Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ruang Tunggu oleh Maya Sandita

Posted on Sab, 27 Jun 2020

Menggenang jingga di langit yang tenang, di barat surya bergegas pulang. Ronanya tampak nyata dalam lingkaran dua bola mata seorang lelaki tua di sebuah bangku ruang tunggu.

Sepanjang masa dilaluinya dengan sia-sia, memilih dengan gigih menanti kekasih, seorang wanita tempat ia menaruh hatinya dengan utuh. Sesungguhnya di mana wanita itu berada ia benar-benar tidak punya jawabannya, tetapi sebuah janji untuk kembali masih nyaman dalam genggaman, hingga ia lupa sudah berapa lama pemilik hati tidak kembali.

Pernah datang padanya seorang muda dan bertanya, apa yang dilakukan sendirian, apakah menunggu teman atau mungkin keponakan.

Tersenyum ia, ditawarkannya sebatang rokok dan orang muda menyulutnya. Lelaki tua kembali sibuk duduk menunduk. Sekali dua pandangannya tertuju ke pintu di mana dulu ia melihat wanitanya berangkat. Perpisahan itu baginya lantas membuat hari-hari terasa lambat dan dilewati dengan sekarat.

”Kemarin Bapak juga duduk di sini sejak pagi. Tiga hari yang lalu saat saya menjemput sepupu, Bapak juga kusyuk saja menunggu,” mulai berkata si orang muda.

”Sekarang giliran siapa yang kau jemput rupanya?” tanya lelaki tua.

”Saudara jauh, katanya tadi sudah berangkat jam lima tiga puluh.”

”Tentu jauh, kalau dekat ia tak perlu berangkat. Mungkin sedang di teras duduk dengan teh dingin segelas,” kelakarnya.

Tersenyum tipis orang muda, ia paham betul lelaki tua itu sedang bercanda.

”Dari kota mana?”

”Jakarta.”

Lelaki tua menghirup napas cukup dalam. Bahunya terangkat dan tenggorokannya tercekat. Entah oleh apa. Terbatuk ia lalu minum beberapa teguk dari botol air yang selalu ia bawa serta.

”Ada apa, Pak? Apakah yang Bapak tunggu juga dari kota itu?”

Lelaki tua mengusap mulut dengan tangan yang sudah mulai keriput, ”Kurasa ya,” sambutnya, ”atau bisa juga dari Yogyakarta, bahkan Surabaya.”

Kusut dahinya seketika, ia tak mengerti mengapa lelaki tua di sampingnya menjawab dengan kira-kira atau semaunya saja.

Sebentar kemudian berita kedatangan terdengar di setiap sudut bandara. Pesawat yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Padang baru saja mendarat. Si orang muda pamit untuk mendekat ke pintu kedatangan demi dapat melihat saudaranya tiba nanti. Lelaki tua mempersilakan.

Ia menghabiskan rokoknya di tempat, berdiri dan melihat ke pintu kedatangan beberapa saat. Kemudian ia melangkah menuju rumah.

…

Di kota dengan rasa resah yang tak kunjung sudah, seorang wanita tua memeluk sebuah tas besar. Duduk ia dan bersandar. Matanya sesekali terpejam sebab lelah yang menghujam. Pesawat yang ingin ditumpangi akan tiba sebentar lagi. Begitu yang dikatakan petugas bandara satu jam yang lalu. Ia memberi berita bahwa keberangkatan tertunda.

Perempuan tua sudah datang sedari tadi, badannya letih sekali. Ia menempuh perjalanan panjang sendirian dan mendapatkan kendaraan umum setelah berjuang mendapatkan tiket dalam antrean.

Tas besar yang ia bawa berisi pakaian dan sedikit makanan. Sesekali ditaruhnya di samping sebentar sebagai tempat kepalanya bersandar. Jika dilihatnya ada calon penumpang yang berdiri, dipindahkannya ke bawah kaki.

Merasa sepi wanita tua itu meski begitu ramai di ruang tunggu.

Ia adalah Ima, wanita tua pemilik hati lelaki tua tadi, namanya Heri.

Terlintas sebuah kenangan yang masih terselamatkan dalam ingatan. Berpuluh-puluh tahun yang lalu di kampung halaman yang tak pernah lagi terjejakkan, tentang seseorang yang tidak pernah bisa disebut mantan.

Kasih Ima dan Heri bermula dengan sangat sederhana. Mereka ada di kelas yang sama di sebuah sekolah menengah pertama. Kala itu bisa mencapai tahap pendidikan ini sudah bisa dinilai memiliki ekonomi yang cukup mantap. Begitu juga dengan keluarga Heri dan Ima. Keduanya dilahirkan dari keluarga berada dan berkecukupan. Selain karena berada dalam satu kelas yang sama, mereka juga sama-sama pintar dalam pelajaran Matematika. Tidak salah ketika mereka sering kali megikuti olimpiade bersama.

Letak rumah mereka berhadapan, dipisahkan halaman dan sedikit jalan. Sering kali Heri mengajak Ima belajar bersama di taman atau mengajarinya bersepeda di halaman. Kebetulan saat itu memang tidak berani Ima mencoba naik sepeda. Heri yang meyakinkan dan berjanji akan mengajarkan.

Hingga pada suatu ketika, di sebuah senja dengan matanya yang menyelinap di balik atap rumah Ima, Heri terdiam dan menatap mata Ima dalam.

”Setelah lulus ujian sekolah nanti, aku berangkat dengan orang tuaku ke kota lain, Ri,” katanya.

”Ke mana?”

”Tidak tahu, orang tuaku masih ragu.”

”Tentu ada satu dua kota yang mereka sebutkan namanya.”

”Medan, Jakarta, atau Surabaya.”

”Tidak bisakah kau di sini saja?”

Ima menggeleng.

”Kau boleh tinggal di rumahku. Nanti kukatakan pada ibu untuk siapkan kamarku jadi kamarmu. Aku tidur di ruang tengah, tidak masalah.”

”Tidak, Ri. Ibu dan ayahku tentu tak akan beri restu. Aku satu-satunya anak perempuan dan kepadakulah semua cita-cita ditumpukan.”

Heri tak kuasa membalas.

”Berdoalah semoga kita bisa berjumpa kembali.”

”Kapan?”

”Tidak tau, Ri. Tapi aku janji.”

”Kutunggu kau menemuiku. Boleh kutitip sesuatu?”

Hampir gantung percakapan sebab di langit awan mendung. Ibu Ima memanggil dan angin meniupkan gigil. Tinggal Heri sendiri.

Sepekan berlalu semenjak rumah di halaman kosong. Sebuah keluarga baru telah tinggal di situ. Sebenarnya Heri bisa saja keluar dan bercengkerama, bermain seperti sebelumnya dengan teman-teman lainnya. Tapi berubah ia sejak Ima pergi dan tidak tahu kapan akan kembali.

Suatu hari tahulah Heri bahwa kepergian Ima lantaran kebangkrutan perusahaan ayahnya, Pak Burhan. Keluarga Ima jatuh miskin, dan demi menutupi rasa malu, mereka pindah ke kota lain untuk memulai kehidupan yang baru.

Lama Heri ingin berkabar dengan Ima, tapi ia tidak tahu gadis itu sekarang berada di mana. Ingin ia tanyakan apa benar kabar kebangkrutan yang tersiar. Tapi bagaimana sementara ia sendiri hanya bisa di rumah mengurung diri.

Tahun-tahun berlalu dengan malang dan penuh peluh juang bagi Ima dan keluarga. Tidak bisa mereka masukan Ima ke sekolah lanjutan, apatah lagi membayangkan tentang kampus pilihan.

Keluarga Ima membuka warung di pinggir jalan, dari petang hingga tengah malam mereka berjualan. Dengan demikian, mereka bisa bertahan untuk membayar kontrakan dan makan. Hidup seperti itu Ima mampu dan mau. Tidak masalah baginya tinggal di rumah sederhana dan tidur di kasur yang tidak empuk sebab tak berisi cukup kapuk.

Lama mereka bertahan hidup dan berusaha agar semua kebutuhan cukup. Sampai suatu ketika seorang pelanggan datang untuk makan. Dipesannya beberapa menu masakan dan Ima-lah yang menghidangkan. Melihat ulet dan rajinnya gadis berkaki panjang dan rambut yang sepinggang itu, jatuh hati ia. Sering datang si pelanggan, bahkan katanya ia sering lupa bahwa warung Pak Burhan tutup setiap akhir bulan.

Ima yang baik dan cantik sangat mudah membuat hati siapa pun tertarik. Demikian pula yang terjadi pada pelanggan tadi, seorang lelaki yang baik budi. Ia datang dengan berani ke rumah Pak Burhan dan menyatakan diri ingin melamar Ima sebagai Istri.

Setelah hari itu, Ima agak murung wajahnya. Teringat ia akan seseorang yang menitipkannya sebuah sapu tangan yang kini telah usang. Ia berjanji akan kembali. Tapi apakah Heri di sana juga sedang menjaga hati atau malah sudah lebih dulu beristri? Sementara selama ini Ima tak pernah mengabari lewat surat pada Heri. Tanya bertanya, Ima sudah terpaku pada pikirannya, tidak mungkin Heri masih sendiri. Lagipula waktu itu mereka sama-sama masih remaja muda. Mungkin Heri hanya main-main.

Ima dinikahkan dengan sangat sederhana. Tidak banyak yang tahu tentang pernikahannya, juga tetangga lama yang ada di Sumatera.

Waktu berjalan sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan. Matahari timbul tenggelam lalu digantikan malam. Dari pernikahannya, Ima melahirkan satu anak laki-laki yang diberinya nama Heri, sebagai ganti kekasih yang kabarnya entah bagaimana kini. Suaminya tidak tahu-menahu soal itu.

Heri tumbuh menjadi laki-laki tampan. Ia bekerja di sebuah perusahaan dan pelan-pelan mampu menjadikan keluarga mereka mapan. Rumah mereka berangsur-angsur berganti tembok setelah sebelumnya hanyalah papan. Heri bisa membeli sebuah sepeda motor bekas untuk jadi kendaraannya pergi bekerja. Rajin sekali Heri menabung dan keuangan dengan detail ia hitung. Suatu ketika cukup uangnya dan lahir niat dalam hatinya untuk menikahi seorang wanita.

Sebentar termenung Ima, waktu ternyata bergulir tidak lama. Rasanya baru kemarin ia dan suaminya jadi pengantin, sekarang Heri sudah menyatakan niatnya dengan yakin.

Namun, apa hendak dikata, setiap kehidupan tidaklah selalu bahagia dan sempurna. Menantu Ima tidak begitu menyayangi mertuanya. Setelah mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah menemani ayah dan Ibu Heri, mulai terlihat jelas tentang sikap menantunya yang tak sopan dan keras.

Kecewa merayapi hati Ima yang kian tua. Suaminya yang berumur lebih tua belasan tahun darinya sudah sakit-sakitan sejak lama. Kerepotan ia mengurusnya sendirian. Beberapa kali ia memanggil menantu untuk mendapatkan bantuan, tetapi Ima hanya menerima suara kaki yang dihentakkan dan pintu dibanting dari kamar samping. Mengelus dada ia.

Setahun setelah Heri menikah, Ima kembali mendapatkan musibah. Suaminya pulang kepada yang kuasa tepat di hari pertama bulan puasa. Sedih dirasakan Ima dan tangisnya tak pernah bisa ia tahan sampai sepekan. Heri ingin menemani, tetapi tak bisa meninggalkan pekerjaan yang mesti diurusi. Tiga hari setelah ayahnya pergi, Heri mesti kembali seperti biasa menjalani hari-hari.

Namun, apa hendak dikata, setiap kehidupan tidaklah selalu bahagia dan sempurna. Menantu Ima tidak begitu menyayangi mertuanya. Setelah mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah menemani ayah dan Ibu Heri, mulai terlihat jelas tentang sikap menantunya yang tak sopan dan keras.

Karena sedih yang terlampau perih, tak berniat Ima untuk masak ke dapur atau bahkan hanya membeli bubur. Dibiarkannya perutnya lapar dan tubuhnya menahan itu sampai bergetar. Dalam hal memasak, istri Heri sering sekali abai, ia beralasan tidak suka dengan aroma cabai, dan Ima tidak terbiasa memaksa. Heri mengalah. Dibawakannya sekantong makanan yang dibeli dari sepanjang pasar yang dipenuhi bazar.  Kantong itu selalu besar. Isinya lengkap, dari sayur, ayam, ikan, dan sesekali buah naga kesukaan Ima.

Suatu pagi yang lindap, tidak cerah tidak hujan setelah enam hari Lebaran. Heri pergi ke luar kota untuk mewakili perusahaanya dalam rapat bisnis yang cukup besar. Ima hanya tinggal berdua dengan menantunya. Heri berpesan, makan ibu tolong diperhatikan. ”Kalau kamu tidak masak lagi, belilah lauk untuk teman makan nasi,” pesan Heri.

Istrinya mengangguk, wajahnya masih sangat mengantuk. Kembali ia ke kamar dan tidur ia lanjutkan setelah sepeda motor Heri sudah tidak terlihat di ujung jalan.

Menantu Ima tidak keluar kamar sampai terdengar azan Ashar. Ima coba memanggil.

”Nak, jadikah membeli lauk untuk ibu berbuka?”

”Aku kan gak puasa, Bu! Kalau mau beli lauk pergi sendiri, itu uang yang dikasih Heri ada di atas meja,” sahut menantunya dari dalam kamar.

”Ibu tidak kuat berjalan ke pasar, Nak. Bisa bantu ibu belikan sebentar?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan menantunya membentak dengan kata-kata, ”Kenapa ibu merepotkan saya saja? Ibu kan punya kaki, bisa jalan sendiri. Kalau bisa usaha, kenapa harus menyusahkan saya?”

Ima terkejut bukan main. Belum pernah ia dengar istri Heri membentaknya begini.

”Kenapa Ibu melihat saya begitu? Tidak suka? Kalau tidak suka, tinggal pergi saja. Tinggal naik angkutan umum ke bandara dan pergi ke mana Ibu suka. Atau pulang sekalian ke Padang!”

Beribu kali Ima mengucap istighfar dalam dada. Tidak pernah disangkanya memiliki menantu seperti ini. Menetes air mata di pipi ibu kandung Heri. Kembali ia ke kamar. Dilihatnya dinding dengan potret dan gambar masa lalu.

Berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Beberapa sudah berdebu. Matanya mendapati diri yang masih gadis, foto pernikahannya dengan seorang lelaki berkumis tipis, dan foto anaknya Heri yang sedang menangis. Ia merasa masa bahagianya sudah habis.

Pendek pikir Ima. Tidak ditunggunya Heri kembali. Dimasukkannya beberapa helai pakaian dan sedikit makanan. Sebagai bekal buka puasa di perjalanan. Keluar ia dari rumah saat itu juga dengan air mata masih mengalir di pipinya. Ia belum tahu akan pergi ke mana.

Di tepi jalan saat ia menunggu angkutan, tetangga bertanya, ”Mau ke mana Bu Ima? Kenapa tas besar begitu yang dibawa? Kenapa tidak diantar Heri saja?”

Tapi Ima menjawab dengan kebohongan belaka, ”Heri akan lembur semalaman. Dan saya sudah rindu sekali dengan kampung halaman. Tidak sempat pulang sewaktu Lebaran.”

Sampailah Ima di bandara, dibelinya tiket untuk keberangkatan malam itu juga. Beruntung satu tiket terakhir tersisa, Ima membayarnya meski harus menghabiskan hampir seluruh tabungan yang ia punya.

Sekarang Ima di ruang tunggu. Menyeka air mata yang masih turun satu-satu. Setelah lama duduk di bangku panjang itu, ia baru khawatir bagaimana jika nanti pada Heri ia rindu? Tahukah ia di mana Ima berada? Tapi terpikir olehnya, nanti ia akan kirimkan surat. Alamat rumahnya tentu ia ingat.

Pesawat telah tiba, penumpang diminta naik dan segera diberangkatkan ke Padang. Ima berjalan ke antrean pemeriksaan tiket penerbangan. Ia berjalan pelan sekali dan sedikit goyah sebab lelah. Ia berjalan seolah menghitung langkah sebelum berpisah dengan kota yang baginya penuh kisah.

…

Heri, si lelaki tua duduk di beranda, memandangi rumah di seberang yang sudah berubah menjadi kios serba ada. Tapi dalam ingatannya gadis Ima masih di sana. Bermain sepeda dan belajar bersama dengannya. Kini Heri benar-benar sendiri setelah ibunya pergi menghadap ilahi belasan tahun lalu. Ia tak berniat menikah sebab hatinya sudah dibawa Ima ke tempat yang entah.

Malam itu ia menyerah. Setelah puluhan tahun ia habiskan menunggu Ima di bandara, ia  akhirnya menyadari suatu hal, dalam hidup ada yang mesti diperjuangkan juga diikhlaskan, ada yang harus dinanti dan dibiarkan pergi. Ia menengadah, melihat bulan yang melengkung seperti senyum yang merekah. Seolah berusaha menghapus sesalnya, ”Mengapa tak terpikir olehku sejak dulu? Tentu tak akan sendiri aku malam ini.”

Ketika diluruskan pandangannya kembali, dilihatnya seorang wanita mendekat padanya. Membawa sebuah tas besar, ”Permisi, Bang. Saya mencari seorang teman bernama Heri. Seingat saya dia tinggal di daerah sini. Tapi…,” beralih matanya ke kios serba ada.

”Siapa?”

”Heri.”

”Maksud saya, nama kakak siapa?”

”Oh, saya Ima, Bang.”

Pelan angin berembus di awal Agustus. Lengkungan bulan bersembunyi di balik awan. Heri tidak mengerti bagaimana Tuhan mengatur semua ini terjadi, tapi ia yakin Heri yang wanita ini maksud memanglah dirinya sendiri. Diulurkannya tangan dengan percaya diri, ”Heri Zulfandi,” katanya.

Awan semakin berat di langit dan dingin angin mulai menggigit.*

Batusangkar, 19 Mei 2019

***

Maya Sandita : sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam. Tergabung dalam FPL, KOPI TANDA, PCRBM, Bagindo Rajo, dan Teater Ode Batam. Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi juga media cetak lokal dan nasional. Cerpen terbarunya ”Felicia” – Republika (2019), ”Lelaki di Bawah Lampu Jalan” – Kompas (2020), dan ”Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu” – Media Indonesia (2020). Peraih juara 1 dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul cerita Batu Godang Putaran Toluak. Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme, Facebook Maya Sandita, dan email sanditacorp@gmail.com

sumber : kompas.id, 27 Jun 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme