Cerpen : Ama Tewo oleh Silvester Petara Hurit

”Beringin-beringin ini telah ada sebelum kami lahir. Bahkan kakek-nenek kami pun menceritakan hal yang sama. Saat mereka lahir beringin-beringin ini telah ada.” AMA Tewo berada di pihak kakeknya. Waktu itu kakek dan beberapa tetua seusianya coba mencegah. ”Ini perintah!” Darah Ama Tewo seperti mendidih. Namun ia tak kuasa membela apa yang dipertahankan tetua kampung. Aparat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ibu Kota oleh Silvester Petara Hurit

LIMA hari Hoda bergulat. Sejauh pandang hanya laut. Asin dan kelat. Gelombang merumpun dan pecah. Senja murung. Laut mengguncangkan segalanya. Juga rasa nyaman. Pelabuhan Tanjung Priok sudah tampak di depan mata. Hoda melemparkan pandangannya sejauh mungkin. “Tanah satu dan sama walau dipisahkan laut. Jika kau mencintai tanahmu seutuh-utuhnya, setiap tanah yang kau datangi akan sepenuhnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ibu Kota oleh Silvester Petara Hurit

Lima hari Hoda bergulat. Sejauh pandang hanya laut. Asin dan kelat. Gelombang merumpun dan pecah. Senja murung. Laut mengguncangkan segalanya. Juga rasa nyaman. Pelabuhan Tanjung Priok sudah tampak di depan mata. Hoda melemparkan pandangannya sejauh mungkin. ”Tanah satu dan sama walau dipisahkan laut. Jika kau mencintai tanahmu seutuh-utuhnya, setiap tanah yang kau datangi akan sepenuhnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Koda oleh Silvester Petara Hurit

Oleh SILVESTER PETARA HURIT — Orang boleh membunuh raga mencabut nyawa, namun tak kuasa membinasakan koda. Koda menghadirkan dirinya kepada siapa ia berkenan. Orang-orang biasanya menantikan kehadirannya dalam setiap generasi. Kali ini ia mewujud di sekujur tubuh dan kesadaran Eba, anak berusia 3 tahun. KODA telah disimpan di dasar hati, di kedalaman sanubarinya. Tinggal waktunya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mama Eta oleh Silvester Petara Hurit

Mengapa kesulitan terus datang sedang hidup sudah susah? Mama Eta menyalakan lilin, berlutut di depan foto Tuan Ma dengan Rosario kayu cendana di tangan. Ia berdoa dengan lutut gemetar dan air mata yang terus menggenangi kedua kantong matanya. Digenggamnya erat rosario warisan ibunya, didekapnya lebih erat ke dada. ”So tiga taon ni Mama Bunda te jalan kelua lia nagi. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bolehkah Kupinjam Sepatumu, Simon? oleh Silvester Petara Hurit

Kelahiran Simon adalah cerita buruk. Ibunya mengalami gangguan mental. Tak ada yang tahu persis siapa ayahnya. Diana, bidan desa waktu itu, berjuang sekuat usaha agar bayi yang kemudian diberi nama Simon dapat lahir selamat di puskesmas kecamatan. Mulai ketua RT, linmas, sampai kepala desa siaga dan terlibat dalam proses kelahiran itu. Segala kebutuhan seperti popok … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hawa Panas oleh Silvester Petara Hurit

Hujan datang lebih awal. Setelah harga kopra jatuh dari 10 ribu menjadi 4 ribu rupiah per kilo, setelah bunga mente mengering sebelum sempat melahirkan buah, setelah buah kelapa pecah dan jatuh sebelum sempat menjadi muda. Silvester Petara Hurit Hujan lebat sudah hampir seminggu, tapi di rumah, kantor, dan tempat ibadah orang- orang mengeluh panas. Keringat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kabar di Malam Natal oleh Silvester Petara Hurit

Pagi di sepanjang Desember selalu seperti  perempuan dengan rambut basah selepas mandi. Aroma tanah basah, tanaman yang menggeliat tumbuh, sayup angin, cericit burung dan ayam jantan yang berkokok panjang turun dari pohon bertingkah merayu betina pujaannya membuat pagi begitu ranum. Ama Ola selalu bangun tepat pukul 03.30. Tak dilewatkannya geliat kehidupan sebelum hari menjadi benar-benar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ama Tobi di Antara Konflik Batas Kampung Serumpun oleh Silvester Petara Hurit

Bagaimana orang dalam satu rahim kultur bisa bicara seperti musuh yang tak saling kenal? Di manakah tanah sebagai ibu yang merangkul dan mempersatukan? — DI KANTOR camat yang dijaga ketat aparat keamanan, Ama Tobi sebagai warga tetangga yang masih serumpun dari dua kampung yang bertikai turut hadir di dalamnya. Pertemuan yang tegang dan menguras perasaan. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mengantar Benih Padi Terakhir ke Ladang oleh Silvester Petara Hurit

Jika waktunya tiba, tanamlah walau hujan belum turun. Ketika benih sudah diantar ke tanah, langit dan bumi kawin. Hujan turun. Padi tumbuh dan membiak di atas tanah berbatu sekalipun. Jangan khawatir, bukan hanya kamu yang hidup di atas tanah ini. Sudah beratus bahkan beribu-ribu tahun leluhurmu hidup di atas tanah yang sama, menanam padi yang … Baca Selengkapnya