Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kita Gendong Bergantian oleh Budi Darma

Posted on Ming, 29 Nov 2020

Misbahul, anak Surabaya dari Kampung Kedung Buntu, berjalan menuju ke sekolahnya, SD Kedondong. Sejak Jepang datang tujuh bulan yang lalu, udara selalu dipenuhi oleh bau kelaparan, kesengsaraan, dan kematian. Karena itu, ketika melihat dua mayat tergeletak di pinggir jalan, dia tidak heran.

Dia terus berjalan, dan, tiba-tiba, di hadapannya muncul seorang perempuan buta:

”He! Dengarkan saya. Ayah kamu akan mati. Sebentar lagi kamu akan lupa kata-kata saya. Lupa bahwa kamu pernah bertemu saya.”

Betul, dia benar-benar lupa, dan baru ingat setelah nanti, ketika dia pulang dari sekolah, melihat ayahnya dihajar oleh tetangga-tetangganya sendiri.

Dia berjalan terus, sampai akhirnya mencapai sekolahnya.

Di sekolah dia melihat peristiwa yang sering terjadi semenjak Peket diangkat oleh Jepang untuk menjadi kepala sekolah. Dengan gaya digagah-gagahkan sambil membawa tongkat komando, Peket berjalan mondar-mandir sambil sesekali membongkok, menggaruk-garuk kakinya. Kudis. Dan kudis telah menyerang semua penduduk semenjak dua bulan setelah Jepang datang.

Bukan hanya itu. Kadang-kadang Peket berdeham-deham, lalu melontarkan dahak kental dari mulutnya.

Beberapa saat sebelum lonceng berbunyi, semua orang harus berdiri rapi menghadap panggung, dan begitu lonceng berbunyi, dengan gaya percaya diri yang sangat besar Peket naik ke panggung. Tongkat komandonya diselipkan di ketiak, lalu dengan lagak berwibawa dia menembakkan matanya ke semua guru dan murid di lapangan.

Upacara bendera dimulai. Dua guru mengerek bendera Jepang perlahan-lahan, sementara semua orang menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, ”Kimigayo”. Dua guru ini, dan semua guru lain dan semua murid, tidak ada yang memakai sepatu. Sepatu tidak lain adalah barang mewah. Lalu siapa yang memakai sepatu. Ya Peketlah, dialah satu-satu orang yang sanggup memiliki sepatu.

Setelah usai, semua orang harus membongkok-bongkok ke arah Tokyo, kiblat semua makhluk jajahan Jepang.

Tibalah saatnya Peket berpidato. Tongkat komandonya diacungkan ke sana-kemari, sambil sesekali membongkok menggaruk-garuk kakinya. Dan jangan lupa, kadang-kadang dia meludah, meluncurkan dahak pekat.

Meskipun semua orang gatal-gatal diserang kudis, tidak ada satu orang pun berani menggaruk-garuk. Kalau berani, Peket merasa diejek, dan hukumannya berat.

Hari itu, Peket menutup pidatonya dengan perintah, untuk membantu para pahlawan Jepang dalam pertempuran melawan Sekutu keparat. Perintahnya: besok pagi semua murid harus mengumpulkan buah jarak dan iles-iles sebanyak-banyaknya. Buah jarak bisa dijadikan bensin, dan iles-iles bisa dikeringkan menjadi makanan.

Setelah berhenti sekejap, perintah disambung: besok setiap guru harus membawa dua puluh nyamuk mati, dan setiapp murid harus membawa tiga puluh nyamuk mati. Nyamuk, kata Peket menirukan gaya Jepang, adalah musuh bersama. Jangan heran, makin banyak nyamuk, malaria makin mengganas.

Peket tidak pernah mengatakan mengenai musuh bersama lain, yaitu kutu busuk. Kabar angin mengatakan, Jepang sengaja mengembangbiakkan kutu busuk. Setelah jam malam berlaku, Jepang dan begondal-begondalnya, termasuk Peket, menyebarkan kutu busuk ke tempat-tempat umum.

Setelah pidato dan perintah dikumandangkan, semua murid serta guru harus berbaris rapi seperti serdadu Jepang, masuk ke kelas, lalu Peket masuk ke beberapa klas secara acak. Minggu lalu Peket masuk kelas Misbahul untuk memamerkan keperkasaannya. Begitu masuk kelas, dia mengeret Darsini, murid perempuan, dan mendudukkannya di kursi guru.

Dia tidak terima, karena waktu upacara bendera tadi Darsini membongkok beberapa kali, menggaruk-garuk kudisnya. Darsini menggeletar, Bu Guru Siti menggelatar, semua murid menggeletar ketakutan. Beberapa kutu busuk berjalan-jalan bebas di baju Darsini, dan juga baju Bu Guru Siti. Baju mereka juga dipenuhi jahitan di sana-sini, seperti baju rombengan.

”Kamu anak pelacur, ya?”

Tidak ada satu murid pun, termasuk Darsini, yang mengerti makna pelacur.

Tubuh Darsini diguncang-guncang keras, akhirnya Darsini menjawab: ”Ayah saya penggali kubur.”

”Kamu anak pelacur, ya?”

”Ibu saya tukang memandikan mayat.”

Peket berdam-deham agak lama, memancing dahak kental, lalu membuka mulut Darsini, dan memuntahkan dahak kental ke mulut Darsini.

”Saya lihat ada anak yang mbolos, ya.”

”Umar. Sakit. Sudah memberi tahu lewat temannya, Misbahul,” kata Bu Guru Siti.

Dengan suara menggelegar, Peket memerintah Misbahul untuk maju ke depan.

”Umar teman kamu, ya. Dari Kampung Kedung Buntu, ya?”

Dengan kecepatan kilat, Peket melayangkan tongkat komandonya ke kepala Misbahul. Misbahul terpelanting, tetapi segera berdiri lagi

”Jepang sudah tahu, orang Kampung Kedung Buntu bajingan semua.”

Misbahul tahu, tapi tidak mengatakan kepada Bu Guru Siti bahwa Umar terpelanting dari kuda milik teman ayahnya, Badrul. Jepang punya kekuasaan untuk merampas apa pun milik penduduk. Kalau tahu, Jepang pasti akan merampas kuda Badrul, lalu menghukum Badrul dan anaknya dengan siksaan-siksaan berat.

Waktu berjalan terus, lonceng berbunyi, guru dan murid boleh pulang.

Ketika Misbahul akan pulang, Peket bersiul-siul sambil mempermainkan jari-jarinya, persis seperti seorang tuan memanggil anjingnya. Misbahul gemetaran, tapi apa boleh buat.

Kepala Misbahul diremas-remas dengan kekuatan penuh, untunglah Misbahul bisa memendam rasa sakit.

”Ibu kamu lonte, ya?”

Misbahul diam. Dia tidak tahu makna lonte.

”Ibumu minggat, kan? Sudah hampir satu minggu dia tidak di rumah, kan?”

Misbahul menangis terisak-isak. Memang, ibunya pergi tanpa kabar. Lima hari yang lalu ibunya hilang.

”Ibumu cantik, ya?”

Misbahul tidak sanggup menjawab.

”Ayah kamu gila, ya?”

”Tidak.”

”Ya, ayahmu gila. Ditinggal minggat istrinya. Ibu kamu tergila-gila sama serdadu Jepang, Kepala Penjara Koblen. Barang siapa berani sama Jepang, punya dua pilihan. Satu, disiksa di Gedung Kenpetai, di alun-alun. Dua, masuk penjara Koblen. Kepala penjara Koblen, Tuan Matsuko perlu babu. Tapi ibu kamu ingin jadi mainan Tuan Matsuko.”

Tangan Peket meremas-remas kepala Misbahul lagi dengan kekuatan penuh.

”Awas, kalau kamu berani buka mulut tentang ibumu,” sambung Peket.

Misbahul pulang, menunduk lesu, matanya membasah. Memang dia sudah mendengar, ibunya diculik, dan dia juga sudah mendengar, ibunya dijadikan gula-gula oleh kepala penjara Koblen.

Mendekati rumahnya, Misbahul mendengar tembakan, disusul dengan teriakan-teriakan ganas. Dia lari, dan melihat tetangga-tetangganya memukuli ayahnya. Dekat ayahya ada orang berkelejatan, sekarat. Ayahnya tumbang. Serdadu Jepang memerintahkan tetangga-tetangganya untuk menginjak-injak tubuh ayah Misbahul. Tidak ada yang mau.

”Kalau tidak mau, kamu semua akan saya tembak!” kata serdadu Jepang.

Tidak ada yang bergerak.

”Ayo, injak-injak!”

Sebuah tembakan menghantam salah seorang tetangga, langsung menggelepar. Terpaksalah tetangga-tetangganya menginjak-injak ayah Misbahul.

Mau tidak mau, Misbahul langsung menjadi anak yatim piatu.

Tetangga-tetangga Misbahul bersujud di hadapan Misbahul, memohon ampunan.

Waktu terus berjalan, Misbahul dan Umar sudah sekolah di SMP, Darsini sudah meninggal akibat tidak mau makan. Setiap kali disuapi, dia teringat dahak pekat Peket, lalu muntah. Bu Guru Siti hilang, setelah melawan Peket ketika Peket membentak-bentaknya karena Bu Guru Siti tidak berhasil mengumpulkan lima ratus nyamuk mati selama dua hari. Peket menggamparkan tongkatnya ke kepala Bu Guru Siti, tapi entah mengapa, Bu Guru Siti berhasil merebut tongkat Peket, lalu berteriak:

”Begundal Jepang! Anjing!” sambil memukuli Peket.

Bu Guru Siti hilang dan di bawah ancaman serdadu-serdadu Jepang, suaminya dipukuli dan diinjak-injak oleh tetangga-tetangganya sendiri.

Akhirnya tersebar berita tidak jelas bahwa Jepang sudah menyerah. Pasukan Sekutu akan masuk ke Indonesia, menghajar serdadu-serdadu Jepang. Bukan hanya itu. Sekutu akan membawa Belanda untuk menjajah lagi.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak jelas, sampai akhirnya terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Jepang dan pasukan Indonesia Indonesia. Pertempuran pertama meledak di Markas Kenpetai Jepang di alun-alun, disusul pertempuran di Don Bosco, gudang senjata Jepang di Jl Tidar. Tanpa ampun, mitraliur dan granat menghajar pasukan Indonesia. Jangan heran, manakala rakyat Indonesia marah.

Sangat mengherankan: Jepang sudah merampas semua senjata tajam penduduk, ternyata banyak orang berlari menuju medan pertempuran membawa golok, pedang, tombak, keris, celurit, linggis, palang pintu, dan entah apa lagi. Dari mana mereka memperoleh senjata-senjata tajam itu, tidak ada yang tahu. Anak-anak juga ikut berlarian berbekal katapel, pecahan batu-batu bata, dan ada pula yang membawa garpu.

Misbahul dan Umar berboncengan naik kuda, bagaikan terbang, menuju ke Don Bosco. Seorang laki-laki, menyandang pedang dan golok, menghadang.

“Jangan ke sana. Bahaya. Boleh saya pakai kudanya? Saya siap mati.”

Misbahul agak ragu-ragu, tapi Umar, pemilik kuda, mengikhlaskan.

Agaknya laki-laki itu kurang menguasai kudanya, berkali-kali oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Dari jauh tampak ada seorang laki-laki lari terengah-engah melawan arah, dan entah bagaimana, kuda itu menabrak laki-laki itu, dan laki-laki itu pun bergelimpangan.

Misbahul ingat, pada suatu hari ketika dia sedang berjalan di Jl. Arjuno, sekonyong-konyong sirene membahana. Misbahul ditarik oleh ibunya, lalu melompat ke parit. Barang siapa berani berada di jalan pada waktu ada sirene, pasti celaka. Betul, waktu itu ada seorang laki-laki berusaha berlari mencari perlindungan. Belum sempat dia bersembunyi, seorang serdadu Jepang naik sepeda motor besar mengejar, dan dengan sengaja ditabraklah laki-laki itu

Setelah Misbahul dan Umar menyadari bahwa laki-laki itu tidak lain adalah Peket, mereka lari mendekatinya. Mata, hidung, dan mulut Peket mengalirkan darah. Peket meraung-raung sambil bergelimpangan untuk menahan rasa sakit.

Misbahul dan Umar berpandang-pandangan, kemudian, tanpa sadar Misbahul berkata:

”Mari kita antarkan Pak Peket ke rumahnya.”

”Ya,” kata Umar ”Kita gendong bergantian.”

————————-

Budi Darma : sekarang berusia 83 tahun, termasuk penulis paling senior di Indonesia yang masih terus melahirkan karya. Budi Darma bahkan masih memberikan bimbingan S-3 bagi para mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Nama Budi Darma mencuat setelah menerbitkan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington (1981) dan novel Olenka (1983).

Hari Budiono : lulusan Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, tahun 1985. Mantan wartawan dan aktif menulis tentang seni budaya. Kini menjadi Redaktur Artistik Majalah Budaya Basis di Yogyakarta. Sebagai pelukis, pada Maret hingga April tahun lalu berpameran tunggal keliling Jakarta, Bali, Solo, danYogyakarta dengan mengusung tema ”Memedi Sawah”.

sumber : kompas.id, 29 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme