Cerpen : Penganan Sekali Sepekan oleh Maya Sandita

Tidak ada satu orang pun yang menyangka hal ini akan terjadi pada Yuk Turmi. Perempuan asal Palembang ini adalah istri Pak Camat yang ramah dan baik hati. Ia tidak suka dipanggil Bu Camat dan lebih senang dipanggik ayuk (1). Ia juga punya jadwal sekali sepekan untuk membuat penganan. Entah itu empek-empek adaan, tekwan, bubur pulut dengan santan, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ada Jenggala Mengakar di Purnama oleh Maya Sandhita

”Kalau kalian tetap berkeras merampas tanah mama, kasih habis dulu kami semua!” Sebaris kalimat itu nyala sempurna, membara di mata masyarakat kukuh suku. Kau dan kelompokmu yang teguh mempertahankan tanah ulayat demi masa depan anak-cucu. Kalian sadar betul bagaimana hamparan alam yang kalian sebut tanah mama, telah menjadi surga yang menyediakan semuanya. Ada banyak sekali … Baca Selengkapnya

Cerpen : Penjual Kematian oleh Maya Sandita

”Nenek Imah tidak mati, Bu!” ”Apa tidurmu nyenyak semalam?” ”Tentu. Aku meminum obat rutin seperti biasa. Juga obat tidur itu—yang tak kusuka. Aku tidak lupa!” ”Kalau begitu, Ibu akan minta pengasuh untuk menurunkan dosisnya.” Wanita itu meninggalkan anak lelakinya di sana. Ia keluar dari ruangan dengan sebuah tas dan berkas pada masing-masing tangan. Anak lelaki … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ruang Tunggu oleh Maya Sandita

Menggenang jingga di langit yang tenang, di barat surya bergegas pulang. Ronanya tampak nyata dalam lingkaran dua bola mata seorang lelaki tua di sebuah bangku ruang tunggu. Sepanjang masa dilaluinya dengan sia-sia, memilih dengan gigih menanti kekasih, seorang wanita tempat ia menaruh hatinya dengan utuh. Sesungguhnya di mana wanita itu berada ia benar-benar tidak punya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelaki di Bawah Lampu Jalan oleh Maya Sandita

Ia melengkungkan senyuman bulan dan menarik garis alis.… Ini malam—di ujung sebuah gang—seorang lelaki diam di bawah lampu jalan yang temaram, menunggu. Dua jam lebih sudah berlalu. Pedagang asongan yang lewat tak henti-hentinya memperhatikan, ingin memastikan yang berdiri di sana manusia ataukah setan. Sesiapa tidak berani bertanya. Hanya bisa menyinggahkan mata sebentar saja lalu berjalan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menggantung Rasa di Ujung Sumatera oleh Maya Sandita

Seketika itu pula Andin merasa dirinya tak ubah sebatang lilin. Memberi cahaya, menerangi gelapnya malam Asra, ketika meluapkan rasa di dinding kamarnya. Rasa penuh makna bernama cinta pada seorang perempuan yang dialirkannya ke selatan. “Masuk rumah sakit,” begitu kalimat yang terdengar sebelum hati Asra menjadi gusar. “Tidak kutanyakan kenapa, sebaiknya kau saja yang langsung bertanya,” … Baca Selengkapnya