Cerpen : Rumah Potong oleh Muram Batu

SEJAK tidak ditinggali manusia lagi, rumah itu hanya dihuni oleh seekor anjing. Warna dindingnya yang dulu merah menyala kini telah bercampur hitam, seperti darah kotor. Tak ada yang berani melihat ke sana, apalagi anjing pincang yang berkutu banyak, yang menghuni rumah itu, sering menyalak tanpa pasal. Itulah sebab, ketika warga kampung terpaksa melewati rumah itu, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Anwar dan Vespa Kongo oleh Muram Batu

Suara azan Asar begitu nyaring, masuk ke rumahnya yang tak besar, membuat Anwar menghentikan gerak. Sesaat dipandanginya skuter tua, berpantat bulat yang bagian samping kanan kirinya mirip telur, berkekuatan 125 cc, dan berwarna kuning itu. Lap di tangannya pun dia lepaskan. Kain serap air itu tersangkut begitu saja di jok vespa yang tak bisa lagi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Main Tangan oleh Muram Batu

Sejak tangan kanannya tak lagi bergerak normal, dia sudah tidak lagi main tangan. Padahal sebelumnya, selain dikenal sebagai sosok yang ringan tangan, dia juga ditandai warga sebagai orang yang panjang tangan. ”Kerjalah, Bang,” kata sang istri. ”Sekali lagi kau cakap macam itu, kutangani kau!” ”Bisa?” Ia diam. Ia tahu itu adalah hinaan dari sang istri. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tiga Tanda Mati oleh Muram Batu

Di wilayah tempatku tinggal jarang orang mati. Namun, ketika ada yang mati, pasti bisa ditebak kehadirannya. Ini bukan penyebab seperti penyakit, bencana, atau lainnya. Ini soal ciri-ciri mati. Ada tiga tanda sebagai penanda. Setiap kematian pasti diawali oleh tanda-tanda itu. Selalu berurutan. Dan kini, aku sudah memiliki dua tandanya. Tanda pertama adalah bintik putih di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rendang oleh Muram Batu

Kota itu –bukan berarti daerah tingkat dua, disebut begitu karena menjadi ibu kota kabupaten, secara administrasi sebetulnya hanya kecamatan– mendadak berdenyut. Bukan karena pembangunan melejit atau sebaliknya, bukan pula karena jadi perbincangan sebab bencana, ini hanya karena makanan. — TEPATNYA, karena bupati baru begitu mengidamkan makanan yang berbahan daging dengan selimut rempah ruah. Spesial rendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Justo oleh Muram Batu

Namaku Justo. Kata bapak, nama itu diambil dari tokoh pemberani, pembela hak-hak kulit hitam, di serial Little Missy. Anak buahnya si Tuan Baron pemilik ladang anggur di Araruna, sebuah kota kecil di Brasil. Selain pekerja, dia juga menjadi pengasuh si Nona Missy, anak Tuan Baron dan Nyonya Candida. Justo hitam dan jelek, tapi bapak tidak … Baca Selengkapnya