Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pengumuman Mujabat oleh Artie Ahmad

Posted on Ming, 21 Jan 2024

Suara Mujabat terdengar, semua kegiatan mendadak berhenti. Seperti waktu-waktu lalu setiap kali suara Mujabat terdengar dari corong masjid, itu pertanda ada berita kematian. Entah bagaimana awalnya, hanya Mujabat yang dipercaya membawa kabar duka. Setiap ada lelayu, warga desa akan mencari Mujabat, memintanya untuk membuat pengumuman tentang berita kematian lewat pelantang masjid.

”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …,” suara Mujabat terdengar lantang.

Seketika semua telinga warga dipasang betul-betul, mereka ingin tahu siapa kali ini yang pergi menghadap Ilahi. Seperti Rukayah, sesaat mendengar suara Mujabat … buru-buru ditutupnya mulut anaknya. Bocah 7 tahun itu gelagapan dan siap melancarkan protes.

”Diam dulu! Ada orang meninggal.” Bisik Rukayah.

Rukayah sedang memandikan anaknya ketika pengumuman Mujabat terdengar. Dengan gerakan kepala, Rukayah meminta anaknya untuk diam di kamar mandi, sedangkan dirinya keluar dari dapur dan memasang telinga baik-baik di depan pintu. Dia harus menaruh konsentrasi pada suara Mujabat, jangan sampai ada informasi yang terlewat.

”Telah meninggal dunia dengan tenang …,” suara Mujabat masih terdengar dengan baik.

Wajah Rukayah semakin serius, sebentar lagi nama almarhum akan disebut dan tentunya bagian ini adalah info paling vital. Telinga Rukayah dipasang baik-baik, tapi sesaat kemudian bertepatan ketika Mujabat menyebut nama orang yang meninggal, terdengar raungan sepeda motor. Rukayah merutuk perlahan, dia terlewat mendengar nama si almarhum. Sialnya lagi motor itu hilir mudik, sampai Mujabat mengulangi informasi tentang kabar kematian pagi ini, tetap saja Rukayah tak menemukan nama almarhum.

”Sialan betul! Siapa sih itu?!” Rukayah berjalan ke depan. Lewat jendela depan dia melihat ke arah jalan.

Di jalan terlihat Iwan sedang hilir mudik. Anak lurah itu memang degil betul, entah etika siapa yang ditiru. Rukayah dengan wajah masam keluar rumah, dia berjalan ke rumah Yu Gembluk untuk menggali informasi. Kira-kira siapa yang meninggal pagi ini. Sayangnya, Yu Gembluk pun bernasib sama, dia gagal mendengar nama almarhum lantaran suara knalpot brong milik Iwan.

”Aku sudah pasang telinga baik-baik, tapi anak Pak Lurah itu kurang ajar betul! Dia malah wara-wiri begitu!” Rukayah dengan sengit melihat ke arah Iwan yang masih sibuk bolak-balik di jalan desa.

”Iya, aku pun begitu. Duuuh! Apa Iwan itu tidak tahu kalau Mujabat masih halo-halo pengumuman penting,” Yu Gembluk menimpali. Tampangnya tak kalah kesal.

”Dia baru dibelikan motor baru. Padahal, 5 bulan lalu juga baru dibelikan motor, ini beli lagi.” Kali ini wajah Rukayah keheranan.

”Paling bapaknya ngembat dana desa. