Cerpen : Keluarga dalam Kacamata oleh Artie Ahmad

engan tenang ia menyuapkan sup jagung ke mulutnya, rasa manis jagung dipadu dengan gurihnya telur dan segala macam bumbu begitu memanjakan lidahnya. Kedua anaknya duduk dengan patuh di meja makan, sedang istrinya berdiri di dapur menyiapkan segala macam panganan kecil. Senyum Kambali mengembang melihat keluarganya, utuh tak kurang apa pun. Di balik kacamata tebal miliknya, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perempuan di Punggung Lembu oleh Artie Ahmad

DI bawah temaram cahaya rembulan yang pucat, ia mengamati seekor lembu yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Lembu berukuran setidaknya dua kali lipat dari ukuran lembu pada umumnya. Lenguhan lembu itu membahana, beriringan dengan siutan angin malam yang mengundang gigil. Mata perempuan itu menatap lembu di depannya dengan tatapan hampa, daya hidupnya telah menghilang tiga … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ada dalam Ketiadaan oleh Artie Ahmad

IA telah menyelesaikan segalanya. Kesakitan dalam sepekan telah berakhir tepat di pukul 4 sore. Matanya menangkap semburat jingga memerah di kejauhan, setelahnya ia melihat tubuh ringkih tergolek di atas tilam. Tubuh seorang perempuan, begitu ringkih, rapuh dan tak memiliki daya hidup. Mata perempuan itu terpejam rapat, bibirnya mengatup dengan baik, namun telah nyaris lewat satu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ada dalam Ketiadaan oleh Artie Ahmad

Ia telah menyelesaikan segalanya. Kesakitan dalam sepekan telah berakhir tepat di pukul 4 sore. Matanya menangkap semburat jingga memerah di kejauhan, setelahnya ia melihat tubuh ringkih tergolek di atas tilam. Tubuh seorang perempuan, begitu ringkih, rapuh dan tak memiliki daya hidup. Mata perempuan itu terpejam rapat, bibirnya mengatup dengan baik, namun telah nyaris lewat satu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pulang tanpa Kampung Halaman oleh Artie Ahmad

Beberapa hari belakangan kau terlihat begitu gelisah, tetapi memang itulah yang kaualami beberapa tahun belakangan ini ketika Ramadan datang. Ada kebahagiaan di wajahmu, namun juga ada kegelisahan bahkan kesedihan di matamu. Ramadan, terlebih tatkala Lebaran nyaris tiba, kesedihan di wajahmu jauh lebih pekat dari sebelumnya. Bibirmu hanya sesekali menyunggingkan senyum, selebihnya bagai bunga layu, dayamu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pengumuman Mujabat oleh Artie Ahmad

Suara Mujabat terdengar, semua kegiatan mendadak berhenti. Seperti waktu-waktu lalu setiap kali suara Mujabat terdengar dari corong masjid, itu pertanda ada berita kematian. Entah bagaimana awalnya, hanya Mujabat yang dipercaya membawa kabar duka. Setiap ada lelayu, warga desa akan mencari Mujabat, memintanya untuk membuat pengumuman tentang berita kematian lewat pelantang masjid. ”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …,” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Namamu Rahwana oleh Artie Ahmad

Nama adalah doa, namun kau dikutuk ibumu lewat namamu. Setidaknya itu menurutmu. Rahwana, satu kata mewakili segala bentuk keburukan di atas dunia. Aku bahkan nyaris tertawa saat mendengar namamu untuk kali pertama. Mengapa harus Rahwana? MENGAPA bukan nama lain saja, Arjuna misalnya jauh lebih baik meski aku tak benar-benar menyukai sosok itu. Tapi mungkin memang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menakar-nakar Bulan oleh Artie Ahmad

Ia tak pernah mengerti mengapa dilahirkan di kota ini. Kota kecil, sangat kecil, tak ubahnya sebuah delta di sungai yang terbentuk karena kemarau. Kota kecil yang berdenyut di dalam sebuah kota besar. Kota di mana manusia-manusia di dalamnya bisa berlaku apa saja. — SATU kali dia pernah mencuri dengar bahwa kota ini tak bisa tertulis … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bukan Seorang Drupadi oleh Artie Ahmad

Kabar kematiannya tersiar dari pelantang suara masjid. Jelas betul bagaimana marbot masjid menyebut namanya, umurnya, waktu kematian, dan pukul berapa upacara kematiannya akan dilangsungkan. Sekali lagi marbot masjid mengulang… ”Nyonya Lindri, usia 80 tahun, meninggal pukul 03 pagi, dan akan dimakamkan di pemakaman umum Lemah Tentrem pukul 14 siang nanti!” Ini bukan kali pertama kabar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Satu Malam yang Panjang oleh Artie Ahmad

Api lampu minyak itu berkerlap-kerlip, bergoyang diembus angin yang menyelusup dari celah dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam gubuk ada sebuah balai-balai, seorang laki-laki sedang setengah tertidur di atasnya. Matanya separo terpejam, bibirnya menggumam perlahan, tak jelas apa yang sedang dia ucapkan. Tangan kanannya masih menggenggam batang daun pepaya yang diubah menyerupai … Baca Selengkapnya