Cerpen : Klown dengan Lelaki Berkaki Satu oleh Ratna Indraswari Ibrahim

  Tom, kau masih ingat kan, ketika ibunya Klown meninggal (badut yang kita sayangi sejak kecil), berduyun-duyun orang bertakziyah (waktu itu kita baru berumur 10 tahun). Di sudut rumah ini kutemukan pak Klown buru-buru menghapus air matanya. Sesungguhnya air mata itu seperti rangkaian bunga melati yang harum dan jatuh satu per satu! Aku tercengang! Setelah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Delayed oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Sebagai seorang perempuan, sekalipun berprofesi dokter, Nana menganggap minggu-minggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau, adik bungsunya sambil menangis mengatakan, anaknya, Tantiana, positif hamil. Padahal, dia baru berusia 17 tahun, kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya, Alvin. Adiknya berkata, “Datanglah bersama Dara, kalian berdua kan dokter. Aku … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bersama Kupu-kupu, Nuke Terbang oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu. Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ayah Pulang oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Mak Yem meneleponku malam ini, “Tadi siang, Ayah kena serangan jantung lagi, sekarang dirawat di rumah sakit. Nana, sebaiknya kau pulang, tengok ayahmu.” “Saya besok masih ada pekerjaan, mengapa tidak Yu Ning saja?” “Mbakmu bilang, Naya (anaknya) sebulan lagi akan ikut ujian SMP. Jadi, dia akan mengirimi kamu uang, agar bisa pulang melihat ayahmu.” “Bagaimana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tina Diam Saja oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Keterangan yang dibaca oleh Dita, ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Padahal, menurut dokter neurolog, tidak ada yang salah dalam diri gadis ini.” Perempuan remaja ini, tidak berbicara, tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara, ”Tina, aku mendengar dari Mamamu, kau tidak bisa bicara atau tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Baju oleh Ratna Indraswari Ibrahim

“Saya kira ini kejahatan yang luar bisa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar bisa, aku bukan budak atau selir! Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tamu oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Januari 1965. Tahun itu, aku berusia delapan tahun, dan namaku Dara. Aku punya dua adik laki-laki, yang menurut Mama harus lebih diperhatikan karena mereka masih kecil (sepulang sekolah aku harus ikut menjaganya). Sementara Mama merawat anggrek, yang bergelantungan di pohon belakang rumah. (Mama berharap anggrek ini, kelak bisa menambah biaya sekolah kami. Menurut Mama, Papa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Warna Ungu oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Siang yang paling berkeringat. Semua keluarga besar Hendrawan tertidur. Semalam, sampai larut malam, mereka menemani calon pengantin untuk melewati malam widhodharenan. Nanti tepat pukul 14.30 WIB, pengantin akan melaksanakan ijab kabulnya. Setelah itu mereka akan pergi ke tempat resepsi di sebuah gedung dengan dominasi warna ungu. (Tempat resepsi pernikahan yang paling bergengsi di Kota Malang). … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kabar dari Bambang oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Dini (wartawati di kota ini) masuk ke sembarang tempat praktik dokter (sudah hampir jam sepuluh malam). Dini tidak bisa menanahan gatal, yang sudah menjadi bengkak di seluruh tubuhnya (dokter itu sebetulnya sudah menutup pintu ruang praktiknya). “Tadi makan udang? Di pernikahan sahabat Anda, berarti alergi udang hindari makan itu, ini resepnya.” “Saya tidak pernah alergi … Baca Selengkapnya