Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ruangan Tanpa Ujung oleh Rumadi

Posted on Kam, 24 Jun 2021

Apa yang kamu lihat masih sama. Kamu di sana hanya ditemani sebuah balai yang terbuat dari bambu. Tempatmu merebah di saat kamu lelah. Tak ada apa pun. Tak ada siapa pun. Suara yang kamu dengar pun hanya suaramu sendiri. Tak ada yang mendengarmu selain bangku itu.

Kamu mulai terbiasa berada di sini. Dan kamu telah lupa sudah berapa lama kamu terjebak. Kamu menoleh ke kanan kemudian ke kiri sesekali, seperti berharap ada keajaiban yang bisa membawamu kembali ke duniamu yang sebelumnya. Kamu merasa ini seperti mimpi dan berharap kamu akan segera terbangun dari mimpi ini.

Setiap hari kamu merasa lebih kecewa dari sebelumnya. Ketika kamu terbangun, apa yang kamu lihat tidak pernah berubah. Hanya ada bangku itu, dan kamu yang berbaju putih, bercelana putih tanpa beralas kaki. Kamu senang memandang kakimu yang telanjang. Hanya itu saja yang mampu menghiburmu. Pergelangan kaki yang diputar-putar dan bisa menapak di ruangan ini menunjukkan bahwa kamu bukan hantu. Kamu masih seorang manusia.

Kamu pandangi sekeliling. Warna putih tanpa ujung. Pernah suatu kali ketika kamu masih baru berada di sini kamu berlari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Tak ada patokan waktu, mungkin kira-kira dalam perhitunganmu kamu telah berlari selama dua puluh menit. Namun yang kamu rasakan, kamu tak pernah benar-benar beranjak dari tempat itu. Kamu kembali ke tempat yang sama. Sejauh apa pun kamu berlari meskipun kamu berlari lurus kamu akan selalu menemukan balai yang sama. Tempat kamu terbangun pertama kali di tempat ini. Kamu terus mencobanya entah sampai berapa lama, hingga kamu benar-benar lelah dan pasrah menerima apa yang mungkin saja sudah digariskan. Kamu berpikir, bahwa kamu memang ditakdirkan untuk berada di tempat ini.

Kamu nyaris gila atau mungkin memang telah gila. Kamu bahkan tidak bisa menghitung seberapa lama kamu di sana. Semua permintaanmu—kecuali ditemani manusia tentu saja—selalu saja dikabulkan dalam sekejapan mata. Setidaknya kamu pernah membayangkan atau mungkin lebih tepatnya memimpikan saat seperti ini. Segala yang kamu pinta tersedia. Tak ada seorang pun yang mengganggu segala kegiatanmu. Namun rupanya hal semacam ini tak terlalu menyenangkan bagimu. Hidup seorang diri hanya ditemani sebuah bangku yang bahkan tidak bisa menjawab segala celotehmu.

Kamu membayangkan sebuah cermin, seketika itu juga cermin itu hadir di hadapanmu. Sudah lama kamu tidak melihat dirimu sendiri. Kamu bahkan tak perlu memegangnya. Cermin itu selebar rentangan tanganmu, dan tingginya sekitar satu jengkal lebih tinggi dari tinggi badanmu. Kamu terlihat lebih muda. Kerut di wajahmu yang terakhir kamu lihat sebelum kamu di sini telah menghilang. Kamu seperti dilempar ke masa muda, di antara usia dua puluh sampai dua puluh lima.

Kamu merenung kembali. Kamu mengingat segala dalam hidupmu telah porak poranda. Seperti benang kusut yang tak bisa lagi digunakan untuk merajut. Terlalu rumit untuk diurai satu per satu.

Hari terakhir yang kamu ingat sebelum kamu berada di sini adalah ketika rumahmu akan dibakar. Rumah yang kamu bangun dengan keringatmu sendiri disiram bahan bakar dengan begitu arogan oleh orang sekeliling kampung.

Kamu mulai berpikir dari arah sebaliknya tentang hidupmu. Mungkin kamu akan sama marahnya dengan mereka yang akan membakar rumahmu. Betapa tidak, keluargamu seperti keturunan setan. Tak beradab dan tak pantas disebut manusia.

Ada sesak yang perlahan mengguncang dada. Kamu ingat segala peristiwa memilukan itu. Tentang istrimu yang ketahuan selingkuh dengan lelaki simpanannya. Kamu memergokinya saat pulang dari tugas dari luar kota. Kamu pulang tanpa berkabar. Sepekan kamu tinggal rumahmu tak lagi seperti rumah manusia. Banyak perabotan yang ditempatkan tidak pada tempat yang semestinya. Piring dan baju kotor berserakan. Perlahan kamu melangkah ke kamarmu dan memanggil nama istrimu. Kamu mendengar lenguhan yang begitu ganas di kamarmu. Di tempat kamu dan istrimu bercinta. Kamu tak segera mengetuk. Memastikan ada lelaki di kamar itu. Kamu mendobraknya dengan sekuat tenaga. Betapa malang nasibmu.

