Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rendang oleh Muram Batu

Posted on Ming, 16 Jan 2022

Kota itu –bukan berarti daerah tingkat dua, disebut begitu karena menjadi ibu kota kabupaten, secara administrasi sebetulnya hanya kecamatan– mendadak berdenyut. Bukan karena pembangunan melejit atau sebaliknya, bukan pula karena jadi perbincangan sebab bencana, ini hanya karena makanan.

—

TEPATNYA, karena bupati baru begitu mengidamkan makanan yang berbahan daging dengan selimut rempah ruah. Spesial rendang Minang; hitam dan kering berminyak.

Sejatinya, bupati ini bukan orang Minang. Dia Melayu asli walau ada campuran darah Aceh pada kakeknya. Sang kakek adalah anak seorang saudagar yang menikahi dara Aceh. Tapi setelah itu, sang kakek menikah dengan gadis Melayu tulen. Pun bapaknya mempersunting putri Melayu asli. Istri bupati juga bukan Minang. Dia malah Jawa. Si istri adalah generasi ketiga dari keluarga Jawa yang dipaksa Belanda untuk menjadi buruh kebun tembakau. Ibu si istri juga demikian. Bedanya, bapak si istri bukan dari kebun tembakau, melainkan buruh kelapa sawit di perkebunan milik orang Belgia. Keduanya bertemu di pasar saat belanja, tepatnya di hari pasar alias pekan.

Dan, kota itu –seperti kebanyakan kecamatan di wilayah itu– hanya memiliki dua baris pertokoan. Ada yang menjual emas. Ada yang menjual barang bangunan. Ada yang menjual pakaian. Ada yang menjual buku dan perlengkapan kantor serta fotokopi sekaligus studio foto. Ada yang jual barang pecah belah. Ada yang menjual sepatu. Tak ada warung makan. Kedai tempat orang makan atau sekadar membeli lauk-pauk letaknya di luar pertokoan itu. Warung pertama di samping Kantor Pos. Warung kedua –sekira 500 meter dari Kantor Pos– di seberang kantor Telkom. Warung ketiga letaknya tak jauh dari SMA yang hanya ada satu di kota itu. Dan, warung keempat mengambil tempat dekat pasar. Memang, ada beberapa warung lain, tapi kelasnya rumahan; tempat makannya hanya terdiri atas dua meja dan empat kursi di masing-masing meja; menunya pun terbatas. Begitu pun empat rumah makan tadi, meski menunya lebih banyak dan beragam, tapi tak ada yang menjual rendang seperti yang diinginkan bupati.

Dulu, dua puluhan tahun lalu, ketika barisan toko hanya satu dan wilayah itu belum menjadi ibu kota kebupaten, ada sebuah warung makanan yang menjadi langganan keluarga si bupati. Kini, lokasi warung itu telah berubah menjadi toko penjual buku dan perlengkapan kantor serta fotokopi sekaligus studio foto. Tapi, pemiliknya sama, yakni Uni Tin. Nama tokonya pun tak berubah, tetap Uni Tin. Di warung makan inilah si bupati muda termanjakan oleh nikmat rendang.

Setelah sekian lama, si bupati yang akrab disapa dengan sebutan Haji Wan itu kembali. Dia kembali karena terpilih menjadi bupati. Padahal, tidak ada lagi keluarganya di kota itu. Bapak, ibu, serta adik-adiknya telah pindah ke kota besar. Dia malah pindah pulau, kuliah dan bekerja di sana. Bahkan, dia jumpa istrinya di pulau tersebut. Atas nama satu daerah kelahiranlah mereka menjadi dekat. Menikah dan punya tiga anak. Pesta pernikahan di kota besar. Anak-anak lahir di kota besar. Dengan kata lain, kalau tak jadi bupati, Haji Wan pasti tidak akan kembali.

Tapi, partai butuh dia menjadi bupati. Dia putra daerah dan keluarganya adalah tokoh dari daerah itu. Bangkitkan saja kenangan sedikit, maka orang-orang akan ingat soal tiang listrik atau pipa air PDAM yang keluarganya usahakan. Tidak itu saja, jalan aspal pun dianggap karena andil keluarganya. Jadi, meskipun instan, Haji Wan terpilih sebagai bupati adalah sebuah keniscayaan. Hidung partai bagus mencium hal itu.

Masalahnya itu tadi, Haji Wan merasa ada yang beda dengan kotanya kini. Dia merasakan ini sejak masa kampanye. Tepatnya ketika dia menyadari kalau Uni Tin tidak lagi menjual nasi.

”Uni sudah tidak sesabar, sebijak, dan setekun dulu sejak melihat celah yang lebih menguntungkan,” begitu alasan Uni Tin ketika Haji Wan bertanya.

”Rendang Uni itu…”

”Banyak yang jual.”

”Tidak hitam dan kering berminyak.”

”Mereka tetap menyebutnya rendang.”

Haji Wan ingin membantah, tapi apa daya. Dia biarkan saja Uni Tin dengan pikirannya. Saat itu, Haji Wan berpikir, pasti ada di kota itu yang menjual rendang seperti Uni Tin. Ya, mana mungkin tidak.

”Orang pemerintahan selalu ke toko ini. Ya, fotokopi. Beli peralatan. Foto. Tidak berubah kalau Anak jadi bupati kan?”

Haji Wan tertawa dan mengangguk.

Sejak itu, saat kampanye, bahkan setelah terpilih dan menjabat, Haji Wan terus mendatangi warung-warung makan yang ada. Pertama, warung makan samping Kantor Pos. Rendang yang tersedia tidak hitam dan kering. Rendangnya agak merah dan basah. Tak ada kentang kecil berkulit pada rendang itu. Dan Haji Wan paham itu bukan rendang Minang, melainkan Aceh; tidak begitu pedas dan kelapanya terasa kurang. Kedua, warung di seberang Telkom. Tidak juga hitam dan kering, malah terkesan cair berkuah serta berwarna lebih muda. Ada juga kacang merahnya. Haji Wan lagi-lagi paham, ini rendang Melayu; mirip kalio dan proses masaknya paling tak lebih dari tiga jam. Warung di pasar menjadi tempat ketiga yang dia kunjungi. Hasilnya? Tidak hanya berwarna jauh dari hitam dan kering berminyak, rendang di warung ini malah terasa beda. Mirip kalio juga, tapi ada rasa manisnya dari gula merah. Jelas, pikir Haji Wan, ini pasti rendang Jawa. Yang lebih parah ketika Haji Wan datang ke warung makan dekat SMA, rendangnya bukanlah rendang, tapi kari yang kering. Ya, daging dengan bumbu kari, tapi disebut rendang.

”Tidak masak rendang, Kak?” tanya Haji Wan di warung makan rumahan, yang menyediakan tempat duduk terbatas dan menu yang terbatas pula.

”Besar modalnya, Pak. Harga daging mahal, belum lagi rempah-rempahnya,” jawab sang penjual sambil menawarkan ikan tongkol sambal dan kangkung rebus.

Haji Wan tersenyum. Dia makan di situ dengan menu yang ada. ”Kakak ingat rendang Uni Tin?”

Sang penjual memandang bupatinya itu. ”Tak enak ikan tongkolnya?”

”Bukan itu, enak. Tapi rendang itu, kenapa dia bisa hitam?”

”Itulah rendang Minang.”

”Bukan itu, kenapa bisa hitam?”

”Dia dimasak lama. Bisa lebih dari delapan jam. Dia pakai kelapa yang digongseng. Tapi gak tahulah, aku bukan orang Minang. Aku Mandailing.”

Haji Wan mengangguk-angguk. Dia tahu soal kelapa gongseng itu, pun kelapa yang dijadikan santan dengan perbandingan empat buah untuk satu kilogram daging, setidaknya Uni Tin sempat memberikan resep padanya tempo hari. Tapi, setelah dicoba di rumah, dimasak pembantunya yang orang pesisir, tetap saja rasanya berbeda. Hitam iya. Kering iya. Pakai kentang kecil berkulit juga iya. Tapi, tetap beda. Beberapa kali dicoba, malah pahit.

”Itu karena Anak sudah beda, jadi rasanya juga jadi beda,” kata Uni Tin.

”Sama saja, tak ada yang beda. Wan tetaplah Wan.”

”Anak sudah banyak merasakan makanan yang lain. Rendang yang lain. Jadi, lidah Anak sudah beda.”

”Rendang Uni itu beda…”

Uni Tin tertawa. ”Sama saja… lidah Anak yang berbeda.”

”Masak untukku Uni, semua biaya aku yang tanggung. Aku kasih lebih!”

Maka, seperti sebelum-sebelumnya, Uni Tin tetap menolak. Dia mau mengasih resep, tapi tidak memasakkan. Entah kenapa dia begitu keras. Dia hanya mengatakan tidak sesabar, sebijak, dan setekun dulu.

Dan, dari kisah itulah, kota mendadak berdenyut. Cerita soal Uni Tin yang tidak mau memasakkan rendang buat bupati langsung mengalir dari mulut ke kuping satu warga ke warga lainnya. Warung-warung makan mulai mempromosikan rendang. Warung makan rumahan mulai menyediakan menu rendang. Para penjual berharap bupati melupakan rendang Uni Tin dan beralih ke mereka. Ada pula pejabat kabupaten yang cari muka dengan memasakkan rendang dan mengirimkan khusus pada bupati. Para kontraktor yang berharap proyek sampai memaksa istri untuk melakukan hal yang sama. Bahkan, anggota dewan membuat tim khusus soal itu. Tim ini sampai studi banding ke Sumatera Barat, sepekan di Tanah Minang, dengan memakai uang rakyat demi kesenangan bupati.

”Setelah kami ke daerah asalnya, tak ada yang beda dengan resep yang diberikan Uni Tin, Pak Bupati,” lapor seorang anggota dewan, rekan separtai Haji Wan, usai pulang studi banding.

”Sudahlah.”

”Tidak bisa begitu. Uni Tin ini kurang ajar, kenapa dia tidak mau memasakkan kan?”

”Sudahlah…”

”Kalau begini, kita gunakan kekuasaan saja?”

”Maksudnya?”

”Kita bisa buat saja kebijakan untuk memboikot toko Uni Tin sampai dia mau memasakkan randang untuk Pak Bupati…”

Haji Wan tertawa. ”Jangan aneh-aneh. Proses memasak rendang itulah yang terpenting. Bisa sampai delapan hingga 24 jam. Sabar kata kuncinya. Prosesnya itu dari gulai ke kalio baru ke rendang. Tapi kalau sudah masak, tak perlu kulkas, dia bisa bertahan sampai satu bulan!”

Anggota dewan itu langsung memandang kosong, membayangkan Uni Tin yang berpeluh memasak rendang. Sesaat dia bergidik mengingat bagaimana memilih daging yang benar, memilah beraneka rempah terbaik, kemudian memasak dan menjaga api dalam waktu yang cukup lama. ”Pantas…” katanya kemudian.

Begitulah, kota itu terus berdenyut. Bupati tetap mengidamkan makanan yang berbahan daging dengan selimut rempah ruah. Spesial, rendang Uni Tin. Dia, Haji Wan, Melayu asli walau ada campuran darah Aceh pada kakeknya. Sang istri malah Jawa, generasi ketiga dari buruh kebun. Tapi, dia tetap merindukan rendang Minang, yang hitam dan kering berminyak, dan dia belum menemukannya. (*)

—

MURAM BATU : Lahir di Limapuluh, Sumatera Utara. Buku-bukunya kumcer Hujan Kota Arang (Basabasi, 2018), novela Tepi Toba (Basabasi, 2019), dan kumcer Kartini Boru Regar, Tahi Kecoa, dan Walikota (Gading, 2020). Kini menetap di Medan.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 16 Januari 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme