Cerpen : Ngrowot oleh Prima Yuanita

DUA tahun berlalu dan baru sekarang kusaksikan mereka bertemu. Di satu atap yang sama. Di satu ruang yang sama. Namun, tidak dengan status sama. Aku sengaja menyendiri di bibir pintu supaya mereka bisa saling berbincang. Setidaknya ada sapaan yang terdengar. Entah itu dari bapak ke ibu atau pun sebaliknya. Kulihat padasan di ujung halaman masih … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tungku di Tubuh Ibu oleh Prima Yuanita

Kau bilang tungku dapur itu setiap hari harus mengepul. Jika tak mengepul, maka rumah kita ibarat sebuah kuburan. Dan jika belum mau menjadi penghuni kuburan, maka kita harus memasak. Memasak apa saja asal bisa menciptakan asap dan aroma yang sedap. Padahal aku tak bisa memasak dan tak suka memasak. Tapi demi melenyapkan kemuraman wajah yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelaki yang Selalu Berseragam oleh Prima Yuanita

PADA mulanya lelaki tua itu hanya suka memakai seragam ke mana-mana. Setiap hari, dengan atribut lengkap yang melekat. Kecuali Minggu, ia akan berjalan-jalan di sekitar taman menikmati udara segar. Tetapi ia tetap mengenakan seragam. Seragam olahraga yang agak kedodoran. Bagi dia, berseragam itu menyenangkan. Orang-orang menjadi hormat dan segan. Apalagi saat bertemu di jalan. Mereka … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cendol Celup oleh Prima Yuanita

SIANG baru jelang, namun Warni sudah kemecer memikirkan es cendol. Mulutnya berkedut, lidahnya bergetar-getar. Ia meng-oyak-oyak Dali, suaminya, untuk mencarikan es cendol yang mangkal di Alun-alun. “Kata Putri kemarin, nama warungnya ‘Cendol Celup’, yang jualan simbok-simbok udah sepuh!” “Kalau ndak ketemu gimana?” “Pokoknya harus ketemu!” sahut Warni sambil mengelus perutnya yang menggembung di balik daster. … Baca Selengkapnya