Kamu merenung kembali. Kamu mengingat segala dalam hidupmu telah porak poranda. Seperti benang kusut yang tak bisa lagi digunakan untuk merajut. Terlalu rumit untuk diurai satu per satu.

Darahmu naik, matamu menyala. Kamu seret lelaki itu dari kasur, dan kamu hantam sekali saja, karena setelahnya kamu yang dihajar habis-habisan. Tubuhmu yang digelayuti lemak tak mampu berbuat banyak. Wajahmu lebam penuh luka. Juga tubuhmu terasa remuk. Tentu hatimu yang terasa paling sakit. Istrimu mencibir, tersenyum penuh kemenangan. Kamu tahu penyebab semuanya. Kamu tak pernah benar-benar memuaskan istrimu.

Hari-hari selanjutnya bahkan istrimu tidak pernah lagi meminta izinmu untuk mengajak lelaki mudanya bercinta. Kamu tak bisa berbuat apa-apa. Kamu tidak lagi diizinkan untuk tidur di kamar. Sepulang kerja kamu yang harus merapikan rumahmu sendiri. Kamu rebah di sofa, kamu terlalu takut kehilangan istri yang pernah kamu perjuangkan semasa muda dulu.

Tak lama setelah peristiwa itu, kamu didatangi seorang lelaki bertampang sangar dengan membawa sebilah celurit di tangan. Tak lama setelah kamu membuka pintu, lehermu dikalungi celurit. Di belakangnya seorang perempuan muda yang tampak mengandung menangis terisak. Anakmu menghamilinya katanya. Aku tak tahu apa-apa, jawabmu. Bahkan keberadaan anak lelakimu pun kamu tak tahu. Lelaki itu mulai menggores luka di lehermu. Sedikit darah mengalir kecil, kamu gemetar. Akan segera kucari anakku untuk segera menemui Bapak, jawabmu. Jika tak segera kutemukan kutebas lehermu, kubakar rumahmu. Kamu hanya mengangguk lemah. Kamu ragu apa kamu akan benar-benar akan menemukannya.

Tak pernah menyenangkan berhubungan dengan manusia, pikirmu. Kamu berharap dilempar ke tempat yang jauh—yang tak ada seorang pun manusia di sana. Lelahmu tak dihargai istrimu sendiri. Anakmu pergi dan berulah, tanpa mau bertanggung jawab, dan rumah yang kau bangun dengan jerih payah keringatmu, dijadikan istana oleh istrimu dan selingkuhannya, kamu hanya menjadi babu di rumahmu sendiri.

Habis gelap, terbitlah terang, suara hatimu berkata. Namun terang itu tak kunjung datang. Kamu mulai tak betah berada di rumah. Kamu hanya duduk lama di pinggiran halte depan kantormu sepulang kerja. Merenungkan langkah apa yang bisa menyelesaikan semuanya. Khayalanmu, kamu berada di tempat yang tak ada seorang pun manusia. Tak ada yang mengganggu. Kamu pulang dengan langkah yang lemah. Orang-orang berkumpul, istrimu dan lelaki muda itu diseret ke halaman. Dan lelaki bertampang sangar itu telah ada di sana. Ia berteriak lantang, menyuruh warga untuk menyiramkan bahan bakar ke rumahmu. Kamu ingin berteriak.

Namun kamu takut diamuk massa. Kamu mundur teratur, dan selanjutnya kamu tak ingat apa-apa lagi sampai pada akhirnya kamu berada di dalam ruang putih ini, tanpa seorang pun teman.

Kamu meminum segelas teh hangat untuk menenangkan pikiranmu. Tentu teh hangat yang datang tiba-tiba berada di depanmu. Hanya tinggal membayangkan, maka apa yang kau bayangkan akan tersedia dengan sendirinya. Kamu memikirkan sebilah pisau, dan tiba-tiba pisau itu sudah ada di tanganmu. Kamu hendak mengiris pergelangan tanganmu, tetapi tak pernah bisa. Berkali-kali kau mencoba tetapi gagal. Pisau itu tidak bisa digunakan untuk membunuh dirimu sendiri. Kamu menunggu dan berharap kejaiban akan datang kepadamu. Keluar dari ruang putih ini dan mendapatkan kehidupan hidupmu yang lebih baik.

Ciputat, 6 April 2020.

Rumadi, lahir di Pati, 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di komunitas Prosatujuh.

sumber : kompas.id, 24 Jun 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme