Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Baju oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Posted on Ming, 03 Okt 2004

“Saya kira ini kejahatan yang luar bisa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar bisa, aku bukan budak atau selir! Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalkan oleh Dursosono, suami-suamiku cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukaimu daripada Dursosono yang memang tokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuananku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Air mata yang ada di sudut mata kangmas Yudistira atau kemarahan yang ditahan-tahan oleh Bima tidak bisa menolongku pada saat itu. Arjuna lelaki yang peka (lelaki yang paling kucintai) tidak berbuat apa pun dengan anak panahnya. Si kembar Nakula dan Sadewa cuma bisa menangis dalam hatinya, Destarata tidak juga berbuat banyak ketika kusimpuhkan diriku untuk meminta sikapnya. Juga eyang Bisma, paman Widuri yang terkenal bijak, juga tidak berbuat apa-apa. Dalam hal ini mereka menganggap semuanya harus mengikuti aturan main hukum yang berlaku!

Aku menangis, sakit hati, bukan saja kepada Dursosono tetapi juga kepada suami-suamiku. Ini bukan cinta kalau mereka tidak berbuat apa pun kepada kekasihnya. Tiba-tiba aku merasa iri kepada Shinta yang direbut kembali oleh Rama dari Rahwana dengan segala perjuangan dan penderitaannya, sementara diriku mereka biarkan begitu saja. Kalau aku tidak ditolong oleh para Dewa, sudah dari tadi seluruh tubuhku ditonton oleh mereka, dilecehkan dengan nafsu hewaninya di muka suami-suamiku.

Seharusnya suamiku tidak perlu menepati janji akibat dari kecurangan dalam perjudian ini. Di kaputren, para dayang sudah berbisik bahwa permainan dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para Pandawa pasti kalah.

Aku sebetulnya sudah melarangnya. Tapi, suami-suamiku yang perkasa tidak memedulikan naluri seorang istri. Mereka bilang, perjudian ini cuma menghormati tuan rumah yang sudah mengundang kita. Kalau kalah, mereka berjanji akan berhenti sebelum sepuluh kuda dan kereta perang dipertaruhkan.

Menurut pendapat mereka, dengan permainan ini mereka berharap akan terjadi sebuah perjanjian bahwa Hastinapura akan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari perang saudara.

Aku tidak percaya, tapi suami-suamiku bilang kalau perempuan selalu berbicara dengan perasaan tidak dengan otak. “Bersenang-senanglah di kaputren melihat taman yang indah yang akan menjadi milik kita kembali Dinda!”

Aku lupa siapa yang bilang begitu. Suami-suamiku memang memiliki satu pemikiran sekalipun watak mereka berbeda.

Duh Gusti………., mereka membuka bajuku, sepertinya aku ini budak atau pelacur. Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. Tubuh perempuanku adalah ekspresi dari seluruh jiwa ragaku. Aku selalu menuntut mereka memperlakukan aku dengan perasaan yang saling menghormati ketika kita bercinta. Suami-suamiku kuajari menyentuh dengan keindahan dan saling menghormati. Begitulah yang kita lakukan bertahun-tahun. Tapi, sekarang mereka tidak berbuat apa pun. Sungguh menjijikkan ketika kulihat suamiku cuma menunduk dan diam-diam saja (apakah mereka kali ini begitu bodoh, tidak melihat kecurangan itu?).

Pada saat itu aku memohon pada Dewata untuk mati saja daripada dihina seperti ini. Di mana orang-orang bersorak-sorai memberi semangat kepada Dursosono dengan menari-nari. Nampak olehku nafsu liar yang luar biasa dari mereka. Padahal mereka memiliki seorang perempuan juga, yaitu istri, ibu-ibu mereka, saudara perempuan, dan anak-anak mereka. Tapi, bagaimana aku bisa menuntut seperti angan-anganku ini. Aku sama sekali tidak mengerti ketika melihat Yudistira yang bijak cuma bisa menundukkan kepalanya. Padahal perempuan selalu menganggap suamilah yang akan melindungi dia melawan musuh-musuhnya.

Begitulah, aku sekian lama bermimpi suami-suamiku satria yang gagah perkasa akan menumbangkan darah demi melindungi istrinya. Tapi, kenyatannya mereka cuma diam-diam saja. Aku tidak tahu apakah dalam kejadian ini aku masih hidup atau sudah mati? Yang jelas aku mengatupkan bibirku karena aku tidak ingin sentuhan-sentuhan yang menjijikkan itu yang akan segera menikmati apa yang ada dalam tubuhku.

SEJAK kecil ibu sering berkata, “Hormatilah tubuhmu sendiri.” Oleh karena itu, sejak kecil aku mesti memperlakukan setiap bagian tubuhku dengan rasa sayang dan hormat. Dan sebagai permaisuri Hastinapura aku mengajari perempuan di sekelilingku, untuk mengekspresikan dengan hormat, dan indah, tubuhnya sendiri maupun tubuh suami mereka.

Dursosono masih menarik bajuku, dan atas pertolongan Krisna, baju dan kainku tidak pernah terbuka. Padahal aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjaganya pada waktu itu.

Yang ada pada waktu itu, rasa sakit yang luar biasa di seluruh urat nadiku. Kalau saja Dewata pada waktu itu berdiri di mukaku yang kumohonkan adalah kematian! Rasanya aku sudah mempunyai firasat dan mimpiku yang berturut-turut bahkan sempat aku ceritakan pada suami-suamiku bahwa aku tidur dengan telanjang dan diperkosa oleh penjahat-penjahat Hastinapura.

Suami-suamiku dengan santun mendengarkan ceritaku, tapi mereka tidak mempercayai mimpiku. Undangan dari Hastinapura mengharu-birukan perasaan mereka dan setiap kecemasanku tidak pernah ditanggapi oleh mereka. Bahkan mereka dengan asyiknya berlatih main dadu.

Sesungguhnya, pada saat itu aku ingin sekali bumi ini terbelah dan aku masuk ke dalamnya. Namun, ketika mendengar sorak-sorai mereka dengan nafsu hewaninya dan ketidakberdayaan suami-suamiku ketika Dursosono membuka bajuku, kemarahan meledak di hatiku. Aku tiba-tiba ingin menyelesaikan masalah ini dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, aku mencintai suami-suamiku dan inikah balasan mereka? Pernikahan kami yang bahagia berakhir dengan kepicikan mereka. Suami-suamiku seperti tidak menghargai lagi ekspresi tubuhku dan keberadaanku di tengah-tengah mereka.

Aku tidak tahu bagaimana mungkin suami-suamiku bisa terjebak dengan peristiwa ini. Dayang-dayangku saja tidak punya suami yang kelakuannya begitu hina-dina seperti ini. Bisakah kau bayangkan? Aku Drupadi dilahirkan dengan puja-pujian orangtuaku kepada Dewa Shiva selama beberapa tahun lamanya. Sekalipun kerajaan orangtuaku tidak sebesar Hastinapura, aku Drupadi yang diberi kebebasan oleh Romo untuk memilih sendiri suami-suami lewat sayembara.

Kupilih satria yang berbaju brahmana. Aku tidak pernah tahu kalau kangmas Arjuna yang memenangkan lomba membengkokkan busur itu adalah putra Kunti, sebuah kerajaan yang paling adikuasa. Jadi jelas aku tidak memilih suami-suamiku karena dia keturunan raja-raja Hastinapura. Bersama suami-suamiku aku tinggal di hutan, (ketika mereka diasingkan kami masih pengantin baru). Apakah ini bukan sebuah cinta yang tulus? Dan pada saat ini mereka menafikan cintaku, penderitaanku, dan mimpi- mimpi indahku. Menjadi bayang-bayang suram yang menaungi diriku.

Aku merasa pusing dan muntah-muntah. Sungguh aku tidak bisa menangis. Kupejamkan mataku hingga tidak kulihat kenyataan yang begitu dahsyat di mana suami-suamiku cuma pandai menundukkan kepala saja di tengah keliaran nafsu para Kurawa yang semakin kulihat sebagai iblis-iblis. Untuk berapa saat aku pingsan. Aku menyesal ketika aku terbangun dan melihat Dursosono masih mencoba menarik-narik busanaku sedangkan suamiku dan sesepuh Hastinapura sudah kehilangan akal untuk menghentikan kejadian ini.

Tiba-tiba, kemarahan membuat aku berteriak-teriak, “Destarata ambillah sikapmu, engkau tetap ayahanda dari mereka.” Aku lihat Destarata menjadi gemetar dan terduduk di kursinya. Eyang Bisma dan paman Widuri seperti blingsatan.

Kukatakan sekali lagi, “Baginda raja, tidak adakah lagi kebenaran di istana Hastinapura ini?” Aku lihat Destarata seperti dihantam dan akhirnya Widuri berkata, “Atas nama raja hentikan semua itu Baginda!”

Para Kurawa seperti mengaum.

Aku merasa bertarung sendirian di sepanjang waktu itu. Tiba-tiba air mataku jadi kering, kulihat Destarata yang tangannya terluka. Aku mencoba menahan seluruh kemarahan dan rasa benciku ketika Destarata memintaku membalut tangannya yang terluka.

Akhirnya Destarata berkata, “Mintalah apa saja kepadaku Drupadi, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Aku berkata, “Bebaskan Bima dan saudara-saudaranya.” Dan Destarata berkata kembali, “Kukembalikan Pandawa kepada kau sebagai suami-suamimu dan ini adalah anugerah dari raja Hastinapura.”

Kemarahan semakin meledak-ledak di dalam hatiku. Kurasakan penghinaan itu sampai ke urat nadiku. Aku kira ini bukan anugerah dari Destarata. Kurebut mimpiku sebagai perempuan.

Apakah suami-suamiku dengan caranya masih bisa disebut sebagai satria? Sementara itu, di sisi lain, aku masih menjadi bagian dari mereka, tak secuil pun yang akan menjadi milikku?

Jadi, setelah aku berikan seluruh jiwa dan ragaku kepada Pandawa tanpa seculi pun yang jadi milikku, aku jadi bertanya-tanya, “Siapakah diriku?”

Lantas “Aku bersumpah tidak akan menggulung rambutku sebelum keramas dengan darahnya Dursosono.”

Halilintar saling sambar-menyambar, Dewata menyaksikan sumpahku.

Para Kurawa dan suami-suamiku terpana! *

Malang, 1 September 2004

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme