Cerpen : Serbuk Ragi

MESIN silindris itu langsung mendesing lembut dan mengedip-ngedipkan warna merah begitu kudekatkan gelang logam elektronikku ke pemindai. Palang pintu menuju supermarket tetap tertutup rapat. Petugas pintu melirikku sekilas, tetapi bisa kulihat sorot matanya yang mengasihaniku. Ia menunjuk ruangan yang berada di sebelah lorong kasir. “Setelah Anda selesai menyaksikan pesan layanan masyarakat, palang di sebelah sana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Serbuk Ragi oleh Sasti Gotama

MESIN silindris itu langsung mendesing lembut dan mengedip-ngedipkan warna merah begitu kudekatkan gelang logam elektronikku ke pemindai. Palang pintu menuju supermarket tetap tertutup rapat. Petugas pintu melirikku sekilas, tetapi bisa kulihat sorot matanya yang mengasihaniku. Ia menunjuk ruangan yang berada di sebelah lorong kasir. “Setelah Anda selesai menyaksikan pesan layanan masyarakat, palang di sebelah sana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Korban Karbon oleh WS Djambak

BABON mulai menggila dan berteriak-teriak serupa siamang di rimba. Suaranya mengguntur membahana meski desir angin dan debur ombak begitu dominan. Tak berlebihan memang pria yang bernama asli Ismail itu digelari babon, monyet besar dari Afrika sebab suara dan wataknya yang memang keras. Langit yang mendung bahkan tak mampu meredakan suasana gerah akibat amarah Babon menghalau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Korban Karbon

BABON mulai menggila dan berteriak-teriak serupa siamang di rimba. Suaranya mengguntur membahana meski desir angin dan debur ombak begitu dominan. Tak berlebihan memang pria yang bernama asli Ismail itu digelari babon, monyet besar dari Afrika, sebab suara, dan wataknya, yang memang keras. Langit yang mendung bahkan tak mampu meredakan suasana gerah akibat amarah Babon menghalau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sikerei Terakhir oleh Joni Syahputra

BAJAK Joel terbangun setelah mendengar bunyi alarm. Ia sengaja memasang alarm agar bisa bangun lebih pagi dan tidak telat ke pelabuhan. Ia bergegas ke kamar mandi kemudian buru-buru mengganti pakaian dan segera menuju ke pintu sambil memesan ojek online. Hari ini hari yang sangat penting baginya, ia harus segera buru-buru ke pelabuhan dan pulang ke … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sikerei Terakhir

BAJAK Joel terbangun setelah mendengar bunyi alarm. Ia sengaja memasang alarm agar bisa bangun lebih pagi dan tidak telat ke pelabuhan. Ia bergegas ke kamar mandi kemudian buru-buru mengganti pakaian dan segera menuju ke pintu sambil memesan ojek online. Hari ini hari yang sangat penting baginya, ia harus segera buru-buru ke pelabuhan dan pulang ke kampung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ihwal Kebun Bunga yang Disembunyikan Stephen Hawking oleh T Agus Khaidir

MINGGU menjelang sore dan Marjili Samsuri mengendarai sepeda motornya menuju Kebun Bunga dan mendapati stadion itu tidak ada lagi. Marjili sempat mengucek mata. Kira-kira dua jam sebelumnya ia menyantap semangkuk besar daging kambing masak kari bikinan menantunya dan berpikir jangan-jangan tensi darahnya melejit dan ini membuat penglihatannya jadi tak beres. Nyatanya, penglihatannya baik-baik saja, tapi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ihwal Kebun Bunga yang Disembunyikan Stephen Hawking di Lubang Hitam

MINGGU menjelang sore dan Marjili Samsuri mengendarai sepeda motornya menuju Kebun Bunga dan mendapati stadion itu tidak ada lagi. Marjili sempat mengucek mata. Kira-kira dua jam sebelumnya ia menyantap semangkuk besar daging kambing masak kari bikinan menantunya dan berpikir jangan-jangan tensi darahnya melejit dan ini membuat penglihatannya jadi tak beres. Nyatanya, penglihatannya baik-baik saja, tapi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Meruwat Kakung oleh Ikrom Rifa’i

SUDAH hampir setengah dasawarsa. Tubuhmu yang hanya tinggal tulang berbalut kulit keriput itu terbaring tanpa daya. Ringkih seperti batang kayu yang lapuk dimakan usia. Badan kekar berisi yang dulu sempat kau agung-agungkan itu, yang konon menjadi musabab mengapa Eyang Putri begitu kesengsem padamu, kini hanya tinggal cerita. Pun demikian dengan wajahmu. Wajah berseri yang disebut-sebut … Baca Selengkapnya

Cerpen : Meruwat Kakung

SUDAH hampir setengah dasawarsa. Tubuhmu yang hanya tinggal tulang berbalut kulit keriput itu terbaring tanpa daya. Ringkih seperti batang kayu yang lapuk dimakan usia. Badan kekar berisi yang dulu sempat kau agung-agungkan itu, yang konon menjadi musabab mengapa Eyang Putri begitu kesengsem padamu, kini hanya tinggal cerita. Pun demikian dengan wajahmu. Wajah berseri yang disebut-sebut mirip … Baca Selengkapnya