Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ihwal Kebun Bunga yang Disembunyikan Stephen Hawking di Lubang Hitam

Posted on Ming, 19 Nov 2023

MINGGU menjelang sore dan Marjili Samsuri mengendarai sepeda motornya menuju Kebun Bunga dan mendapati stadion itu tidak ada lagi.

Marjili sempat mengucek mata. Kira-kira dua jam sebelumnya ia menyantap semangkuk besar daging kambing masak kari bikinan menantunya dan berpikir jangan-jangan tensi darahnya melejit dan ini membuat penglihatannya jadi tak beres. Nyatanya, penglihatannya baik-baik saja, tapi stadion memang tidak ada. Di hadapan Marjili hanya hamparan terbuka tanah merah tanpa rumput. Tak ada tribune penonton. Tak ada motor yang diparkir bersusun tak beraturan dengan para penjaganya yang selalu memasang tampang siap perang. Tak ada pedagang aneka makanan. Namun, eh, ada Narain Subramanian berjalan tertunduk-tunduk menenteng bungkusan.

“Ne!” seru Marjili memanggil.

‘Ne’ dari ‘Ane’, abang dalam tuturan India Tamil di Medan. Marjili mengenalnya sejak ia mulai merasa benar-benar menyukai sepak bola dan jatuh cinta pada PSMS.

Narain bekerja di Kebun Bunga. Saban hari dia memeriksa tribune penonton bagian tengah, apakah ada kayu lapuk atau terlepas pakunya. Dia juga membabat rumput dan membersihkan kamar mandi, termasuk di mes pemain. Saat PSMS memberlakukan pemusatan latihan, jika petugas binatu tak datang, dia juga yang mencuci perlengkapan.

“Ne!” panggil Marjili lagi.

Kali ini Narain menoleh. Marjili mendekat dan langsung mencecarnya.

“Stadion kita, kok, tidak ada, Ne?”

Narain menatap Marjili. Tajam dan menyiratkan keheranan. “Kau tak tahu?”

Marjili menggeleng. Ia mengikuti Narain yang berjalan ke sisi lain hamparan tanah merah dan berhenti di bawah rindang pohon mangga. Daun-daunnya yang mengering berserakan di antara akar bertonjolan. Sebagian membentuk tumpukan-tumpukan kecil di atas sepasang meja dan kursi panjang berwarna cokelat kusam. Marjili mengenali pohon ini. Mengenali meja dan kursi panjang yang seingatnya bercat hijau dan jumlahnya lebih dari sepasang. Selain di tribune penonton, ia juga kerap duduk di tempat ini. Ada penjual teh dan kopi dan goreng-gorengan. Tiap kali datang Marjili akan memesan kopi lalu duduk di sudut yang agak terpisah. Membaca koran atau menonton orang-orang bermain catur atau kartu Leng. Namun, apa pun yang dilakukannya, Marjili sesungguhnya selalu dalam posisi siaga. Ia memasang telinga, menguping percakapan para legenda PSMS. Iya, mereka, legenda-legenda ini, memang selalu berkumpul di sini, dari siang hingga petang mempercakapkan masa lalu mereka yang gemilang.

Dari percakapan-percakapan ini Marjili jadi tahu sejarah sepak bola Indonesia dimulai di Medan. Akhir 1893, di Lapangan Espalande, digelar pertandingan kesebelasan Deli yang berisi orang-orang Belanda di Medan melawan kesebelasan Penang yang terdiri dari orang-orang Inggris. Juga cerita-cerita hebat di balik kemenangan-kemenangan hebat PSMS, dari dua final monumental versus Persib sampai laga melawan Ajax Amsterdam pada 1975 dan Grasshopper 20 tahun sebelumnya. Ada kisah Rony Paslah yang digdaya menepis penalti Pele saat tim nasional Indonesia beruji coba kontra Santos di Senayan pada 21 Juni 1972. Ada Nobon si tukang libas. Ada Tumsila sang kepala emas.

Ke mana mereka semua? Kenapa sepi sekali? Kenapa meja dan kursi panjang ini tinggal sepasang dan warnanya berubah jadi cokelat kusam?

“Sudah berapa lama kau tidak ke sini?” tanya Narain.

“Aku tidak ingat persis. Mungkin sepuluh hari lalu. Kenapa?”

“Kebun Bunga dicuri orang.”

“Astagfirullah! Dicuri? Siapa yang curi?”

“Stephen Hawking. Dia membentangkan tangan lebar-lebar kemudian langit tiba-tiba berubah gelap dan berlubang dan stadion kita tersedot ke dalamnya.”

“Ane mabuk?”

“Maksudmu?

“Waktu itu, saat melihat Stephen Hawking, Ane mabuk?”

“Seingatku tidak.”

“Sekarang?”

Narain menggeleng. “Sejauh ini masih rencana,” katanya seraya menunjukkan bungkusan yang sejak tadi ditentengnya. Ada dua botol kecil berbentuk gepeng di sana.

“Ane yakin dia Stephen Hawking?”

“O, yakin kali, lah! Aku pernah lihat laki-laki berkursi roda itu di televisi.”

“Stephen Hawking sudah mati, Ne!”

“Eh, kapan itu?”

“Lima tahun lalu.”

Narain berkeras. Bilangnya, Hawking bisa saja cuma pura-pura mati karena ingin menepi dari hiruk-pikuk duniawi seperti dilakukan Michael Jackson dan Elvis Presley.

Tentang teori pura-pura mati ala Narain Subramanian ini memang sudah beberapa kali didengar Marjili. Banyak kisah. Banyak seri dan versi. Dari Bob Marley sampai Freddie Mercury, John Lennon, hingga John F Kennedy, Marilyn Monroe, Saddam Husein, Khaddafi, dan masih banyak lagi. Paling sohor ialah teori tentang Michael Jackson. Menurut Narain, sang raja pop melakukan operasi wajah lalu pergi ke Indonesia, persisnya ke Medan, membuka kedai tuak di kawasan simpang Sei Wampu dan mengganti namanya menjadi Mikael Rajagukguk.

Ini kali pun Narain punya teori. Boleh jadi merupakan versi paling awal dan terbilang langka lantaran dia mengemukakannya saat masih merencanakan mabuk. Namun, Marjili sama sekali tak merasa beruntung. Ia justru kesal dan ocehan Narain membuatnya bertambah kesal. Marjili bangkit dari duduk lalu melangkah menjauh.

“Eh, kau tak mau tahu di mana dia menyembunyikan stadion kita? Aku tahu di mana dia menyembunyikannya!”

Marjili terus menjauh. Sayup didengarnya teriakan Narain.

“Dia menyembunyikannya di lubang hitam, Marjili! Kita harus ke sana untuk mengambilnya!”

*

MARJILI sungguh tak percaya Narain, tapi ia penasaran dan oleh sebab itu pergi menemui Charles Bronson. Nama ini sudah barang tentu sekadar alias. Marjili pernah mendengar selentingan nama aslinya Abdul Majid. Sekarang usianya 62, atau barangkali 63, dan lebih separuhnya dihabiskan mengurus PSMS. Memulai karier sebagai tukang catut karcis, Charles Bronson pelan-pelan menapaki berbagai jabatan sampai akhirnya tiba pada yang paling prestisius, direktur eksekutif.

Tidak sembarang orang bisa menemui Charles Bronson. Rumahnya dijaga satpam dan tiap yang hendak bertamu mesti membuat janji lebih dulu. Namun, bagi Marjili Samsuri, aturan ini tak berlaku. Ia bisa datang tiap saat. Mereka sudah kenal lama. Saat Charles Bronson masih jadi tukang catut, Marjili ialah polisi yang sering mendapat tugas jaga di Stadion Teladan. Pertandingan-pertandingan PSMS, Pardedetex, Mercu Buana, dan Medan Jaya. Selain membiarkan operasi pencatutan karcis Charles Bronson berjalan, hampir tidak ada yang tahu, mereka juga bekerjasama meloloskan penonton-penonton ilegal ke dalam stadion.

“Kau dengar dari siapa? Narain?” kata Charles Bronson sesaat setelah Marjili mengulang kalimat-kalimat Narain Subramanian. Marjili mengangguk. Charles Bronson tertawa. “Masih saja kau percaya bual pemabuk sontoloyo itu,” ucapnya.

“Inilah sebab aku datang kemari. Kupikir kau pasti lebih tahu dari Narain.”

Charles Bronson mengangguk, lalu berdehem sembari membetulkan posisi duduk. “Begini, Marjili,” katanya setelah menghempas napas. “Ada banyak sekali masalah yang mengiringi sepak bola di negerimu ini. Tawuran, suap, pengaturan skor, pencurian umur. Mafia merajalela. Di lain sisi, pemerintah sejak berpuluh tahun lalu sebenarnya sudah menyadari kita tak berbakat dalam sepak bola. Segala macam pembinaan dan pelatihan hanya berakhir sebagai kesia-siaan. Berapa triliun uang terbuang untuk proyek-proyek itu? Garuda, Primavera, Baretti, dan entah apa lagi. Kalau saja uangnya dibelikan beras barangkali karung-karungnya bisa dijajarkan berderet-deret dari Sabang sampai Merauke. Masalahnya, pemerintah selalu gagal menemukan cara menyampaikannya tanpa menimbulkan gejolak. Kau tahulah, orang-orang kita ini. Gampang kali terbakar emosi.”

Charles Bronson meneruskan bicara. Bilangnya, bukan cuma Kebun Bunga yang tak lagi ada, tapi juga Teladan dan semua stadion sepak bola di Indonesia. Ada yang dirobohkan sepasukan buldoser. Ada yang dibom atau ditembak dengan rudal dari tank atau pesawat tempur.

“Kau jangan mengada-ngada,” sergah Marjili. “Kita sekarang sedang menuju ke arah lebih baik. Kita cuma kalah 0-2 dari juara dunia. Tapi katakanlah betul begitu. Katakanlah memang semua stadion dihancurkan. Kenapa tak ada kabarnya? Mustahil peristiwa besar begini luput dari wartawan. Tidak mungkin juga tak ada media sosial. FIFA juga tak mungkin tidak bereaksi.”

Charles Bronson terbahak. Perutnya yang bulat seperti semangka terguncang-guncang. “Ini kongkalikong tingkat tinggi, Marjili, kau jangan kelewat lugu. Semua terlibat, termasuk media. Termasuk FIFA juga. Kau kira mereka peduli pada ocehan politikus- politikus ambisius yang cuma berpikir bagaimana caranya bisa jadi pejabat itu? Tidak, Bung. Mereka sudah lama muak mendengar kabar-kabar perihal sepak bola tak bermutu yang isinya ribut melulu. Prestasi jauh. Menang ngamuk, kalah juga ngamuk. Maunya apa? Ratusan nyawa telah melayang sia-sia. Tak ada untungnya memelihara kita sebagai anggota. Kukira diam-diam mereka senang dan berterima kasih pada politisi-politisi konyol itu.”

Marjili belum surut. “Terus, bagaimana nasib pemain dan pelatih? Bagaimana nasib orang-orang yang selama ini hidup dari bola? Bagaimana nasib rencana besar Indonesia Emas 2045?”

“Apa? Indonesia emas?”

“Ya. Momentum Indonesia bangkit dan jadi pemimpin dunia.”

Charles Bronson tertawa. Kencang. Jauh lebih kencang dari sebelumnya.

“Kenapa kau tertawa?”

Charles Bronson tak menjawab. Tawanya belum berhenti. Dia bangkit dari duduk, lalu meraih telepon selular dan menggeser-geserkan jempolnya ke layar. Marjili paham gelagat dan segera minta diri.

*

TIBA di rumah Marjili Samsuri disambut cucunya, bocah laki-laki lasak yang sedang sangat bersemangat main bola. “Atok tadi nonton PSMS latihan?” tanyanya.

Marjili menggeleng. Di telinganya terngiang suara tawa Charles Bronson.

“Kenapa, Tok?”

“Tak ada yang latihan, sedang libur.”

“Sampai kapan?”

Marjili menggeleng lagi. Tawa Charles Bronson makin keras.

“Atok sempat ketemu Ferdinand Sinaga?”

“Dia bukan pemain PSMS.”

“Paolo Sitanggang?”

“Dia juga bukan.”

“Egy Maulana Vikri?”

“Apalagi dia. Tapi, Atok dengar ada pemain baru yang paten.”

“Wah, asyik! Siapa namanya, Tok?”

“Stephen Hawking.”

Medan, 2022-2023

sumber : Media Indonesia, 19 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme