Cerpen : Jarak oleh Gus Tf Sakai

Bagaimanapun tak pedulinya, toh Anggi telah melecek berlembar-lembar tisu. Trotoar tampak bagai memanjang dan hotmix serupa mengepulkan minyak, gemetar dalam atmosfer berdebu. ”Jika ini semacam protes,” ujar Mita saat bubaran tadi, ”maka apa yang kau lakukan adalah sesuatu yang tolol, Anggi.” Lalu si Bebek itu melompat ke atas mobilnya. ”Dadah!” dan melaju, kemudian lenyap di gerbang sekolah. Anggi meringis. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jarak oleh Gus tf Sakai

BAGAIMANAPUN tak pedulinya, toh Anggi telah melecek berlembar-lembar tisu. Trotoar tampak bagai memanjang dan hotmix serupa mengepulkan minyak, gemetar dalam atmosfer berdebu. “Jika ini semacam protes,” ujar Mita saat bubaran tadi, “maka apa yang kau lakukan adalah sesuatu yang tolol, Anggi.” Lalu si Bebek itu melompat ke atas mobilnya. “Dadah!” dan melaju, kemudian lenyap di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pernahkah Kalian Menjelma Jadi Ikan? oleh Gus tf Sakai

Pernahkah kalian menjelma jadi ikan? Aku yakin, kalian akan menjawab, ”Tak pernah.” Andai ada yang menjawab, ”Pernah,” tentu akan segera menyambung, ”dalam mimpi.” Tetapi Bella, bocah perempuan delapan tahunan itu, sangat yakin sedang tidak bermimpi. Berbeda dengan mimpi yang segalanya serba kabur dan tak jelas, Bella bisa melihat dan merasakan semua yang ada di sekitarnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gangga Sri oleh Gus tf Sakai

DARTO berontak, berusaha berteriak. Tetapi tenaganya bagai tak ada dan suaranya bagai tertahan di tenggorokan. Sepasang mata merah. Embus napas dingin. Saat jemari lentik itu semakin kuat mencekik, Darto tak lagi tahan. Tubuhnya seolah sudah hendak meledak ketika sesuatu, tiba-tiba, seperti mengguncang-guncang pundaknya. “Bangun, Darto! Bangun!” Darto terlepas dari cekikan. Napasnya gelagapan. Dibukanya mata. Wajah Tarno … Baca Selengkapnya

Cerpen : “Pakiah” dari Pariangan oleh Gus tf Sakai

  Bagi orang-orang di kampung itu, cerita tentang pakiah sudah jadi masa lalu. Ia tertinggal dalam surau-surau tua, di tebal debu kitab-kitab kuning yang berhampar-serak, dalam bilik-bilik garin yang daun-daun pintunya telah somplak. Bagi orang-orang yang datang ke kampung itu, ia akan didengar dari mulut orang-orang tua atau tukang cerita, berbaur-biluh dengan kisah para pendekar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kak Ros oleh Gus tf Sakai

  Begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Orang Bunian oleh Gus tf Sakai

  ”Masih adakah orang bunian itu, Ayah?” Si lelaki mengalihkan pandang, menatap nanap ke mata putrinya. Mata yang bertahun-tahun berusaha ia kenali, tapi selalu ada kabut yang menutupi. Mata sejernih itu. Mata sebening itu. Ada cerlang pagi, sibak matahari mulai naik, di dalamnya. Tapi cuma sebentar, sangat sebentar, sebelum gumpal kabut turun, merendah dari bukit-bukit, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kaki yang Terhormat oleh Gus tf Sakai

Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, ”Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik. Bila ada peribahasa berkata pelihara lidah, berjalan pelihara kaki, maka Anda … Baca Selengkapnya

Cerpen : Liang Harimau oleh Gus tf Sakai

Karena pagi buta, tak ada yang tahu bagaimana peristiwa sebenarnya. Tapi seorang wartawan, yang mengutip keterangan polisi, menulis berita begini: ”… Pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 05.00. Sadim baru bangun tidur dan tiba-tiba menusuk Rasikun. Dalam berita acara pemeriksaan oleh polisi disebutkan, Sadim kalap dan menusuk si majikan karena persoalan upah. Masih menurut polisi, Sadim, … Baca Selengkapnya