Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Koda oleh Silvester Petara Hurit

Posted on Ming, 07 Jan 2024

Oleh SILVESTER PETARA HURIT

—

Orang boleh membunuh raga mencabut nyawa, namun tak kuasa membinasakan koda. Koda menghadirkan dirinya kepada siapa ia berkenan. Orang-orang biasanya menantikan kehadirannya dalam setiap generasi. Kali ini ia mewujud di sekujur tubuh dan kesadaran Eba, anak berusia 3 tahun.

KODA telah disimpan di dasar hati, di kedalaman sanubarinya. Tinggal waktunya ia akan menyembul ke luar seperti mata air. Mengalir tak habis-habis. Saya sudah melihat cahayanya,” kata Ba Sina tentang Eba.

Ketika hidup susah, kesulitan terus datang, orang mendoakan kelahiran baru dan berharap satu di antaranya diberkahi alam dan leluhur dengan koda.

”Jaga anak ini baik-baik. Jangan bawa dulu ke tempat ramai, apalagi ke kampung orang.” Itulah pesan terakhir Ba Sina beberapa hari sebelum ia menutup mata untuk selamanya. Ba Sina merasa tenang untuk pergi karena telah melihat tanda itu pada Eba. Bahwa telah lahir kekasih alam. Ia yang kepadanya alam berkenan. Padanya segenap kekuatan leluhur membenum.

Orang-orang di masa sebelum masuknya agama dari luar mengenal kehidupan melalui tanda-tanda alam. Ba Sina adalah generasi terakhir yang masih sangat percaya dan memandang suci koda. Orang sekolahan hari ini menyebutnya dengan puisi lisan. Namun, sebutan itu tak memadai. Koda lebih semacam sabda rahasia atau mantra yang diwahyukan alam.

Tipis sekali batas antara koda dan kenyataan. Ama Tueng menyaksikan dengan mata kepala sendiri waktu banjir besar 10 tahun silam. Gemuruh dari arah gunung begitu menakutkan. Ia mengikuti Ba Sina yang bergerak cepat seperti angin mendekat ke kaki gunung. Ba Sina merapalkan koda. Banjir terbelah jadi dua. Mengalir ke sisi terluar kampung. Ia mengambil ruren, sejenis suling ganda, memainkannya. Tak lama volume air turun sehingga tak sampai merusak kebun sayur warga yang membentang di pinggir pantai.

Tidak hanya itu. Ketika gerombolan besar tikus menghabisi ladang jagung milik warga 8 tahun silam, Ba Sina meminta dirinya menangkap hidup sepasang tikus paling besar untuk kemudian dibawa ke rumah adat. Kedua tikus tersebut diperlakukan sebagai raja dan ratu. Sepanjang malam ia minta warga berkumpul dan menari. Koda dikisahkan lewat nyanyian. Begitu fajar menyingsing, keduanya diarak dalam miniatur sampan berisi segala perbekalan menuju laut. Kembali ke tempatnya. Sejak itu tak seekor pun tikus terlihat di ladang warga.

Ketika menggendong untuk kali pertama bayinya, kepada roh gunung dan bukit-bukit Ama Tueng menyeru, ”Semoga Eba tumbuh sekokoh gunung dan kebaikannya meluap sampai ke pantai. Napasnya seperti guntur kilat dan tenaganya gempa bumi.” Doa yang tak henti-henti ia panjatkan.

Setiap mendekap Eba berkelebat bayangan akan sekian kisah pengkhianatan terhadap leluhurnya. Terakhir terhadap Ama Nara kakeknya yang ditawan kompeni dan tak tahu kabar beritanya sampai hari ini. Menjaga dan memegang teguh koda bukan tanpa musuh. Kampung ibarat rumah. Penjaga koda adalah tuan rumah. Kalau ada yang berniat jahat, semisal pencuri atau perampok, tentu tuan rumah jadi target utama untuk disingkirkan.

***

”Anaknya Ama Tueng itu bakal lebih dari Ba Sina,” kata seorang tetua adat.

”Cahayanya menjulang sampai ke langit. Jika ia tumbuh besar dan kemampuannya berkembang sempurna akan sangat berbahaya,” tambah yang lain.

”Akan jadi masalah jika segala yang telah ditutup rapi selama beberapa generasi kelak ketika besar ia nyatakan secara terang benderang. Ia mewarisi keberanian para leluhurnya,” sambung yang lainnya lagi.

”Bagaimana menurut Pater?”

Pastor paroki tak segera menjawab. Ia diam beberapa saat. Ia tahu pembicaraan mereka mengarah kepada niat yang tidak baik. Namun, bagaimanapun ia butuh dukungan mereka. Apa yang bisa dilakukan kalau tanpa dukungan para elite kampung tersebut. Apalagi kongregasinya membutuhkan tanah untuk pembangunan biara dan kapel umat. Juga butuh cerita sukses berkarya di tempat yang dihuni umat yang keras kepala.

”Mana yang lebih baik, Pater, membuang satu orang ke laut atau membiarkan kapal terseok-seok menghambat pelayaran?”

Pastor paroki pernah mendengar bahwa tetua kampung yang menguasai adat dan tatanan tradisional hari ini adalah bagian dari penguasa yang diangkat dan didukung kolonial Belanda untuk melemahkan kepemimpinan tradisional.

”Demi keamanan dan keteraturan, kami sudah terbiasa bahkan sejak zaman kakek moyang!”

Pastor menarik napas. Sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan.

”Mempertimbangkan risiko terkecil, iya lebih baik mengorbankan satu orang daripada mengacaukan segala kondisi yang sudah baik selama ini atau Bapak Kepala Desa punya pendapat lain?”

”Kalau Pater sudah omong begitu, iya itu sudah,” katanya sambil membungkukkan badan serupa tikus di hadapan kucing.

”Membunuh tidak mungkin karena akan berurusan dengan aparat hukum,” pastor paroki mengingatkan.

”Serahkan segalanya ke kami.”

***

”Kita tak bisa bunuh anak itu. Koda melindunginya. Yang kita lakukan adalah membuatnya tak bisa tumbuh besar.”

”Bagaimana itu?”

”Ayahnya sangat mencintai tanah warisan leluhurnya. Kita jegal ayahnya. Supaya ia tak bisa bersekolah. Tak dapat ruang bergaul dan bertumbuh.”

Melihat kepala desa tambah bingung, Ama Rotok langsung menekan.

”Segera undang ketua suku, tetua adat, dewan gereja, pemerintah desa, badan permusyawaratan desa (BPD) untuk rapat terbatas! Bikin kesepakatan bersama menyerahkan tanah yang digarap Ama Tueng buat pembangunan biara lengkap dengan kapel dan gua Maria tempat ziarah. Kerahkan warga buka lorong melintasi lokasi itu. Di sebelahnya akan kita bangun sekolah dasar dan gedung posyandu. Di depannya akan kita bangun pos jaga.”

”Bagaimana kalau dia melapor?”

”Kita gencet dia dengan dalil tanah milik suku, bukan milik perorangan. Kalau ketua suku dan anggota suku lain sudah bersepakat, ia tak punya kekuatan dukungan.”

”Kalau dia mengamuk?”

”Aparat desa bertindak. Serahkan dia ke polisi sebagai tukang rusuh penghambat pembangunan. Tanda tangan lepaskan sebagian tanahnya di wilayah pesisir pantai kepada investor yang sudah bertemu kita beberapa kali kemarin. Setelah itu, minta Lukas si tukang selingkuh menggoda istrinya. Dia punya riwayat darah tinggi dan jantung lemah. Ketika mendengar itu, ia akan mati dalam tahanan.”

Kepala desa mengangguk-angguk.

”Kita bereskan tanpa harus mengotori tangan.”

”Siapa tanggung ini dosa?”

”Hahaha. Dosa bersama. Kita pikul ramai-ramai sehingga ringan tanggungannya. Hei, jadi pemimpin itu mesti punya nyali lebih. Masih mau jadi kepala desa di periode kedua ini kan?!”

Kepala desa mengangguk.

Ama Rotok ketua lembaga adat tampak puas.

***

Hanya beberapa bulan semua bisa tereksekusi secara cepat sesuai rencana. Sehari sebelum misa peletakan batu pertama pembangunan biara, pastor paroki menyediakan waktu khusus buat pengakuan dosa agar segalanya menjadi baru.

”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Banyak umat terpesona. Pastor paroki mengutip teks kitab suci yang begitu indah ketika mengawali sambutannya. Ia mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada tuan tanah, ketua suku, ketua lembaga adat, kepala desa, dan seluruh umat. Tak lupa secara istimewa ia sampaikan terima kasih kepada yang mewakili investor sekaligus donatur utama pembangunan biara.

”Hidup memang tak selalu bersih. Awal tak selalu dari yang baik-baik. Intinya kita buat jadi baik. Seperti dua sisi mata uang logam. Yang duniawi dan surgawi memang harus berdampingan. Itulah kenyataan hidup kita di dunia,” pastor paroki mengakhiri sambutannya.

Sebagian umat pulang dengan gembira. Ada yang bingung. Ada pula yang diam seribu bahasa. Sedang dalam tahanan Ama Tueng terus mengerang. Amuk dan mengganas. Mewaspadai semua yang datang. Ia seperti melihat kompeni datang lagi. Kompeni yang dulu membawa pergi Ama Nara kakeknya. (*)

Lewotala, Flores Timur, 2023

—

SILVESTER PETARA HURIT : Alumnus Jurusan Teater STSI Bandung. Menulis cerpen, esai, dan lakon. Mendirikan Nara Teater. Bergiat mengembangkan iklim teater dan sastra di kampung halaman Flores Timur, NTT.

—

“Hidup memang tak selalu bersih. Awal tak selalu dari yang baik-baik. Intinya kita buat jadi baik. Seperti dua sisi mata uang logam. Yang duniawi dan surgawi memang harus berdampingan. Itulah kenyataan hidup kita di dunia.”

sumber : JAWAPOS, Minggu, 7 Januari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme