Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Korban Karbon

Posted on Ming, 17 Des 2023

BABON mulai menggila dan berteriak-teriak serupa siamang di rimba. Suaranya mengguntur membahana meski desir angin dan debur ombak begitu dominan. Tak berlebihan memang pria yang bernama asli Ismail itu digelari babon, monyet besar dari Afrika, sebab suara, dan wataknya, yang memang keras.

Langit yang mendung bahkan tak mampu meredakan suasana gerah akibat amarah Babon menghalau kerumunan yang semakin membuncah. Dia mengacungkan parang seakan siap menebas leher siapa saja yang mendekat, polisi sekalipun. Istrinya—yang kebetulan di sana sehabis mengantar makan siang—terpekik memohon-mohon agar suaminya mau menurunkan parang, namun Babon bergeming. Kawan-kawan kelompoknya pun tak kuasa menahan badan Babon yang—meski kecil, tapi liat dan gesit.

Para aparat sudah mulai mengeluarkan pentungan. Untung mereka tidak membawa senjata laras panjang, sebab kedatangan ke sana hanya bersifat pendampingan, bukan penertiban. Sambil melotot, Babon memainkan parang tersebut dan menyayatkan ke tangan, leher, perut, dan ajaib, tubuhnya tidak terluka sedikitpun. Ia mulai melangkah maju sambil memainkan parang, mengintimidasi.

Untung saja Kepala Desa yang juga masih pamannya tak lama datang. Dia yang seharusnya ikut bersama rombongan terpaksa datang terlambat karena harus menjumpai camat. Sebagai pendamping rombongan, ditugaskannya Sekretaris Desa menggantikan dirinya. Belum selesai urusannya dengan Pak Camat, sekretarisnya menelepon dan mengabarkan berita buruk itu.

Kepala Desa bergegas pamit dan memacu motornya sekencang mungkin. Sesampai di lokasi, ia langsung berjalan ke arah Babon. Barulah Babon mulai tenang. Betapa tidak, segala ilmu kebal yang dipertontonkannya itu dipelajarinya dari pamannya juga.

“Dinginkan kepalamu!”

Babon menancapkan parangnya dan duduk di tanah. Para aparat ikut menurunkan pentungan, mengendurkan kewaspadaan mereka, sedang pengusaha yang tadi mau membeli tanah di sana, terlihat berbisik-bisik dengan sesama mereka. Setelah beberapa saat berunding, salah satu di antara mereka angkat bicara.

“Pak Kades, mohon maaf, sepertinya kami tidak jadi membeli lahan ini. kami berubah pikiran.”

Kawan kelompok Babon bersorak riuh. Kepala desa hanya diam. Terbayang olehnya uang sekian ratus juta yang akan mengalir ke kas d esa dan lapangan pekerjaan untuk pemuda di desanya hilang hanya karena ulah keponakan tololnya yang bersikeras mempertahankan tanah kosong terabrasi itu dan menolak pembangunan tambak udang di sana. Dengan senyum yang terpaksa ia mengangguk dan berjalan ke arah mereka, mengantar kepergian rombongan itu sembari mengucap permohonan maaf yang tidak terhitung lagi kesekian kali.

***

Babon asyik memasukkan propagul bakau yang dikumpulkannya dari hutan ke dalam plastik polybag yang diisi lumpur. Bibit itu kemudian disemai di tempat terlindung matahari. Jika sudah tumbuh tiga daun, ditanamnya ke daerah yang terabrasi. Ia tampak begitu asyik tanpa memedulikan anggotanya yang juga asyik bercengkrama satu sama lain. Bahkan, ketika Kepala Desa datang, Babon juga tidak sadar hingga bahunya ditepuk pamannya itu.

“Sudah makan kau?”

“Sudah, Pakcik,” jawabnya sambil membetulkan posisi duduk menghadap kepala desa dengan takzim.

“Berhentilah main lumpur begini. Sudah waktunya kau bekerja. Atau pergi melaut menangkap terubuk.”

Babon tersenyum tanpa tersinggung sama sekali. Sudah ratusan orang yang mengatakan kegiatannya menanami mangrove tersebut merupakan kegiatan sia-sia dan main-main. Bahkan mertuanya sendiri menyindirnya dengan pedas sebagai lelaki tak bertanggung jawab terhadap perekonomian keluarga.

Ia menghentikan kegiatannya. Pandangannya dialihkan ke arah pohon api-api yang berdiri tunggal di ujung kuala. Akarnya seperti menggantung di tebing, menunggu rubuh akibat digerus gelombang Selat Malaka.

“Pakcik tentu ingat kalau dulu di depan sana adalah kampung tua,” tunjuknya ke arah kuala, “sekarang kampung itu sudah hilang, berikut ketam, buah tanah dan sepetang[1] yang semakin susah dicari. Masyarakat sudah mengungsi jauh ke darat.”

Kepala Desa diam menghela napas panjang, sepanjang lamunannya terhadap masa kanak-kanak yang selalu membayang di pelupuk matanya. Teringat olehnya dulu pernah ada tim peneliti dari Pekanbaru yang datang bersama orang Jepang ke desanya melakukan penelitian. Menurut si orang Jepang, abrasi di Bengkalis berkisar sampai empat puluh meter per tahun. Bahkan, beberapa tahun ke depan, Bengkalis diramalkan akan tenggelam.

“Lalu, kau rasa dengan menanam bakau ini abrasi akan berhenti? Sedang peneliti saja yang bersekolah tinggi tidak mampu mendapat solusi pasti menghentikan abrasi.”

“Setidaknya saya sudah mencoba, Pakcik.”

“Terserah miko[2] lah. Buatlah semaumu,” ujarnya pasrah.

***

“Bengkalis (2019), Kebakaran lahan seluas 627 ha yang terjadi sepanjang tahun 2019 di Bengkalis, setidaknya sudah menelan ratusan korban. Dilaporkan oleh Kepala Dinas Kesehatan, sekitar 247 orang menderita penyakit ISPA, disusul oleh asma 15, pneumonia 4, iritasi mata 24 dan iritasi kulit 13 orang …”

Babon mengalihkan pandangan dari koran yang terletak di atas meja polisi yang tengah mengetik di hadapannya. Diputarnya pandangan ke sudut atas pintu masuk, tempat televisi tergantung di atas breket. Tayangannya masih sama, perihal kabut asap yang melanda Riau.

Sudah beberapa bulan ini langit Bengkalis berwarna kuning. Untuk bernapas saja susah, apalagi ketika teringat utang dan segala kepahitan hidup, semakin membuat napas sesak. Baju-baju berbau jerubu, hingga parfum mahal sekalipun tidak ada gunanya. Kemarau berkepanjangan membuat lahan gambut—yang harusnya basah, turut mengering akibat kanalisasi di perkebunan sawit—gampang tersulut api.

Di udara, helikopter berlalu lalang membawa waterbomber. Di darat, mobil damkar dan BPBD lalu lalang dengan bunyi sirine yang membuat suasana semakin mencekam. Tak lupa dari aparat militer dan kepolisian turut bahu-membahu berupaya memadamkan titik api yang tersebar di berbagai wilayah Riau.

Para pembakar lahan pun demikian, semakin giat aparat memadamkan api, semakin rajin pula mereka membakar lahan. Hal ini membuat warga muak, hingga beberapa dari mereka berdemonstrasi di kantor bupati, termasuk Babon yang menjadi koordinator aksi.

Siang itu, Babon tengah membuat permohonan izin berdemonstrasi di kantor polisi. Selepas pulang dari kantor polisi, ia mampir dulu membeli kelapa muda untuk diminum dan juga dibawa pulang. Kabut pekat membuat tenggorokannya tercekat. HP-nya mati seharian dan belum sempat dicas.

Babon menarik gas motornya pelan. Jarak pandang yang pendek menghalanginya melaju kencang. Sesampai di rumah istrinya berlari menyonsong keluar, seperti orang kesurupan. Ia meracau sambil menggendong anak mereka yang paling kecil dan baru berusia dua bulan. Si anak terlihat kesulitan bernapas dan sesegukan. Babon panik. Sepeda motornya yang belum sempat dimatikan, diputar keluar pekarangan menuju ke rumah sakit.

Sepanjang jalan, istrinya berteriak minta maaf kepada anak mereka seakan-akan kondisi si anak merupakan kelalaiannya.

Setiba di rumah sakit, mereka langsung ke IGD. Di ruang tunggu saja, sudah berkumpul ratusan orang mengenakan masker oksigen. Ada yang di ranjang, bahkan ada pula yang di lantai. Kamar rumah sakit penuh hingga pasien terpaksa dirawat di ruang tunggu. Sayangnya, pasien pun tidak bisa dirujuk ke Pekanbaru karena antrian kapal ro-ro membludak akibat banyaknya orang yang ingin kabur dari Bengkalis.

Anak Babon sudah dipasangi selang oksigen. Matanya terbuka separuh, yang terlihat hanya putihnya saja. Tak lama, dokter menggeleng lemah. Istri Babon terpekik. Babon syok, ia berlari keluar kemudian berjalan tanpa arah, meninggalkan sepeda motornya, istrinya, dan jasad anaknya yang masih segar. Matanya sembab dan merah saga. Air matanya tidak bisa keluar, namun gemuruh di dada menggelora. Ia harus membuat perhitungan dengan perusahaan yang membakar lahan.

***

Bengkalis, suatu hari tahun 2045

“Kuingat, setidaknya itu terakhir kali kurasakan sesak napas. Bukan karena jerubu saja, melainkan segala duka. Sejak saat itu, aku mendendam. Kutanam segala yang bisa kutanam. Bakau, trembesi, menanam kebaikan. Untungnya, pemerintah kita cukup cerdik menjual kemampuan hutan dan mangrove kita dalam menyerap emisi karbon. Kau bisa lihat, sekarang udara bersih, aku kaya, semua negara maju membayar untuk setiap emisi karbon yang dikeluarkan. Aku yang dengan tunak menanam mangrove, mulai menuai apa yang kutanam dulu, tapi tetap saja penyesalan itu tidak hilang.”

Si lawan bicara tidak menjawab. Tangannya menggenggam jemari Babon yang sekarang sudah tidak lagi dipanggil Babon, melainkan Tuk Ismail.

“Lucu, ya. Dulu anak bungsuku mati karena emisi karbon di udara, sekarang aku menjadi pedagang karbon, meski aku sendiri tidak menyukai julukan itu. Ah, anakku. Kalau dia masih hidup, barangkali rupa kalian sama. Wajah kalian ketika bayi sedemikian mirip. Begitu cantik. Ah, sayangku,” ujarnya lemah sambil membelai pipi si wanita muda di hadapannya.

Sorot mata Babon lemah.

“Aku mengantuk.”

“Tidurlah, Tuk.”

Ia tidak menjawab, mata mengedip lemah, lalu terpejam. Pada sudut matanya menetes air mata yang tidak tahu karena apa. Bersamaan, bunyi elektrokardiograf yang sedari tadi mengeluarkan irama sesuai ritme, berubah datar panjang.

Cucunya menangis. Dengan bibir gemetar, gadis manis itu berujar, “Nikmatilah, Tuk, perjumpaan dengan istri dan putrimu. Cukuplah bagi kami udara bersih hasil perjuanganmu. Tak ada lagi kabut asap seperti ceritamu dulu. Bengkalis sudah makmur, sebagaimana namanya di buku sejarah, Bandar Bengkalis. Tak ada lagi ancaman abrasi. Terima kasih untuk hadiah ini, Tuk.”

Babon masih diam, tentu saja, sebab saat ini ia sudah terbang melayang menjadi udara, menjadi angin, menjadi rerimbun pepohonan, menjadi hangat mentari, menjadi debur ombak, menjadi bakau yang menahan segala risau. (*)


[1] Buah tanah dan sepetang merupakan penyebutan lokal masyarakat Riau terhadap sejenis kerang-kerangan (bivalva) yang hidup di kawasan mangrove.

[2] Kamu, kau, engkau, dikau (Melayu Pesisir Riau).

sumber : Media Indonesia, 17 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme