Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Klown dengan Lelaki Berkaki Satu oleh Ratna Indraswari Ibrahim

Posted on Ming, 13 Jun 2010

 

Tom, kau masih ingat kan, ketika ibunya Klown meninggal (badut yang kita sayangi sejak kecil), berduyun-duyun orang bertakziyah (waktu itu kita baru berumur 10 tahun).

Di sudut rumah ini kutemukan pak Klown buru-buru menghapus air matanya. Sesungguhnya air mata itu seperti rangkaian bunga melati yang harum dan jatuh satu per satu!

Aku tercengang!

Setelah peristiwa itu (yang selalu menjadi obsesiku), bertahun-tahun kemudian, aku bertemu lagi dengan pak Klown, secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Malang dengan kereta api. Kami duduk bersebelahan, dia segera tahu siapa aku.

Pak Klown tersenyum kepadaku.

***
Tom, hal ini belum pernah kuceritakan kepadamu. Setiap kali sendirian, aku merasa melihat lagi air mata pak Klown.

Di kereta api ini beberapa orang menghampiri dan menyalami pak Klown. (Mereka kelihatan tersenyum, bahkan ada beberapa yang tertawa geli). Padahal aku tahu, pak Klown tidak sedang melawak. Ketika rombongan itu sudah pergi, pak Klown menoleh (aku sedang membaca buku).

”Aku senang, melihat kau suka membaca!”

”Pak Klown juga membaca?”

”Yah, aku membaca setiap kali ada kesempatan.”

”Maaf, di setiap lakon yang kulihat, peran pak Klown kok cuma jadi pembantu tua yang bodoh!”

”Ya, aku sudah tua dan hanya berperan itu-itu saja. Namun bukan berarti, aku tidak butuh membaca buku. Menurutku peran itu tidak hanya menampilkan kebodohan, tapi cara kita menertawakan diri sendiri. Ini sulit, karena ego melindungi kelemahan dan perlu keberanian untuk menetralisir ego itu.”

Aku Ona, perempuan muda (dua puluh dua tahun) melihatnya. Dan kukatakan, ”Aku akan belajar dengan pak Klown selama libur semester ini. Aku jenuh mempelajari ilmu di bangku kuliah.”

”Aku suka ngobrol dengan kamu.”

***

Tom, kemudian dia tidur dalam perjalanan yang jauh ini. Entahlah, mengapa baru sekarang aku menceritakan kepadamu sejujur mungkin tentang pak Klown.

Klown terbangun lagi. ”Ini tidur yang nyenyak sekali, kita sudah sampai di Jogja? Kau tahu, kami pernah manggung di kota ini. Tapi yang datang tidak banyak, karena di panggung lain ada musik dari Jakarta. Beberapa temanku sedih dan bilang, kita sudah terlampau tua untuk digemari anak-anak muda. Melihat kursi yang hanya terisi beberapa orang, tiba-tiba kami semua merasa sedih dan menangis bersama. Ketika dalam situasi kacau, kami harus naik panggung! Namun, kala itu para penonton tertawa sembari memegang perutnya.

Gemuruh tawa mereka luar biasa. Padahal saat itu, salah seorang teman kami ayahnya seminggu yang lampau meninggal, tapi aktingnya luar biasa, dialah yang menyulut tawa para penonton.”

Tom, aku nyeri mendengar buntut percakapan itu. Aku kira selama ini, apa pun yang dia lakukan di panggung mengalir begitu saja.

”Jadi selama ini pak Klown akting?”

”Aku memang harus belajar keras untuk akting seperti itu. Padahal, selama ini aku tidak pernah berpikir untuk jadi pelawak yang harus mengerti filosofi kehidupan. Waktu itu aku cuma menggantikan seorang senior yang sakit dan kulakukan itu dengan semangat muda yang sedang mencari identitas. Sebab, semua orang di kampung tahu, ayahku cuma gemar menikah tanpa pernah peduli pada anak-anak hasil pernikahannya. Masa kecilku lebih banyak kulewati dengan kesedihan, kesendirian dan selalu kurindukan seorang ayah yang bisa mengajakku jalan-jalan.

Setelah bertahun-tahun kemudian baru kutemukan sosok itu, adik sepupu ayahku yang pulang kampung karena kecelakaan lalu lintas, sehingga berkaki satu. Dari dia, aku belajar bagaimana orang bisa sabar melihat kelemahan setiap manusia. Salah satu caranya dengan melucu. Bersamanyalah aku baru tahu, melucu itu harus belajar!”

Sebelum muncul pertanyaan lain dariku, sekali lagi banyak orang merubung pak Klown dan terpingkal-pingkal. Lantas kulihat pak Klown ingin beranjak dari tempat ini, ”Saya akan ke kamar kecil dulu.” Orang-orang tertawa lagi. Dengan terbirit-birit pak Klown masuk ke kamar kecil itu.

Aku sekarang yang mulai mengantuk. Tiba-tiba kudengar napas pak Klown dan aku bicara pelan-pelan, ”Pak Klown apa sedang akting?”

”Aku mengantuk, hampir dua malam tidak bisa tidur, keinginan yang sederhana kan?”

”Ona, kalau kamu mau, aku bisa mendidikmu menjadi pelawak perempuan yang berkesan tidak bodoh. Ini memang tidak mudah, tapi aku tahu, kau pasti bisa.”

Waktu itu, aku menggelengkan kepala.

Aku sedang belajar akuntansi dan dia bilang begini, ”Menjadi pelawak bukan sekadar mesin tertawa, tapi belajar menyeimbangkan otak kiri dan kanan dan menghibur orang lain. Itu pelajaran yang sulit, butuh kesungguhan dan kerja keras.”

”Aku tahu, tapi aku merasa tidak perlu berada di dunia itu.”

Pak Klown menganggukkan kepalanya, dan berkata begini, ”Kalau dunia ini tidak ada pelawak lagi, lantas bagaimana ya? Apa kita cuma harus belajar ilmu kesehatan, matematika dan cuaca hari ini? Apa dunia pelawak sudah tidak bisa dianggap sebuah hiburan yang membebaskan diri kita sendiri, kalau sudah banyak klub-klub malam, mimpi-mimpi yang dirangkai oleh pengusaha dalam bentuk sinetron?”

”Ona, di tahun-tahun ini aku tidak melihat lagi orang-orang yang bersenda gurau seolah-olah itu tabu, tidak efisien dan efektif. Karena bentuk dari dunia modern hanya orang yang bekerja keras dan orang-orang yang melipat bibirnya, mereka sudah melupakan senda gurau itu bahkan anak-anak yang belajar di SD tidak bisa tertawa lagi karena beban di sekolahnya terlampau berat.”

Pernyataannya kelewat berat, ketika kulihat wajahnya dia tidak akting. Lantas pak Klown meneruskan ceritanya, ”Keempat anakku tidak ingin seperti diriku. Kau tahu sendiri, setelah tamat SMA mereka kuliah ke luar kota dan jarang pulang. Teman-teman anakku tidak ada yang tahu kalau bapaknya seorang pelawak, aku pernah dengar cerita di kos-kosan anakku, kalau aku muncul di TV mereka tidak pernah ingin menontonku.

Aku tahu, aku tidak bisa dibanggakan seperti bapak teman mereka, apalagi peranku dalam dunia lawak sering sebagai pembantu yang di pundaknya selalu ada lap dan kelihatan dungu! Penonton ingin melihatku seperti itu di luar panggung, kalau tidak aneh kan? Seperti mencabik-cabik mimpi mereka, kau tahu suatu kali anakku membersihkan kamar di kosnya, anakku menaruh lap di pundaknya, dan seorang temannya yang masuk ke kamar itu nyeletuk, ’Doni, kamu setolol pelawak itu (dia menyebut namaku).’ Pada waktu itu anakku merasa dicekik, dia bilang begini,” Itu bapakku! Dia memang tolol, tidak seperti bapakmu yang pejabat.”

”Pak Klown, pelawak kan pekerjaan yang butuh keseimbangan antara rasio dan rasa dan panjenengan (Anda) bukan koruptor atau penjahat lainnya.”

Pak Klown tidak menjawab, namun dia kelihatan resah, lantas kami berdua terdiam.

Tom yang baik, kukatakan pada pak Klown, apa yang dia lakukan adalah keberanian, sekalipun menjadi badut bukan tempat terhormat di masyarakat kini.

Pak Klown membenarkan ucapanku, dia juga bilang begini, ”Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan menjadi pelawak saat ini, memang sebaiknya teruskan kuliah dan menjadi akuntan seperti cita-citamu, sebab menjadi orang yang berseberangan dengan orang lain sungguh tidak mudah, apalagi semua orang pada saat ini punya cita-cita bersama, di luar itu adalah kegilaan.”

”Tapi pak Klown bahagia kan bekerja seperti ini?”

”Saya tidak tahu Ona, apakah ini seperti ketika kita mengisap rokok yang sudah menjadi kebiasaan rutin dan melekat atau ada hal lain, popularitas dan uang.”

Aku ingin berkata lebih lanjut, tapi kehidupan pak Klown seperti jarum jam yang berputar terbalik, dia harus segera pulang, dan selang beberapa jam kemudian melawak ke kota lain.

***

Tom, kau pasti berpikir aku lagi kacau! Sebetulnya bukan itu, beberapa teman mama menawarkan pekerjaan kalau aku lulus S1. Aku beruntung kan! Beberapa kakak kelasku yang sudah sarjana belum dapat pekerjaan, apalagi yang kucari! Sebulan yang lampau orangtua kita berunding akan mengukuhkan hubungan kita dengan pernikahan. Lantas apalagi? Aku sudah mendapatkan apa pun yang diimpikan setiap perempuan muda!

Tom yang baik, tapi sejak bertemu dengan pak Klown mimpiku semakin liar dan saling berkejaran. Lantas, aku kepingin mengkaji ulang kehidupan yang kita impikan bersama. Bekerja di suatu lembaga dari jam sembilan sampai jam lima sore, memiliki dua anak yang sehat dan manis, rumah mungil, mobil yang bisa membawa kita pergi ke mana saja.

***

Lantas di jam satu malam itu kami ngobrol tentang dunia pelawak, pada saat itu kami tertawa bersama! Dan ketika sampai di Malang, tiba-tiba aku kepingin belajar tentang ilmu melawak secara keseluruhan. Kemudian kami sepakat untuk mencari sebuah tempat yang nyaman di mana pak Klown bisa memberikan seluruh ilmu lawaknya kepadaku. Berhari-hari, sampai bulan ketiga, secara maraton siang malam, aku belajar sari pati kehidupan dari dunia lawak. Dan akhirnya pak Klown berkata, ”Kau sudah mendapatkan sebagian ilmuku.”

Aku tahu maksudnya, dia akan menyerahkan seluruhnya. Lantas kumantapkan hari itu untuk menyerap seluruh ilmu itu. Karena kami adalah dua tubuh yang berbeda, baik itu latar belakang sosial maupun pendidikan. Kami meleburkan itu, dengan tidur bersama, sehingga menjadi dua senyawa yang menyatu.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi!

Malang, 4 Februari-31 Maret 2010

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme