Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tanpa Air Mata oleh Rumadi

Posted on Sab, 11 Sep 2021

Setelah dibujuk sedemikian rupa oleh tetanggamu, akhirnya kau memutuskan untuk pulang. Tanpa air mata. Tanpa kesedihan. Tiga kali Lebaran kau lewatkan tanpa sekali pun pulang ke rumah. Kau lebih memilih berada di rumah kekasihmu, di sana kau merasakan keteduhan yang tak pernah kau rasakan di rumah sejak kau kecil. Suasana yang hangat, suasana yang penuh canda tawa, dan tidak ada bentakan.

Kau masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di ruang tamu. Tidak, kau bahkan sama sekali tidak ingin melihat wajahnya. Seseorang yang telah menelantarkan ibumu. Seharusnya, mungkin saja kalau tidak terlambat berobat, ibumu akan sangat berbahagia, sebentar lagi akan memiliki mantu yang berparas cantik, pandai memasak, dan cekatan dalam urusan rumah tangga. Terbukti, saat pacarmu datang ke kontrakanmu yang berantakan, ia selalu membenahi letak-letak barang yang dianggapnya salah. Atau merapikan segala sesuatu yang berceceran.

Berbeda dengan ibumu, bapakmu bahkan membentakmu saat di telepon, mengabari bahwa kau baru saja punya pacar tiga tahun yang lalu. Kerja saja belum becus, sudah mau pacar-pacaran. Dan itu adalah obrolan terakhir antara kau dan bapakmu.

Segala yang kau lihat di dalam rumah ini penuh dengan luka. Sejak kecil, bahkan kau seperti anak yang tidak pernah diharapkan. Kau biarkan orang-orang melantunkan doa, membacakan selawat, dan kau tetap hening dalam tempat dudukmu. Ada semacam kelegaan yang tidak bisa kau bagi dengan siapa pun. Yang mereka tahu, kau pulang karena ingin menyaksikan hari terakhir bapakmu.

Kau pandangi halaman rumahmu. Tempatmu bermain bersama teman-temanmu. Pernah suatu kali bapakmu menyuruhmu untuk memanjat pohon mangga yang tumbuh di depan rumah. Maka dengan sangat hati-hati kau menaikinya. Tetapi bapakmu berteriak lantang menyuruhmu untuk cepat-cepat. Kau sedikit cekatan, hingga akhirnya kau salah mengambil pijakan pada ranting yang rapuh. Ranting patah dan bunyi gedebuk terdengar nyaring di telinga bapakmu. Kau mengerang kesakitan karena punggungmu menghantam bumi.

Namun, bapakmu tak peduli. Bahkan ia malah memakimu dengan hujatan yang tak enak didengar telinga. Anak goblok, nyari pijakan saja tidak becus. Tak cukup sampai di sana, kaki bapakmu menendangmu dengan cukup keras. Meski teramat sakit, kau lebih memilih menahannya, karena kalau kau berteriak, bapakmu akan menghajarmu lebih keras lagi.

Dan kini ia terbujur kaku diselimuti kain kafan. Kau menggeleng saat mereka mengajakmu untuk menshalatkannya. Kau memilih tetap hening dalam dudukmu.

Namun, bapakmu tak peduli. Bahkan ia malah memakimu dengan hujatan yang tak enak didengar telinga. Anak goblok, nyari pijakan saja tidak becus. Tak cukup sampai di sana, kaki bapakmu menendangmu dengan cukup keras. Meski teramat sakit, kau lebih memilih menahannya, karena kalau kau berteriak, bapakmu akan menghajarmu lebih keras lagi.

Kau juga tak lupa bagaimana amuk bapakmu saat kau lupa mengisi bak mandi. Kau terlalu asyik bermain dengan kawan-kawan sepermainanmu, bapakmu yang pulang dari pabrik garam murka melihat bak mandi masih kosong. Maka kau didatangi dengan pecut yang sudah melekat di tangan bapakmu. Teman-temanmu ketakutan dan mereka lari tunggang langgang. Tertinggal kau seorang diri di tanah lapang. Bapakmu menyeretmu sepanjang jalan, dengan pecut yang tiada henti-hentinya menyabet tubuhmu. Kau meringis, menahan sakit. Ibumu hanya melihatmu dengan perasaan iba. Dan kau terpaksa mengambil air di sungai dengan menahan kepedihan di punggungmu.

Kau tak pernah dianggap di depan bapakmu. Bahkan ketika kau mendapatkan peringkat pertama di sekolah, saat ibumu membanggakanmu di depan para tetangga, bapakmu malah mencemoohmu. Lelaki dilihat dari seberapa besar uang yang bisa didapat, bukan dari seberapa tinggi nilai yang ia dapatkan di sekolah. Lagi pula, nilai di sekolah tidak bisa memberikan ganti apa-apa kepada kehidupan kita yang sudah semakin susah. Kata-kata bapakmu tentu sangat menusuk. Tidak ada satu hal kecil pun yang bisa membuatnya bangga. Maka kau menahan jengkel mendaftar ke sekolah impianmu. Saat tahu kau akan masuk SMA, bapakmu murka. Mau jadi apa masuk SMA? Mau jadi guru, kuliah, mewujudkan cita-cita. Cita-cita macam tahi. Kau tahu, anak lulusan SMA susah mendapatkan pekerjaan? Akhirnya demi menghindari amarah bapakmu kau melanjutkan sekolah ke STM. Bukan sekolah yang kau senangi. Tiga tahun yang seperti penjara bagimu.

Di sela-sela sekolah kau harus membantu mengurusi sawah, sesuatu yang sebenarnya kau benci. Bagaimana tidak, bekerja di sawah layaknya berada di neraka. Saat musim tanam tiba, bapakmu memaksamu untuk menyebarkan benih-benih, jika secara tak sengaja kakimu menginjak benih padi yang telah berjajar rapi, bapakmu tak segan-segan menghajarmu. Menurut bapakmu, dibandingkan anak-anak temannya yang juga seusiamu, kamu adalah anak yang paling pemalas. Lebih memilih buku dibandingkan bergelut dengan sawah yang bisa kau jadikan pegangan ketika hari tua kelak. Kau pernah mengatakan tak ingin jadi petani, maka lagi-lagi bapakmu menghajarmu tiada ampun. Kata-katanya adalah titah yang harus dilaksanakan. Maka jika kau tidak mendengarnya, apalagi tidak melakukan apa yang ia perintahkan, tak jarang kau akan mendapatkan berbagai macam siksaan.

Sering kali kau merasa kasihan terhadap ibumu yang suka membelamu. Dan bapakmu tidak peduli. Saat ibumu mengakui sebuah kesalahan yang tidak dilakukannya, karena yang melakukan adalah kamu, maka ibumu akan disiksa sedemikian rupa. Dicambuk, dihardik, dipukul sampai bapakmu merasa terpuaskan.

Hingga kau akhirnya mendapatkan pekerjaan di kota. Kau serasa lepas dari penjara. Beberapa gaji pertamamu, kau mengirimkannya untuk ibumu, setelah menyisihkan untuk kebutuhanmu sehari-hari. Maka tak jarang, bapakmu merampas uang itu dari tangan ibumu dan mempergunakannya untuk bermain judi, togel, dan semacamnya. Ibumu sering kali dibuatnya menangis tersedu-sedu. Ingin sekali kamu pulang, menemani ibumu, atau mengajaknya pergi dari bapakmu. Tapi hal itu pernah kau utarakan, dan ibumu menolak. Surga ibu ada dalam diri bapakmu. Tidak mungkin aku meninggalkannya. Dan kau hanya mendesah pelan mendengar keputusan ibumu.

Hingga akhirnya ibumu jatuh sakit akibat bekerja terlalu keras. Berkali-kali ibumu menelepon supaya kamu segera pulang. Namun, pekerjaan belum mengizinkanmu untuk pulang ke kampung halaman. Kau tetap di kota sampai keadaan ibumu semakin parah.

Saat kau pulang kaudapati ibumu sedang dalam keadaan yang teramat payah. Ia sudah tak mampu bergerak lagi. Ia hanya terbaring di atas ranjang bambu di ruang depan. Maka kau bergegas untuk membawa ke rumah sakit tanpa seizin bapakmu. Kanker payudara stadium tiga. Itu yang dikatakan dokter. Meski terlambat dalam penanganannya, setidaknya dokter berupaya untuk mengobati ibumu. Dan bapakmu datang ke rumah sakit dengan wajah tanpa dosa. Kau mengusirnya, membentaknya, dan bapakmu tak kalah garang dalam memaki. Kalian bertengkar hebat sampai harus dilerai oleh beberapa petugas rumah sakit yang sedang berjaga. Saat amarahmu belum juga mereda, kau kehilangan ibumu. Pertolongan datang terlambat. Kepergiannya semakin membuatmu benci terhadap bapakmu. Lelaki macam apa kau ini? Lelaki yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab terhadap perempuan yang dinikahinya.

Setelah pemakaman ibumu kau langsung berangkat pergi. Tanpa ucapan selamat tinggal kepada bapakmu. Kau bekerja seperti biasa, dan saat musim libur panjang seperti Lebaran dan Tahun Baru, kau lebih memilih bercengkerama di rumah kekasihmu. Saat keluarga mereka menanyai tentang kenapa tidak pulang, bapak lebih bahagia aku berada di rumah seseorang yang hendak aku nikahi. Jawabanmu tentu sangat memuaskan mereka. Mereka tak perlu tahu alasan kenapa kau malas untuk pulang.

Lebaran ketiga bapakmu jatuh sakit. Ia telah meminta tolong kepada tetangga terdekat untuk menghubungimu. Dan kau selalu mengatakan sibuk. Tidak ada waktu. Maka bapakmu—meski dengan batuk tersengal—selalu berusaha menghubungimu.

Ingin sekali kau meludahi bapakmu tepat di wajahnya, tetapi niat itu tidak pernah kau laksanakan. Kau pandangi meja di depanmu. Meja yang juga selalu jadi alasan kemarahan bapakmu. Kau pernah secara tak sengaja menyenggol gelas yang berisi kopi yang baru saja diseduh. Kopi tumpah dan gelas pecah. Maka kemarahan bapakmu tidak terbendung. Ia mengguyurkan sisa kopi ke wajahmu. Kau masih ingat dengan rasa sakit itu. Rasa panas kopi yang ditumpahkan ke mukamu.

Saat jenazah hendak diangkat di keranda, saat itulah kau ikut berdiri. Kau meminta pengusung keranda untuk menurunkan sejenak jenazah bapakmu. Entah kenapa kau ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Kau membuka kain penutup dan kau melihat bapakmu dengan mulut ternganga dan mata sedikit membuka. Di kedua pipinya kau melihat air mata yang seperti tak berhenti mengalir dengan deras. Dan kau menutupnya kembali. Meski kau telah melihat kesedihan yang demikian mendalam, kau masih tetap tidak ingin memaafkan bapakmu. Kau bahkan enggan mengantar bapakmu hingga ke pemakaman. Kau lebih memilih berada di rumah, merenungi segala dan apa saja yang mungkin terjadi setelah ini. Tak ada selawat terlantun dari bibirmu.

Tak ada Al-Fatihah sebagaimana kau ucapkan ketika ada orang yang meninggal. Kau hanya diam saja. Seperti hendak menyumpahserapahi bapakmu.

Ciputat, 23 Juni 2021

***

Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya pernah dimuat harian Republika, detik.com, dan cendananews.com

sumber : kompas.id, 11 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme