara teriakan, derit roda kendaraan, dan benda-benda yang dilemparkan. Tak ada pertunjukan kembang api seperti dugaanmu.

Ibu terus bersenandung. Sementara Ruminah masih berjibaku dengan televisi besar dan pertunjukan mencekam di hadapannya, wajahnya kian pucat.

’’Bu, bisakah kita keluar dan pergi dari sini?” isak Ruminah. Gadis itu mempertanyakan nasibnya.

Ibu menggeleng. ’’Situasi di luar tidak aman. Bertahanlah sebentar lagi, Rum.” Suara Ibu terdengar begitu kuat. Tapi, kau tahu. Kau tahu bahwa Ibu tidak sekuat yang ia tunjukkan. Kau tahu bahwa dunia ini terlalu menakutkan untuk seorang Ibu yang sendirian.

Dari balik dekapan Ibu, kau ingin sekali mengeja semua kejadian aneh hari ini. Kau bahkan tak pernah membayangkan akan datang hari di mana semua hal menumbuhkan pertanyaan di kepalamu. Dan semua pertanyaan itu tak bisa kau ajukan sekarang –entah nanti, atau semuanya akan terlupa saat kau tumbuh dewasa. Meski demikian, saat ini kau memiliki keyakinan bahwa dunia akan baik-baik saja selama Ibu masih bersenandung. (*)

—

ANNISA MOEZHA : Penulis asal Brebes, Jawa Tengah, yang aktif menekuni dunia literasi. Beberapa karyanya tersiar di sejumlah media cetak serta digital.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 22 Desember 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme