Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ada Tuhan di Bioskop oleh Ilham Wahyudi

Posted on Rab, 17 Jan 2024

Aku buru-buru ke gedung bioskop. Pukul 19.30 teng film akan diputar. Sejujurnya aku tidak tahu mau menonton film apa. Yang aku tahu, hari ini ada pemutaran perdana sebuah film yang kata muncung para pengamat serta kritikus film akan meledak; membeludak, melimpah ruah serupa bah pada zaman Nuh.

Sudah sepuluh tahun aku tidak menonton di bioskop. Terakhir kali aku menonton: ya, itu benar-benar momen terakhir aku dengan kekasihku. Setelahnya dia mendadak mati tanpa sebab. Aku patah hati; hancur lebur, gila, dan begitu ingin mati.

Kusumpahi diri sendiri, kumarahi semua keluarga, saudara, juga teman-temanku. Bahkan kubenci Tuhan. Dan hari ini, tiba-tiba saja aku teringat kembali kepada Tuhan yang sudah lama aku benci; sudah lama aku lupakan.

Ya, hari ini aku memang berencana mengajak Tuhan menonton; menonton di bioskop. Maka, sesampainya di bioskop langsung aku pesan dua tiket: satu untukku, satu untuk Tuhan. Untung aku masih kebagian tiket, padahal yang ingin menonton, sungguh tak terhitung mata dan jari-jariku. Jangan-jangan Tuhan sudah mulai ikut campur kembali dengan hidupku?

Ya, hari ini aku memang berencana mengajak Tuhan menonton; menonton di bioskop.

Bukan tanpa sebab dan alasan aku mendadak mengajak Tuhan menonton. Selain karena belakangan aku sering kepikiran Tuhan, aku juga jatuh kasihan kepada Tuhan: sejak Ia mulai berkehendak menciptakan sesuatu sampai hari ini, sungguh Dia tidak pernah libur atau cuti. Jadi aku kira Tuhan tentulah membutuhkan refreshing.

Bukan apa-apa, sebagai manusia pada umumnya, aku dulu (sewaktu aku begitu mesra dengan Tuhan) selalu meminta apa saja kepada Tuhan. Kadang seisi dunia tanpa sadar aku minta. Bayangkan berapa jumlah manusia yang sama sepertiku. Tapi pernahkah Ia protes atau marah pada manusia? Maka saat menonton nanti, aku ingin memberinya kejutan: aku akan meminta Dia untuk meminta sesuatu padaku. Mungkin saja aku bisa kupenuhi keinginan Tuhan.

¤ ¤ ¤

Aku sudah duduk di kursi No 5F, kursi No 6F untuk Tuhan yang sudah aku pesan sebelumnya. Berdebar aku menunggu Tuhan datang dan akhirnya menonton bersamaNya. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepada Tuhan. Cuma pertanyaan itu sepertinya baru akan aku tanyakan kalau aku mampu memenuhi keinginanNya.

Malu juga selalu bertanya, pun melulu meminta padaNya. Ditambah lagi, inikan momen pertama aku kembali mencoba dekat kepadaNya setelah sekian tahun aku meninggalkannya; melupakannnya. Habis Dia pun tega sekali mengambil kekasihku di saat aku begitu sangat mencintai kekasihku. Ah, tak baik membuka luka lama. Bukankah pertemuan ini juga kumaksudkan semacam permohonan maaf, serta ajang pembelajaranku menerima semua takdir yang telah Ia tetapkan kepadaku; kepada kekasihku.

Namun sudah 25 menit film diputar, Tuhan belum juga datang. Apa mungkin Tuhan bertemu kemacetan? Atau ada hal besar yang harus segera Ia selesaikan? Tapi siapa juga yang berani menahan laju Tuhan sekiranya jalanan benar macet. Lantas, hal besar macam apa yang tidak bisa Tuhan selesaikan? Sungguh, aku jadi bertanya-tanya; aku gelisah. Kesudahannya aku pun tak menonton film besar tahun ini; mungkin juga abad ini.

Lantas, hal besar macam apa yang tidak bisa Tuhan selesaikan?

Ulang berulang aku perhatikan layar ponselku: melihat kondisi jalanan apa benar-benar macet. Berita-berita juga aku baca sepintas lalu (judulnya saja) untuk memastikan peristiwa besar apa yang terjadi hari ini. Sungguh tak ada macet di luar sana, pun peristiwa yang amat besar selain perang antara dua kubu yang rakus mengejar dunia fana. Mengapa aku katakan kedua kubu rakus? Coba tanyakan ke dalam diri sendiri, mengapa bisa sampai terjadi perang kalau kesemuanya itu tiada lain bermula dari kerakusan manusia. Kemudian manusia yang kerasukan rakus itu telah pula menyebarkan kerakusannya, memodifikasinya menjadi seolah-olah semacam perkara- perkara membela diri, perkara eksistensi, dan perkara lain-lain. Lalu kesudahannya manusia merasa perlu mempertahankannya, atau merebutnya. Padahal semua itu senyatanya palsu, semata-mata hanya perkara kerakusan belaka. Sungguh tak jauh selain dari K E R A K U S A N itu sendiri.

Lelah tak menemukan alasan masuk akal Tuhan belum datang, aku tonton juga film yang aku pesan tiketnya dengan buru-buru tadi. Astaga, baru aku sadar, film yang aku tonton (yang rencana awalnya bersama Tuhan) ternyata film bertemakan perang. Dan ajaibnya lagi, perang dalam film yang kutonton begitu mirip dengan berita- berita yang kubaca baik dari media sosial atau laman media online.

Dahsyat sekali perang dalam film yang kutonton: bayi dan anak-anak mati tertimpa reruntuhan rumah dan gedung. Istri-istri, pun suami-suami menangis kehilangan orang terkasih. Bahkan dalam satu adegan kulihat seekor kucing bersedih melihat seekor anjing yang (aku menduga anjing itu teman bergelut dan bermain si kucing) separuh badannya terbakar. Mungkin sebelumnya anjing itu terkena roket atau bom.

Perang macam apa ini? Bukankah perang telah mengatur hal-hal yang tidak boleh dihancurkan atau dibunuh. Tapi mengapa perang ini begitu mengerikan, menjijikkan; kejam sekali. Untuk inikah manusia diciptakan? Oh, Tuhan cepatlah datang, Kau lihatlah sendiri film ini. Sungguh ini telah merendahkan martabat manusia dan kemanusian. Binatang saja tidak akan pernah sampai sekeji ini. Dan kalau pun binatang terkesan keji, itu tak lain sesungguhnya hanya usaha untuk bertahan hidup dari lapar dan bahaya yang mengancam. Sedangkan film ini, oh Tuhan, lihatlah…..lihatlah Tuhan. Aku mohon segeralah datang; menonton bersamaku kehinaan ini. Betapa lemah aku menyaksikannya sendiri.

Beberapa saat aku tak sadarkan diri. Mungkin aku tertidur atau lemas karena tak kuat menonton kebrutalan dalam film itu. Ya aku tahu itu film, hanya film. Tapi bukankah film dibuat sutradara-sutradara besar berangkat dari pengalaman juga kadang dari peristiwa yang sungguh benar terjadi? Tentu saja unsur dramatik wajib ditambahi agar menghasilkan sebuah karya seni tingkat tinggi. Akan tetapi, sumpah, film yang kutonton ini senyata tak membawaku pada pemahaman yang tinggi akan sebuah karya seni adiluhung. Film yang kutonton ini senyata hanya membuat aku mau mual, dan ingin muntah.

¤ ¤ ¤

Aku coba kembali mengecek kondisi jalanan—aku tidak mau lagi melihat atau membaca media sosial—mana tahu sekarang benar-benar macet, sehingga Tuhan terlambat datang.

O, tidak! Jalanan senyata lengang. Kendaran-kendaran seperti tidur di kandang mereka masing-masing. Apa mungkin semua yang memiliki kendaraan sedang menonton film yang aku tonton? Kalau begitu, benarlah hebat analisis pengamat dan kritikus film; tak seinci pun mereka meleset.

Lima menit lagi film ini akan usai, seperti yang tertera di tiket. Oh, Tuhan, apakah Kau tidak jadi datang?

Aku bersiap-siap keluar dari gedung bioskop. Sebagian penonton sudah ada yang mulai keluar. Namun anehnya, wajah mereka tiada yang menerbitkan kesedihan. Malah samar kudengar tertawa menceritakan ulang adegan kucing yang sedih melihat seekor anjing yang separuh tubuhnya terbakar. Oh, Tuhan, tidakkah kau ingin menyaksikan kegilaan ini?

Di antara perasaan kesal bercampur sedih, lamat-lamat kulihat Tuhan muncul dengan bahasa indah dari layar—dari tulisan credit title. Dia tersenyum padaku.

Tak kuasa rinduku padaNya, aku balas senyum Tuhan. Dalam hati aku berucap, datang juga akhirnya Dia. Takut lupa, takut terbawa suasana setelah menonton film brutal tadi, langsung aku tanya Dia, ”Tuhan apa yang Kau minta dariku malam ini? Mana tahu aku bisa mengabulkannya. Mintalah, jangan sungkan Tuhan. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan jiwa memenuhinya.”

Lagi-lagi Tuhan tersenyum. Demi apapun yang pantas disembah dan itu tentunya adalah Dia, indah nian senyum Tuhan kepadaku. Kemudian dengan bahasa indah Tuhan berkata, ”Bisakah kau menghentikan perang? Agar pada kesempatan lain, kita bisa nonton bareng lagi.”

Aku terdiam. Sungguh tak menyangka dengan permintaan Tuhan kepadaku. Setelah kurasakan jiwaku sudah sepenuh tenang, aku pun memberanikan diri menjawab,”Bisa, tapi aku mohon lahirkan aku kembali di tanah Palestina, di tanah para nabi-nabi. Maka akan kucegah perang dengan cinta kasihMu. Maukah kau mengabulkannya, Tuhan?”

Tuhan tersenyum, indah sekali.

Akasia, 2023

Ilham Wahyudi, Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur, menjadi seorang Fundraiser di Adhigana Fundraising. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak redaksi. Buku kumpulan cerpennya, Kalimance Ingin Jadi Penyair, tidak akan diterbitkan.

sumber : kompas.id, 17 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme