Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tuan Jenderal oleh Rumadi

Posted on Rab, 04 Agu 2021

Akhirnya Tuan Presiden melangkah keluar dari istana. Demi keamanannya, orang-orang terdekatnya menyarankan agar ia jangan pergi keluar. Bahkan ajudannya, telah menyarankan Tuan Presiden pergi lewat jalur bawah tanah yang bisa saja dipergunakan dalam keadaan darurat.

”Biar aku menemui rakyatku untuk terakhir kali,” tukas Tuan Presiden tanpa ragu.

Suara-suara di luar terdengar tidak begitu mengenakkan dan memecah kesunyian istana dalam sepekan ini.

”Bakar istana! Bunuh Tuan Presiden! Hancurkan mereka yang menghancurkan rakyat!” Suara-suara rakyat memekik. Tentara militer yang dikerahkan pun serasa tak mampu membendung kekuatan massa yang begitu besar. Celakanya, di belakang mereka ada sebagian pasukan yang mendukung gerakan rakyat. Mereka mungkin saja datang dari berbagai pelosok negeri.

Rakyat sangat marah. Istana telah dikepung dari berbagai penjuru. Dan hal itu, ia saksikan langsung pada hari ini. Lontaran kebencian, makian, dan cacian ditujukan kepadanya, saat ia baru saja memunculkan wajah di depan rakyatnya.

Tuan Presiden tampak tenang. Ia berikan sunggingan senyumnya yang khas disertai dengan lambaian tangan. Ia berdiri di atas mimbar sebagaimana biasa seperti saat ia menyampaikan pidato kenegaraan. Militer bersiap siaga di sekeliling istana. Waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

”Rakyatku yang saya cintai…,” belum selesai Tuan Presiden menyelesaikan kalimatnya, rakyat memotong dengan makian.

”Cinta? Cuih…. Jangan lagi kau bodohi kami dengan pidatomu yang sok peduli itu. Pada kenyataannya kau tak pernah peduli kepada kami. Kau hanya mementingkan isi perutmu dan isi perut keluargamu.” Suara itu lantang menyerang.

Namun, Tuan Presiden masih tampak begitu tenang.

Tiba-tiba sebuah mobil datang membelah kerumunan. Orang-orang pun memberikan jalan karena mereka sudah tahu siapa yang berada di dalam mobil itu. Militer mengacungkan senjata ke arahnya. Bersiap siaga. Mobil itu berhenti hanya sekitar dua puluh langkah di depan mimbar Tuan Presiden. Pintu mobil terbuka. Sepasang kaki menginjak tanah. Tak kalah dengan apa yang dilakukan Tuan Presiden, seorang pria langsung melambaikan senyuman dan memberikan seulas senyum. Rakyat bersorak sorai, gegap gempita menyambutnya.

”Hidup Tuan Jenderal! Hidup Tuan Jenderal!” Teriakan rakyat mengelukannya.

Tuan Presiden menghentikan pidato. Ia memberikan jeda pada Tuan Jenderal yang sedang menikmati eluan rakyat. Ternyata kabar tentang Tuan Jenderal yang hendak menggulingkan pemerintahan bukan isapan jempol semata. Ia sekarang berdiri di sini, di depan istana negara. Dan berada di garda terdepan perlawanan rakyat. Selama ini Tuan Presiden belum memercayai desas-desus yang beredar. Saat melihatnya langsung pada hari ini, mau tidak mau dia harus percaya.

***

Jenderal sedang berada di ruangan khusus Tuan Presiden. Wajahnya menunduk. Meski ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya, tetapi Tuan Presiden seperti sudah mengembus apa yang hendak ia sampaikan.

”Jadi misimu gagal?” Tuan Presiden tak berbasa-basi. Langsung menusuk ke inti persoalan.

”Tuan Presiden, rakyat melawan. Meski senjata kami lebih canggih, tetapi mereka lebih menguasai medan. Awalnya, kami sudah berusaha menggunakan jalan damai, tetapi mereka menolak. Seperti yang sudah Tuan Presiden perintahkan, jika warga menolak, kami harus menggunakan kekerasan. Mereka menggunakan panah beracun untuk menyerang bagian-bagian vital tubuh kami. Mereka lebih gesit dari monyet. Meriam, granat, dan senapan yang kami gunakan seperti tak berguna di sana. Kami tak bisa mengejar.

Gerakan mereka pun sangat cekatan dalam pertarungan satu lawan satu. Meski yang saya bawa adalah pasukan terlatih, pada kenyataannya kami tak bisa berbuat banyak di sana. Saya tak ingin jatuh korban lebih banyak. Maka saya menarik mundur pasukan.” Jenderal berusaha menjelaskan semuanya sebaik mungkin.

”Jenderal….” Tuan Presiden berdiri dari tempat duduknya.

”Iya Tuan.” Jenderal berusaha menatap semantap mungkin orang nomor satu di negeri itu yang duduk dengan tenang di hadapannya.

”Jenderal tahu, meski di sana berupa rawa-rawa, tetapi kekayaan alam di sana sangat luar biasa. Terutama minyak bumi. Jenderal tahu itu kan?” Mata Tuan Presiden terus mengamati Jenderal.

”Tahu Tuan….” Jenderal tak bisa berkata lebih banyak.

”Dan tentu selama kita bekerja sama, tentu Jenderal juga tahu, negeri ini tidak memiliki tempat untuk mereka yang gagal. Kami biasa menyebut mereka sebagai pecundang. Dan pecundang harus dimusnahkan,” tegas Tuan Presiden.

”Tetapi, bukankah selama saya menjalankan misi, baru sekali ini saya gagal menjalankan sebuah misi? Jika Tuan Presiden masih memberikan kesempatan lagi kepada saya, tentu saya akan berusaha sebaik mungkin dalam menjalankan misi.” Jenderal melakukan pembelaan.

”Jenderal…. Saya tidak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang gagal. Apalagi untuk misi sebesar ini….” Suara itu terdengar dalam. Menyentak. Tuan Presiden memencet tombol keamanan yang berada di mejanya untuk memanggil pasukan.

Tanpa menunggu lama, Jenderal langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi. Dua orang petugas keamanan Presiden yang berjaga di depan ruangan itu segera masuk dan mengacungkan pistol. Jenderal berjumpalitan ke sana kemari menghindari tembakan. Dengan gesit dan cekatan, meski dengan bersusah payah, ia berhasil keluar dari ruangan Tuan Presiden. Desing peluru menyambutnya saat ia baru saja keluar ruangan. Ia mengelak. Terus berlindung. Beberapa peluru memang mengenai dada dan punggungnya. Namun beruntung, rompi antipeluru melindungi dirinya dari kematian. Ia pun menembak sebuah kaca jendela. Begitu kaca itu pecah, ia langsung menabrakkan diri ke arah jendela. Ia juga tak memikirkan, bagaimana nanti tubuhnya mendarat. Yang ia tahu dan yang ia ingat, matanya gelap saat jatuh dari ketinggian. Dan saat sadar, dia sudah tidak lagi berada di istana kepresidenan. Dia diselamatkan para pengikut setianya.

***

Setelah sadar, Jenderal langsung menyatu dan hidup bersama rakyat. Menceritakan kepada rakyat betapa Tuan Presiden adalah pemimpin yang korup. Menggali kekayaan alam negeri untuk kepentingannya sendiri, keluarganya, dan kelompoknya tanpa sedikit pun memikirkan kesejahteraan rakyat.

”Aku keluar dari militer karena tak mungkin aku bermusuhan dengan rakyatku sendiri. Tak mungkin aku membunuh mereka. Bertentangan dengan hati nurani. Aku ingin berjuang bersama kalian. Jika kalian tidak bersatu, sulit untuk menumbangkan pemerintah saat ini. Hidup kalian akan terus mengalami kesusahan selama Tuan Presiden berkuasa.” Suara yang ia gaungkan di tengah-tengah kehidupannya bersama rakyat.

Dari desa ke desa, bahkan sampai ke pelosok sekalipun ia datangi. Jenderal berusaha menggalang kekuatan yang sebesar-besarnya untuk menumbangkan kekuasaan Tuan Presiden.

”Jika kalian tidak segera berusaha untuk menjatuhkan Tuan Presiden, maka hanya tinggal menunggu waktu, desa kalian yang memiliki kekayaan alam tak terbatas akan direbut paksa. Jika mereka berhasil, kalian akan kehilangan tempat tinggal. Anak-anak kalian tidak memiliki tempat untuk tumbuh. Berjuanglah bersamaku, tumbangkan Tuan Presiden yang merampas kekayaan rakyat untuk kepentingannya sendiri.” Suara itu cukup ampuh untuk mengajak mereka bergabung bersamanya.

Massa telah berkumpul. Maka Jenderal pun mengajak mereka mengepung istana. Mereka—para militer yang masih setia kepadanya—dipercayakan menjadi tameng seandainya Tuan Presiden unjuk kekuatan.

***

Kalau saja Tuan Jenderal memerintahkan rakyat, atau orang yang masih patuh kepadanya untuk menembak kepala Tuan Presiden, tentu bukanlah sebuah perkara yang sulit. Namun ia tidak mau Tuan Presiden mati begitu saja. Ia harus menerima hukuman yang pantas.

Dua mobil datang. Sekompi pasukan keluar. Mereka mengacungkan senjata ke arah Tuan Presiden.

”Gantung Tuan Presiden!” teriak salah seorang warga.

Militer pun sampai bingung apa yang harus mereka perbuat. Tuan Presiden akhirnya memberikan isyarat kepada militer untuk tidak mengambil tindakan apa pun. Ia menyerahkan diri. Pasukan yang mendukung kudeta ini langsung mengamankannya. Ia dimasukkan ke dalam mobil.

”Bunuh! Bakar! Gantung!” Suara rakyat menggema memekakkan.

Tuan Jenderal naik ke podium. Matanya memandang semua pendukung dan orang-orang yang senantiasa mengelukannya. Tarikan napasnya begitu ringan, seulas senyum terkembang di bibirnya.

”Rakyatku yang saya cintai. Kita tentu sudah sangat lama menanti saat-saat seperti ini. Pemimpin korup telah tumbang. Mulai hari ini, kita akan memulai era baru. Kesejahteraan rakyat adalah hal yang harus menjadi prioritas utama bagi pemimpin yang akan kalian tunjuk nanti. Saya serahkan kepemimpinan negeri ini, kepada siapa pun yang merasa mampu untuk memimpin.” Tuan Jenderal membuka pidatonya.

Hening sesaat.

”Hidup Tuan Jenderal! Hidup Tuan Jenderal! Tuan Jenderal adalah pemimpin kami.” teriak salah seorang warga.

”Benar! Tuan Jenderal adalah pemimpin kami! Tidak ada yang mampu menggantikan kepemimpinan Tuan Jenderal di hati kami,” sahut yang lain.

Tuan Jenderal tersenyum.

”Baiklah. Jika itu adalah keinginan rakyat, maka saya tidak menolak. Sekarang pulanglah. Tidurlah yang nyenyak. Karena setelah ini tidak akan ada lagi perampasan hak rakyat untuk penguasa.” Tuan Jenderal tersenyum puas.

***

Pagi harinya, Tuan Presiden disalib di depan istana. Baju kebesarannya tidak dilepas. Seluruh media nasional meliput. Rakyat yang melihatnya memaki. Hukuman yang pantas menurut mereka setelah apa yang ia lakukan selama ini.

Di istana kepresidenan, Tuan Jenderal mengumpulkan semua pemimpin militer.

”Mari, kita hancurkan para pembangkang. Mereka yang menolak desanya, atau tanahnya untuk negara, bumi hanguskan. Hancurkan!” perintah Tuan Jenderal.

”Siap Tuan!!!” jawab para komandan serempak.

***

Ciputat, 3 Maret 2019

Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Beralamat di Pati. Saat ini aktif di komunitas Forum Lingkar Pena cabang Ciputat dan komunitas Prosatujuh.

sumber : kompas.id, 04 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme