Cerpen : Bintang Taurus oleh Ilham Wahyudi

1. Sarapan Pertama di Delhi Tiba di Delhi, aku yang tak memiliki seorang pun kenalan, akhirnya mau tidak mau tidur di Terminal Kendriya. Pagi hari sekitar pukul 7, aku terbangun. Aku rasakan cacing dalam perutku berdemonstrasi. Pantaslah, aku memang hanya makan sesaat sebelum berangkat ke Delhi, dan sejak sampai tengah malam tadi aku sama sekali … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kursi Sofa Tuan Bokalince oleh Ilham Wahyudi

SEPULUH tahun yang lalu, Tuan Bokalince memesan kursi sofa berwarna cokelat di sebuah toko furnitur paling klasik di pusat kota. Tak banyak orang kaya yang sanggup memesan kursi sofa serupa model kursi sofa Tuan Bokalince. Paling wali kota dan ketua dewan kota yang mungkin sanggup memesan. Bukan perkara harga semata, melainkan karena ukuran kursi sofa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aelfric, Pizzanya Sudah Matang! oleh Ilham Wahyudi

Dia adalah raja penakluk ternak dan kuda liar. Dengan ujung tali penjerat, kuda-kuda itu mendatanginya. Dia adalah ksatria, pembela wanita lemah, peringkus tukang tindas. Dia membunuh karena kebenaran; dan melarikan diri dari jerat musuh-musuh. Memimpin kavalerinya untuk menyelamatkan orang banyak. Hatinya begitu lembut; yang oleh karenanya tak sekalipun dia mengecewakan orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ada Tuhan di Bioskop oleh Ilham Wahyudi

Aku buru-buru ke gedung bioskop. Pukul 19.30 teng film akan diputar. Sejujurnya aku tidak tahu mau menonton film apa. Yang aku tahu, hari ini ada pemutaran perdana sebuah film yang kata muncung para pengamat serta kritikus film akan meledak; membeludak, melimpah ruah serupa bah pada zaman Nuh. Sudah sepuluh tahun aku tidak menonton di bioskop. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kedai Kopi Mahli oleh Ilham Wahyudi

MAHLI Rumi memiliki sebuah kedai kopi kecil yang terletak di kompleks Apartemen Kalibata City. Tepatnya di Tower Akasia. Mahli berumur tiga puluh lima tahun, unitnya di lantai ke-11 yang dia beli sekitar 5 tahun lalu setelah resign dari posisi manajer penggalangan dana di salah satu lembaga nonprofit. Mahli juga memiliki sebuah mobil sedan produksi Jepang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perajin Kata oleh Ilham Wahyudi

Perajin kata itu akhirnya mati sebelum ia sempat memahat sebuah kata yang ia anggap baru (yang kelak ingin ia tuding miliknya sendiri). Yang paling mustajab bunyi dan baunya; yang ia temui dalam perjalanan panjangnya menelusuri lorong kata-kata. Lima puluh tahun sepertinya bukan waktu yang singkat bergelut-menggeliat, bahkan kadang juga bersetubuh dengan kata-kata. Akan tetapi, perajin … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kota Kami oleh Ilham Wahyudi

SEMUA warga di kota kami memiliki penghasilan yang besar. Tidak seorang pun tampak menganggur, atau tidur malas-malasan. Kecuali anak-anak kecil dan orang jompo. Pegawai negeri, pegawai swasta, pengusaha (pedagang), buruh, sopir angkutan umum, profesional, termasuk pekerja seni, serta seniman hidup makmur dan sejahtera. Saking makmur dan sejahtera, di kota kami jarang sekali terjadi gejolak seperti … Baca Selengkapnya

Cerpen : Manusia Proyek oleh Ilham Wahyudi

SESUNGGUHNYA sudah lama aku ingin menulis cerita ini. Namun setiap kali aku mau menuliskannya, seketika keraguan menyembur dalam hatiku: apakah penting persoalan ini aku tulis? Atau hanya aku sendiri yang merasa penting untuk dituliskan? Ah, selalu saja begitu setiap kali aku ingin menuliskannya. Tapi sepertinya aku memang harus menuliskannya, sebab kemarin malam teman semasa sekolah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Laila

MAHLI duduk menunggu di sebuah kafe yang tak jauh dari stasiun kereta. Dia sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Mahli memang tidak pernah mau telat, terlebih kalau itu berhubungan dengan Laila. Baginya, menunggu Laila adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sedang mabuk dan Mahli adalah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mengapa Menangis oleh Ilham Wahyudi

Setelah mematikan kompor, ibu menghampiriku dengan amarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disundutnya kuat-kuat pahaku dengan rokok yang baranya nyaris menyentuh filter. Entah sudah berapa kali ibu memahat kawah luka di pahaku. Bukan hanya sundutan rokok, kibasan rotan serta sepakan kaki juga sering aku terima bila ibu sedang marah. Sore ini ibu benar-benar marah—dihadiahkannya aku … Baca Selengkapnya