Cerpen : Dua Wajah oleh Rumadi
a masih belum mati. Ia mengutuk keadaan. Waktu azan subuh berkumandang, ia terbangun dan kedua matanya masih membuka. Ia berharap, seperti pagi-pagi sebelumnya, ketika bangun dari lelap tidurnya, ia ingin dijemput kematian. Kematian yang tenang, tanpa teriakan histeris. Padahal ia terus berharap, kematian menjemputnya dengan cara yang paling lembut. Kenyataannya, ia masih hidup. Ia bangun … Baca Selengkapnya