Cerpen : Kematian Seorang Pelukis oleh Budi Darma

Di Jl Diponegoro ada sebuah rumah besar, milik dokter Munandar, ahli jantung terkenal. Setiap kali dia praktik, pasiennya tidak pernah kurang dari tiga puluh. Istrinya, dokter Meti, hanyalah dokter umum, tapi perhatiannya pada penyakit jiwa sangat kuat, dan setiap kali dia praktik, pasiennya tidak pernah sedikit. Dan ingat, dia juga mempunyai kemampuan istimewa untuk menghipnotis … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kita Gendong Bergantian oleh Budi Darma

Misbahul, anak Surabaya dari Kampung Kedung Buntu, berjalan menuju ke sekolahnya, SD Kedondong. Sejak Jepang datang tujuh bulan yang lalu, udara selalu dipenuhi oleh bau kelaparan, kesengsaraan, dan kematian. Karena itu, ketika melihat dua mayat tergeletak di pinggir jalan, dia tidak heran. Dia terus berjalan, dan, tiba-tiba, di hadapannya muncul seorang perempuan buta: ”He! Dengarkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Atavisme oleh Budi Darma

Beberapa tahun lalu ada berita, seorang mahasiswi Indonesia bertemu secara ajaib dengan mahasiswa asal Sudan di kampus SOAS, Universitas London. Waktu itu dia menunggu lift, akan naik ke lantai 5. Begitu lift membuka, pandangannya tertusuk oleh pandangan mahasiswa Sudan, dan pandangan mahasiswa Sudan pun tertusuk oleh pandangan mahasiswi Indonesia. Hari itu juga mereka memutuskan untuk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tamu oleh Budi Darma

Dengan mengendarai truk yang saya supiri sendiri, sekitar jam 14 saya dan istri memasuki kota kecil K, dan begitu sampai di rumah sewa, yang uang sewanya sudah saya kirim tiga minggu lalu, truk berhenti, dan anak pemilik rumah menyerahkan kunci, kemudian pergi. Saya dan istri menurunkan semua barang, memasukkannya ke rumah, dan setelah semua tertata, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Suara di Bandara oleh Budi Darma

Ketika saya terbangun, pesawat baru saja memasuki wilayah Hongaria, dan pada waktunya nanti pasti akan mendarat di Amsterdam. Inilah pekerjaan saya sebagai penerbit: menerbitkan buku, mengusahakan terjemahan, memasarkan buku di negara-negara Eropa, jual beli hak cipta, dan berbagai negosiasi lain. Dan pekerjaan ini saya lakukan satu tahun sekali, atau, kadang-kadang dua tahun sekali. Tapi, karena … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lorong Gelap oleh Budi Darma

Jumlah sel terpidana mati terbatas, hanya tiga belas, di ujung lorong gelap yang memisahkan penjara terpidana biasa dan terpidana mati. Begitu seorang terpidana mati siap untuk dieksekusi, seorang terpidana mati yang masih tinggal di penjara biasa diseret ke lorong gelap, diserahkan kepada kelompok sipir khusus. Jam sebelas malam sel Den Hardo digedor-gedor, tanda bahwa dia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tangan-Tangan Buntung oleh Budi Darma

  Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin. Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Laki-laki Pemanggul Goni oleh Budi Darma

Setiap kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya. Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pohon Jejawi oleh Budi Darma

Jangan buka peta Surabaya hari ini, tapi, bukalah peta Surabaya pada akhir tahun 1920-an, atau paling muda awal tahun 1930-an, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Waktu itu, jalan dan kampung bernama ”kedung” tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu. Seolah-olah jatuh dari langit biru, tiba-tiba saja Kedung Gang Buntu … Baca Selengkapnya