Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Menggantung Rasa di Ujung Sumatera oleh Maya Sandita

Posted on Jum, 04 Jan 2019

Seketika itu pula Andin merasa dirinya tak ubah sebatang lilin. Memberi cahaya, menerangi gelapnya malam Asra, ketika meluapkan rasa di dinding kamarnya. Rasa penuh makna bernama cinta pada seorang perempuan yang dialirkannya ke selatan.

“Masuk rumah sakit,” begitu kalimat yang terdengar sebelum hati Asra menjadi gusar. “Tidak kutanyakan kenapa, sebaiknya kau saja yang langsung bertanya,” Andin berusaha bijaksana. Menurutnya Asra mesti tahu, meski ia sendiri tak yakin hatinya tak akan hangus dan jadi debu. Tentu Andin terbakar cemburu, sebab Asra begitu peduli dan mencintai perempuan berambut sebahu itu.

Sudah terang betul, Asra kemudian dihinggapi risau dan kacau. “Sebulan ini sudah kuusahakan agar kenangan tentangnya segera bisa kulupakan. Tapi selalu sesuatu terjadi atau bahkan seseorang mengabari tentang dia yang begitu kuat hidup di perantauan sendiri. Sekarang ia sakit dan tentu sendirian. Menurutmu apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada Andin di seberang telepon.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Hati Andin tengah terbakar.

“Hallo? Kau masih di sana?” Asra memanggil.

“Ya, tentu.”

“Apa harus kutelepon dia? Kirim pesan saja? Atau bagaimana?”

“Kau tentu paham dengan perasaanmu yang sudah mengakar. Kau tentu bisa pula menakar sebanyak apa rasa peduli perlu kau beri.”

“Ya…”

“Sudah ya, Sra. Listrik sedang padam. Daya baterai ponselku habis.”

Telepon ditutup. Rapat mulut Andin terkatup. Ia mesti berdusta tentang daya ponselnya agar tak terbaca rasa cemburu yang menusuk dadanya seperti beling kaca. Dalam dadanya itu sesuatu yang hangus ia bungkus. Disembunyikan dan pada Asra tak ingin ia perlihatkan.

Pukul delapan lewat lima belas menit. Setelah Isya. Andin melihat layar ponsel tanpa nama Asra yang biasa muncul di sana. Ia mengerti, ada hati yang sedang berlari. Pulang ke belakang, menjemput rasa yang sebenarnya tak pernah bisa ia buang. Sudah saja, Andin berusaha menyibukkan diri dengan segala apa yang ada di depan mata. Mengetik sebuah cerita dengan klasik, melanjutkan rajutan, atau membaca buku lama mulai dari halaman pertama.

Tapi sebentar kemudian berdering ponselnya.

Asra memanggil.

Degup di dadanya terasa tidak biasa. Sepercik api nyala sekali lagi di sudut hati. “Jangan begini. Asra juga seorang teman dan tentu apapun yang ia lakukan ada alasan. Jangan terbakar dengan perasaan. Kadangkala kita mesti punya banyak sifat rela,” bisiknya pada diri sendiri.

Andin menjawab panggilan, suaranya terdengar sedikit lebih pelan, “Hallo?”

“Hai, An.”

“Ya.”

“Kau sedang apa? Di mana? Kenapa suaramu pelan sekali? Kau sakit?”

“Tidak.”

“Atau sedang malas bicara denganku?” terka Asra.

Hela napas Andin menyatakan setuju dengan cara yang dingin. Tapi Asra tertawa.

“Kau sedang cemburu?”

“Pada?”

“Padaku.”

“Gila.”

Suara Andin mendadak biasa. Asra selalu berhasil mengendalikan suasana bahkan dengan lelucon kecil yang sangat sederhana.

Obrolan mereka semakin panjang dan sesekali malah membahas hal-hal usang. Andin sering menyela obrolan dengan bertanya pada Asra, “Tadi jadi telepon Sindi?”

Tapi terus-terusan Asra menghindar dengan membahas soalan lain.

“Sra?”

“Ya.”

“Dari tadi pertanyaanku belum kau jawab.”

“Oh, iya.”

“Jadi?”

“Apanya?”

“Telepon Sindi…”

“Oh…, jadi.”

Jantung Andin mendadak sesak dan seperti akan meledak. “Lalu?” tanyanya kemudian.

Andin berusaha mengendalikan perasaan jika nanti cerita Asra menjadi sesuatu yang membuatnya cemburu dengan mudahnya. Dan benar saja. Sindi bukan sesuatu yang mudah hilang dari ingatan sebab masa kenangan yang mereka lalui begitu panjang. Mendengar suara Sindi dari seberang telepon rupanya menumbuhkan perasaan yang lama pada dada Asra. “Kau tahu, An. Caranya bicara padaku mendadak merobohkan benteng yang kubuat sedemikian rupa demi menghambat kenangan-kenangan tentangnya,” ungkap Asra.

Andin sibuk mengatur debar dadanya yang saling berbentur.

Di seberang telepon cerita Asra terus mengalir lancar seperti air. Ketika ia sadar Andin sudah lama tak merespons ceritanya kala itu, ia berulang-ulang menyeru.

Dan Andin tersentak, “Ya, Sra?”

“Kau masih di situ?”

Andin mencoba bersembunyi dari perasaannya sendiri. Ia berusaha lari demi menghindari rasa iri atas Sindi yang menguasai Asra sampai ke palung hati. Ketika ia tak sanggup menahan perasaan, Andin mengakhiri panggilan dan berkata akan kembali menelepon besok pagi setelah pulang dari pekan.

Sesekali muncul dalam logikanya bahwa tidak mungkin seorang Asra akan menaruh hati pada seorang Andin Kirana. Bukan tidak mungkin jika selama ini kehadiran Asra di hadapannya hanya untuk menghalau ingatan tentang Sindi yang begitu sulit ia buang. Demikian kata ‘lilin’ bermakna ‘sepi’ setiap kali ia menghitung gugur daun yang mati. Asra tidak akan pernah membuka hati sebelum ia mampu melupakan Sindi. Dan itu mustahil terjadi.

Malam kian larut. Andin duduk di teras belakang rumah yang menghadap ke laut. Ombak bergelombang berulang-ulang menghempas karang. Dermaga hilang ditelan malam yang jelaga. Lampu nelayan berkedip-kedip, kunang-kunang kerlap-kerlip. Andin terlilit temali perasaan berduri dan rasanya amat sakit.

Sementara Asra dikelilingi rimbun perasaan yang menjalar cepat, tumbuh dan merambat di benteng dan pagar yang berkarat. Perasaannya masih begitu pekat. Namun ternyata di hari yang sama, Sindi hanya sebentar merespons keberadaannya. Selang beberapa jam kemudian tidak ada lagi jawaban panggilan yang ia hantarkan, juga balasan pesan yang ia kirimkan. Asra benar-benar sadar bahwa Sindi tak menyimpan dirinya lagi di lubuk hati. Tapi harapan masih menggunung dan juga jadi lautan.

Pesisir menemani Andin dengan gelisah yang merajalela. Sebuah rasa ia gantung jauh ke ujung Sumatera. Seorang lelaki yang ada di sana ia yakini suatu saat pasti akan kembali. Namun kemana caranya akan dihantarkan tentu hanya Asra yang akan memutuskan. Pesisir lautan, perbukitan, atau akan menyeberang ia ke pulau yang ada di selatan-tempat yang dijadikan Sindi kota perantauan.

Listrik menyala dan lilin ia padamkan.

Padang, 31 Juli 2019

Maya Sandita : lahir di Pekanbaru pada 02 Mei 1994. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Tahun ini Maya berdomisili di Batam sebagai pelatih teater berbahasa Inggris dan manager bimbel bahasa Inggris Talking English. Maya tergabung dalam FPL (Forum Pegiat Literasi) Padangpanjang, KOPI TANDA (Komunitas Penulis Tanah Datar), PCRBM (Penulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau), Bagindo Rajo (Komunitas Pendongeng Batusangkar), Street Theatre dan Teater Ode Batam. Beberapa karyanya pernah diterbitkan menjadi antologi cerpen : Lentera dalam Antologi Cerpen Perahu Tulis – Balai Bahasa Padang (2012), Heldes dalam Antologi Cerpen Menunggumu – DivaPress (2013), dan Batu Godang Putaran Toluak dalam Antologi Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau – Balai Bahasa Padang (2018). Beberapa cerpennya juga dimuat di koran lokal yang berjudul : Felicia – Republika (2019), Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu – Padang Ekspres (2019), Penabur Bunga – Republika, Rantai – Singgalang (2019), Kekasih Penggelar Buku – Haluan (2019), Pandam – Singgalang (2019), Bantal Penambal Bulan – Haluan (2019), Persahabatan – Riau Pos (2012), Teh Senja Ini – Rakyat Sumbar (2017), Tanya di Sepanjang Sungai di Rimbun Hutan – Rakyat Sumbar (2018). Maya juga menulis beberapa naskah teater yakni Perempuan-Perempuan (2014), Lysistrata (Terjemahan) (2015), Joko & Wina (2016), Eros (2016), Ratok Gadih Suayan (2016), Piknik (2017), Kartu Nama (2017), Isi Dada dan Kepala dalam Kantong Belanja (2018), Lanun Longkang (2018), dan Ode Perempuan Rantau (Terjemahan) (2019). Pada tahun 2018 Maya meraih juara 1 dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, dengan judul cerita Batu Godang Putaran Toluak. Saat ini maya sedang menunggu penerbitan antologi cerpen pertamanya berjudul Ruang Tunggu dari Forum Aktif Menulis yang berpusat di Kediri – Jawa Timur di bawah asuhan Muhammad Subhan, S.Sos.I.

sumber : kompas.id, 04 Jan 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme