Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bersama Kupu-kupu, Nuke Terbang oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Posted on Ming, 19 Agu 2007

Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu.

Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, “Rumah peninggalan Mami ini akan kubuat home stay saja. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan sekaligus mengawasi anak-anak.”

Semua mengangguk-angguk. Memang rumah tua ini cocok untuk home stay, karena halamannya luas dan asri (rumah semodel ini sudah jarang ada di kota Malang). Dari studi banding yang dilakukannya di beberapa home stay yang semodel dengan rumahnya, sekarang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dari negeri Belanda yang ingin melihat bangunan di zaman Hindia–Belanda yang digarap oleh Thomas Krasen pada tahun 1914.

Namun, setelah berminggu-minggu, dibukanya home stay ini tak ada seorang pun tamu yang menginap di home stay itu.

Padahal, dia sudah mengiklankan di koran lokal, internet, dan radio-radio swasta. Apa yang menjadi keistimewaan dari home stay ini, yaitu suasana Hindia-Belanda tampak terpancar di setiap sudut rumah ini.

Suatu malam, ketika duduk sendirian di teras, dengan perasaan senyap, tiba-tiba Nuke teringat ucapan almarhum Mami, “Hari ini ada banyak sekali kupu-kupu di halaman kita. Pertanda akan banyak tamu ke rumah. Bisa jadi saudaraku atau saudara Papimu akan datang.”

Kemudian secara bergegas, Mami menanak nasi lebih banyak dari biasanya dan menyuruhnya (pada waktu itu dia sudah berusia 12 tahun dan duduk di kelas satu SMP), ke warung sebelah untuk membeli telor, tempe, minyak, lombok. Dan Mami selalu bilang, “Kalau saudara-saudara kita datang, mereka kan dari luar kota, kita harus menjamu mereka dengan makanan. Namun, hari ini aku malas ke pasar, lauknya ditambahi telor yang dilomboki saja.”

Waktu itu, dia merasa Mami bahagia sekali…. Konon, ketika dia berusia delapan tahun, Papi pergi, tak pernah kembali! Menurut Mami, Papi-nya menderita amnesia. Bisa jadi tidak tahu jalan pulang ke rumah atau Papi sudah meninggal! Masih menurut Mami, Papi kadang-kadang datang dalam bentuk lain, menjadi kupu-kupu dan mengisyaratkan cintanya pada dia dan Mami. Mami juga bercerita, kalau ada sepasang kupu-kupu, mereka dahulunya adalah sepasang kekasih. Ketika Nuke menanyakan, “Apakah Mami dan Papi akan menjadi sepasang kupu-kupu?”

“Nduk, sekalipun pada waktu itu, kami sudah menikah selama 10 tahun, tetap seperti sepasang kekasih. Bisa jadi, aku dan Papimu akan menjadi sepasang kupu-kupu, atau mungkin juga tidak. Yang penting hari ini, aku harus bekerja keras, agar kau bisa sekolah dengan nyaman.”

Waktu itu, dia merasa kecewa, terpikirkan olehnya, Mami tidak pernah memiliki cinta itu lagi. Dia selalu ingat ucapan Mami itu. Namun, dia berpikir apakah dengan isyarat kupu-kupu itu, para tamu akan berdatangan ke home stay-nya, seperti ketika dia masih kecil. Yah di halaman rumahnya hampir tidak ada kupu-kupu lagi yang beterbangan seperti di masa kecilnya! Banyak orang bilang, itu karena polusi udara atau mungkin Mami dan Papi-nya merasa tidak perlu datang lagi untuk mengirim cintanya, karena dia sangat mencintai suami dan anak-anaknya.

Dia menceritakan itu di meja makan kepada anak-anak dan suaminya. “Ma, kalau begitu kita harus mendatangkan kupu-kupu di kebun kita, agar kupu-kupu itu berdatangan lagi bersama cinta Kakek dan Nenek dan para tamu home stay. Coba saya carikan di internet, bagaimana mendatangkan kupu-kupu di kebun kita.”

Kemudian, Nuke membaca dari internet, bagaimana caranya membudidayakan kupu-kupu. Kamu dapat mendatangkan kupu-kupu di kebunmu dengan umpan, makanan, tumbuhan (tumbuhan dan bunga), air, perlindungan dan tempat untuk meletakkan telur. Kupu-kupu itu akan mengisap sari pati madu dari bunga, kemudian setelah bertelur akan menjadi ulat yang sangat rakus memakan daun-daunan. Dan ulat-ulat itu menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Yang betina akan betah bertelur di kebunmu.

Nuke mencoba mengikuti apa yang tertera dalam tulisan itu, melakukan hal-hal yang disarankan. Tiba-tiba Nuke ingat masa kecilnya, kala bermain-main di halaman rumahnya ini, sendirian saja. Karena merasa harus pergi jauh. Ketika Mami memarahinya atas kesalahan yang sampai sekarang tidak pernah dimengertinya. Ada kupu-kupu bagus hinggap di pundaknya, Nuke merasa yang datang itu Papi-nya yang sedang menghibur dirinya. Melihat kupu-kupu itu, sering sekali dia memimpikan terbang dan bersayap seperti kupu-kupu. Di kerajaan kupu-kupu, dia bertemu lagi dengan Papi yang dirasanya waktu itu bisa melindunginya dari kemarahan Mami. Papi mengajarkan kepadanya bagaimana memberi dan menerima isyarat cinta itu. “Kalau kau sudah dewasa, jadilah orang yang bisa mencintai. Yah, seperti sepasang kupu-kupu yang berputar-putar di halaman ini.”

Sesungguhnya, baru sekarang dia tahu bahwa kupu-kupu itu berimigrasi jauh sekali. Dari satu benua ke benua yang lain. Jenis luar biasa ini (kupu-kupu raja) hidup di Kanada bagian selatan. Mereka bisa berimigrasi ke California atau lebih ke selatan lagi yaitu Meksiko. Semua kupu-kupu jenis raja ini bertemu satu sama lain di sepanjang perjalanan. Mereka tidak memulai perjalanan dalam sembarang hari. Tapi pada satu hari tertentu di musim gugur, yaitu ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Setelah membaca artikel ini, keinginannya agar kupu-kupu berdatangan semakin lebar. Karena setiap kali dia bermimpi dia bisa pergi terbang jauh, bersama kedua orangtuanya.

Nuke kemudian menanam bunga-bunga yang di rasanya penuh madu, agar kupu-kupu itu segera berdatangan dan betah di kebunnya.

Hari-hari selanjutnya, home stay Nuke tidak juga didatangi oleh seorang tamu pun dan bahkan tidak juga oleh kupu-kupu. Padahal, kalau dibanding dengan home stay lain, tempatnya tidak kalah menarik. Rumah tuanya, menjadi sangat artistik dengan ditata sana-sini, persis seperti zaman kolonial Belanda.

Suaminya mengusulkan untuk membuat iklan di mana-mana lagi. Dan Nuke punya ide untuk menangkar kupu-kupu saja di halaman rumahnya. Dia mendapat sepasang kupu-kupu yang menurut penjualnya, adalah jantan dan betina. Dia ingin mengawinkan kupu-kupu itu. Ketika itu juga dibacanya dengan penuh semangat pendapat ahli biologi di universitas Buffalo (AS). Kupu-kupu betina lebih memilih pasangan kawinnya yang memiliki pupil atau titik putih pada sayapnya. Sebaliknya, bentuk ornamen sayap, warna dan ukurannya tidak terlalu dipedulikan oleh kupu-kupu betina.

Nuke, menaruh kedua kupu-kupu itu di sangkar, tapi kelihatan kedua kupu-kupu itu tidak melakukan apa pun. Sehingga, Nuke memutuskan untuk membuka sangkar itu dan membiarkan mereka secara alamiah saja, meletakkan kedua kupu-kupu itu pada bunga yang di rasanya penuh sari pati madu. Berhari-hari kedua kupu-kupu itu masih berada di sana, pada hari ketiga pagi ini, dia melihat kedua ekor kupu-kupu itu tiba-tiba sudah terbang tinggi di atas kepala Nuke, terbangnya jauh sekali meninggalkan Nuke, rumah dan kebun ini. Untuk sesaat, Nuke merasa sedih dan suaminya bilang begini, “Kau tahu yang memberi rezeki itu Tuhan, bukan kupu-kupu. Jika kau suka pada kupu-kupu terserahlah, untuk menghilangkan stres agar kau tidak memarahi aku dan anak-anak.”

“Apakah, aku harus balik kerja? Perusahaan itu masih memberikan peluang padaku, karena mereka tidak cocok dengan penggantiku yang baru.”

“Kau kan sudah setengah jalan mengapa harus mundur, itu bukan watak seorang Nuke. Kau sendiri bilang, Mamimu mulai dengan sebuah toko kecil di rumah, sebelum ada toko lain di pusat kota. Dan kamu kan sudah berniat menjadikan kebun ini menjadi rumah bagi kupu-kupu.”

Nuke kembali membaca beberapa artikel yang didapatnya dari browsing. Sekali lagi, dibacanya bagaimana beternak kupu-kupu di kebunnya. Dia merasa sudah melakukan petunjuk-petunjuk yang ada dalam artikel tersebut. Namun, belum juga tampak hasilnya.

Kemudian Nuke merasa memiliki ide yang cemerlang lagi. Kalau belum juga kupu-kupu datang di kebunnya, dia ingin menghiasi kebunnya dengan kupu-kupu buatan. Oleh karena itu, dia meminta tolong temannya yang perajin kayu, untuk membuatkan kupu-kupu dari kayu. Nuke memberi contoh dari 150.000 jenis kupu-kupu, hanya yang pernah dilihatnya, di kebun waktu masa kecilnya, itu saja yang ingin dibuat tiruannya. Di mana kupu-kupu itu, pasti Papi dan Maminya yang mencintainya dan datang hanya untuk mengucapkan perasaan cintanya.

Perajin itu membuat beraneka spesies kupu-kupu dengan sangat memuaskan Nuke. Pagi itu juga dia memasang seluruh kupu-kupu dari kayu di halaman home stay-nya. Suami dan anak-anaknya menganggap kupu-kupu buatan itu, kalau dari jauh sangat mirip dengan yang asli.

Besoknya ada tamu pertama yang datang. Tamu itu sekeluarga dengan dua anak laki-laki yang mungkin masih duduk di sekolah dasar. Kegembiraan Nuke menjadi lenyap, ketika dia tahu setelah tamu itu pulang. Kupu-kupu buatan itu hampir semuanya rusak karena ulah kedua anak tamu itu.

Nuke kemudian meminta kepada perajin kayu untuk membuatkan lagi kupu-kupu kayu yang sudah dirusak oleh anak-anak tamu itu. Menurut perajin itu, bahan baku kayu semakin sulit, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan Nuke secepatnya.

Dengan kesal, Nuke mencoba mencari kupu-kupu yang masih utuh. Dari sekian puluh kupu-kupu itu, Nuke hanya menemukan sepuluh kupu-kupu yang masih utuh. Dengan sedih ia menaruh kupu-kupu itu di setiap sudut rumahnya. Namun setelah itu, ia melupakan ide-idenya tentang kupu-kupu itu. Karena, tiba-tiba tamunya begitu banyak. Dan suaminya bilang, “Nuk, ini bukan karena kupu-kupu, rezeki ini dari Tuhan.”

Nuke, mengangguk-anggukkan kepala, dia merasa menjadi sesuatu lagi, ketika kamar-kamar home stay-nya dipenuhi banyak tamu. Kali ini, dia merasa harus memeriksa kebun-kebunnya yang sudah dipenuhi lagi oleh kupu-kupu buatan perajin itu.

Nuke tercengang, pagi ini dia merasa orang yang paling bahagia. Di seputar pohonnya, banyak sekali kepompong yang bergantungan dengan sebuah tali.

Kupu-kupu yang berwarna-warni itu, beterbangan di kebunnya dan ketika isyarat cinta itu datang lewat kupu-kupu, Nuke sedang sibuk melayani tamu-tamunya!

Malang, 25 Juli 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme