Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Satu Malam yang Panjang oleh Artie Ahmad

Posted on Ming, 26 Sep 2021

Api lampu minyak itu berkerlap-kerlip, bergoyang diembus angin yang menyelusup dari celah dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam gubuk ada sebuah balai-balai, seorang laki-laki sedang setengah tertidur di atasnya. Matanya separo terpejam, bibirnya menggumam perlahan, tak jelas apa yang sedang dia ucapkan. Tangan kanannya masih menggenggam batang daun pepaya yang diubah menyerupai pipa isap.

—

TAK lama, derit pintu terdengar. Seorang perempuan masuk membawa baki kecil berisi sebuah kotak kayu kecil dan beberapa rajangan daun. Perempuan itu tak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia hanya duduk di samping balai-balai, mengeluarkan sedikit candu dari kotak kayu, menaruhnya di wajan kecil, dan menjerangnya di atas api lampu minyak. Daun awar-awar yang telah dirajang sangat halus dicampurkan ke dalam candu. Dengan telaten, kemudian digelintirnya campuran kedua bahan itu menjadi bola kecil. Kemudian ditaruhnya gelintiran candu itu ke dalam mangkuk isap opium. Laki-laki yang tubuhnya sudah demikian larat itu bangun dan mulai mengisap candu.

”Aku masih memiliki beberapa sen untuk menambah candu lagi,” kali ini laki-laki berbadan kurus itu buka suara.

”Boleh-boleh saja, ini sudah kali ketiga kau mengisap tike!” perempuan muda melempar senyum.

”Aku berhasil memanen cukup banyak kopi. Mandor memberiku tambahan sepuluh sen hari ini.”

Perempuan itu tak menjawab. Dia berdiri dan meninggalkan laki-laki itu madat seorang diri. Tike memang menjadi primadona bagi banyak pemadat miskin. Harganya terhitung paling murah. Satu gelintir tike hanya dibanderol lima sen. Mereka, pemadat-pemadat itu, percaya bahwa mengisap tike bisa mengobati banyak hal. Daun awar-awar untuk campuran candu memiliki manfaat untuk mengobati penyakit kulit dan sesak napas. Meski bagaimana juga, candu tetaplah candu, meski dicampur dengan awar-awar sekalipun ia tetap merusak tubuh. Seperti lelaki bertubuh kurus yang setengah terkulai di atas balai-balai itu, dadanya kerempeng, perutnya kempis, dengan mata memerah. Dia bernama Masrip, seorang buruh perkebunan kopi milik seorang Belanda.

Telah banyak malam dihabiskan Masrip untuk mengisap tike di gubuk opium milik Kiang. Dari gajinya sebagai buruh perkebunan kopi sehari dia mendapatkan enam puluh sen sampai seratus sen, tergantung bagaimana cara kerjanya di hari itu. Malam ini dia membawa seratus sen untuk mengisap opium di pondok milik Kiang. Mengisap opium bagi banyak buruh perkebunan sangatlah penting. Badan mereka bisa sakit jika tak mengisap opium barang beberapa hari. Meski sesungguhnya, secara perlahan tapi pasti candu telah memakan tubuh mereka tanpa disadari. Masrip sendiri pernah ingin lepas dari opium. Dia berusaha sekuat tenaga tak menjejakkan kaki lagi di pondok opium milik Kiang, namun usahanya gagal. Dirinya menyerah ketika seluruh persendian di tubuhnya terasa ngilu, badannya terasa sakit semua. Ia menjadi payah dalam bekerja. Maka setelah merasa gagal dalam usaha sembuh dari mengisap candu, kakinya diseret kembali menuju pondok opium milik Kiang. Dia kembali, mengisap dan menggemari gelintiran tike.

Masrip menjadi pelanggan di pondok milik Kiang meski ada pondok-pondok opium lain. Dia sudah merasa akrab dengan Mai Ling, kemenakan Kiang yang saban hari menyediakan gelintiran tike untuknya. Madat menjadi rutinitas untuk bekerjanya tubuh Masrip. Ada waktu dia tak hanya mengisap tike di pondok opium, melainkan membawa candu dan rajangan daun awar-awar ke tempat bekerja. Ketika beristirahat sejenak saat bekerja, Masrip akan menggulung tike dicampur rajangan tembakau ke dalam kelobot jagung, membakarnya dan mengisapnya seperti ketika merokok.

Opium memang digemari sejak berabad-abad lalu. Sejak kapan tepatnya candu itu masuk ke Jawa tak pernah ada yang tahu. Maka tak mengherankan jika candu itu begitu menyatu dengan masyarakat. Pondok-pondok opium banyak didirikan, salah satu yang dikenal pondok milik Kiang. Pondok itu telah berdiri cukup lama, pondok opium luas di ujung desa. Kiang membagi pondok miliknya menjadi dua kelas. Kelas rendahan tempat berkumpulnya buruh-buruh miskin diletakkan di bagian belakang. Pondok opium belakang berupa gubuk-gubuk dari bambu beratap rendah dari rumbia. Sedang untuk kelas atas, pondok milik Kiang menyediakan ruangan-ruangan khusus di dalam rumah utama. Pemadat di kelas atas berbeda dengan kelas rendahan. Di kelas atas tak akan ditemukan tike, melainkan bahan dasarnya cako, candu khusus yang dibuat hanya untuk kelas atas.

Di pondok opium kelas atas tak akan ditemukan batang daun pepaya untuk alat isap, melainkan badudan mahal yang begitu menarik bentuknya. Alat isap di kelas atas terbuat dari bahan mahal. Ada dari besi berukir, ada pula yang menggunakan pipa isap khusus yang didatangkan dari luar daerah. Pipa-pipa isap itu begitu cantiknya, bercorak beraneka bentuk, bahkan sebagian menggunakan hiasan dari keramik untuk menambah kemolekan pipa isap opium.

Para pengisap opium di kelas atas bermacam-macam yang datang. Tentu kebanyakan dari mereka adalah para priayi dan orang-orang terpandang. Di pondok opium kamar nomor lima, misalnya, seorang lelaki muda duduk di kursi berukir, sedang tangan kanannya memegang badudan berukir seekor naga. Dari ujung pipa berbentuk kepala naga, asap berembus memenuhi ruangan kamar, sedangkan tak jauh dari tempatnya duduk, seorang laki-laki sebaya dengannya meletakkan kepalanya di atas meja. Tampak betul bahwa dia telah mengisap cukup banyak candu malam itu. Seorang lagi sedang berusaha membuka botol gin. Ia tampak tak berkeberatan meski asap dari bakaran candu menyelimuti wajahnya.

”Bagaimana jika ibumu tahu bahwa malam ini kau mengisap candu lagi?” laki-laki yang sedang berusaha membuka tutup botol gin itu buka suara.

Tawa perlahan terdengar. Pemuda yang mengisap candu itu menggeleng-geleng.

”Ibuku tak peduli aku di mana malam ini. Keluargaku yang lain pun begitu. Terpenting bagi mereka, setelah ayahku berhasil menjadi seorang bupati, kelak aku bisa naik menjadi wedana menggantikan posisinya saat ini!”

”Calon wedana seharusnya tak menghabiskan banyak waktunya di warung opium seperti ini! Wedana seharusnya bermartabat dan selalu berpegang erat dengan molimo!” cibir kawannya seraya menuang gin ke dalam gelas.

”Molimo pantangan untuk kaum lelaki seperti kita? Oh, aku selalu menghafalnya. Maling, madon, minum, main, madat! Tapi siapa yang bisa tak melakukan kelima itu? Heh!”

Lantas, keduanya tertawa terbahak. Temannya yang sudah teler hanya menggerakkan kepalanya sedikit, namun kemudian tak bergerak-gerak lagi. Laki-laki muda yang meneguk gin itu bernama Raden Pandoe, seorang putra dari pemilik perkebunan teh, sedang kawannya yang sedang asyik madat tak lain putra seorang wedana bernama Raden Koestaman. Satu lagi, yang telah mengisap candu cukup banyak itu putra seorang saudagar tembakau bernama Roko Adi. Ketiganya kawan akrab. Ada banyak malam dihabiskan waktu di pondok opium milik Kiang, seperti malam ini.

Anak-anak orang kaya itu memang kerap berkumpul di pondok opium milik Kiang. Mereka suka bertemu sembari memadat, minum gin, dan bercerita tentang kegagalan mereka sebagai anak priayi. Mereka nyaris memiliki garis yang sama. Ketiganya bobrok di pendidikan. Hanya karena relasi keluargalah yang membuat ketiganya masih bisa tampil lebih beradab dari sebenarnya. Raden Pandoe, putra pemilik perkebunan teh itu, telah gagal di pendidikannya. Guru-gurunya menyerah. Meski terlahir sebagai anak orang kaya, kemampuan otaknya demikian menyedihkan. Begitu juga Raden Koestaman. Beberapa waktu lalu bahkan dia sempat mengusir gurunya hanya lantaran merasa jenuh dengan segala macam pelajaran untuknya. Pemuda seperti inilah yang kelak meneruskan cita-cita orang tua, menjadi calon seorang wedana!

Mereka sedang tertawa dan saling berseloroh ketika Kiang masuk ke ruangan mereka. Wajah Kiang semringah saat melihat pemuda-pemuda anak orang kaya itu.

”Bagaimana? Candunya enak, bukan?” Kiang bertanya sembari mendekat ke meja mereka.

Raden Koestaman mengisap badudan miliknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya ke arah Kiang. ”Seperti biasanya, selalu nomor satu!”

Mendengar ucapan Raden Koestaman, Kiang tertawa terbahak lantaran senang.

”Ah, kalau begitu, pasti Raden Koestaman bisa bantu saya, bukan?” Kiang bertanya dengan hati-hati.

Kali ini bukan saja Raden Koestaman yang menaruh perhatian, melainkan Raden Pandoe pun menatap Kiang dengan lekat.

”Menyoal?”

”Pajak opium. Bisa direndahkan?”

Raden Koestaman meletakkan badudan miliknya. Ditatapnya Kiang dengan sedikit melecehkan.

”Apa kau tahu, Kiang? Banyak pondok opium yang menjadi sainganmu? Bahkan beberapa waktu lalu terjadi geger di pondok opium milik Boang. Kau tahu, siapa yang melakukannya?”

Kali ini Kiang menarik badannya. Dia mundur beberapa tindak sebelum tertawa perlahan.

”Apa kau mencurigaiku?” selidik Kiang dengan suara perlahan.

”Berita tentang kekacauan di pondok milik Boang sudah sampai ke mana-mana. Orang tentu tahu bahwa itu hasil kerja orang-orangmu. Kawedanan sudah melakukan antisipasi jika balasan dari kelompok Boang menyerang ke sini! Kau diberi pengamanan lebih, bukan? Bukan berarti aku tak tahu.”

”Lantas? Apa hubungannya dengan pajak yang kumaksudkan tadi. Masalah dengan Boang, bajingan tengik itu telah menyelesaikan masalah dengan baik-baik.”

”Kau sudah diberi pengamanan! Masak minta keringanan pajak. Oh, pajak itu bisa diringankan asal aku menjadi wedana menggantikan ayahku terlebih dulu!”

Raden Koestaman terbahak setelah mengucapkan itu, diiringi tawa dari Raden Pandoe. Kiang hanya menggelengkan kepala. Memang setelah dirinya gagal menghancurkan pondok opium milik Boang saingannya, Kiang segera meminta perlindungan petugas keamanan dibantu pegawai kawedanan, tentu saja setelah dia meninggalkan sekian ratus gulden untuk orang-orang itu. Dia mengantisipasi jika Boang menuntut balas, namun ternyata tidak. Saingannya dalam bisnis candu itu tampaknya masih tenang-tenang saja, bahkan utusan Boang mengatakan ingin berdamai saja dengan Kiang. Kini yang menjadi masalah Kiang bukanlah melawan Boang, melainkan pajak opium yang dibebankan kepadanya, semakin hari semakin tinggi saja angkanya.

*

Malam di pondok opium memang terasa lebih panjang kali itu. Semakin malam, semakin banyak yang datang untuk mengisap candu. Di kelas rendahan dan kelas atas, cukup banyak orang-orang yang sibuk memadat. Menuju seperempat malam, pondok opium Kiang menjadi jauh lebih tenang. Para pemadat langganan pondok opium milik Kiang sudah lunglai. Kandungan opium yang menggelegak di dalam tubuh mereka membuat kantuk, lemah, dan menjadi setengah sadar. Para penjaga pondok milik Kiang juga sudah lengah. Mereka duduk di tempat gelap, beberapa bahkan memicingkan mata.

Seisi pondok opium milik Kiang tak ada yang tahu bahwa banyak orang suruhan Boang diam-diam masuk ke pondok opium milik Kiang. Mereka membawa bedil, kelewang, dan celurit. Para penjaga ditumpas habis secepat kilat. Orang-orang suruhan Boang itu membabat setiap orang di pondok milik Kiang. Para pemadat di kelas rendahan tak luput dari sabetan kelewang. Masrip yang masih setengah sadar tak bisa melawan ketika sebuah celurit menghajar tengkuknya, lalu merobek lehernya.

Perlawanan terjadi, tapi tak begitu berarti lantaran para penjaga pondok opium milik Kiang sudah sangat lengah. Beberapa orang itu berlari ke arah kamar Kiang, sebuah kamar paling besar di pondok. Kiang sedang mengganti baju untuk tidur ketika dua orang menerobos masuk ke kamarnya, menyabetkan kelewang dan menembak dadanya beberapa kali. Raden Koestaman meski dengan kesadaran lemah mendengar ribut-ribut, dengan buru-buru dia membangunkan dua kawannya, namun terlambat sudah. Kamar pondok nomor lima itu didobrak, empat orang meloncat ke dalam. Dan letusan dari bedil terdengar, biji-biji pelor dimuntahkan, menerjang kepala Raden Koestaman, menghunjam dada Raden Pandoe, dan melubangi leher Roko Adi.

Malam itu menjadi demikian panjang, malam yang selalu akan diingat lantaran terjadi pembantaian massal di pondok opium milik Kiang. (*)

Kotagede, Jogjakarta, 2021

 

ARTIE AHMAD : Lahir dan besar di Kota Salatiga. Saat ini dia tinggal di Jogjakarta. Selain menulis cerpen, dia juga menulis novel.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 26 September 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme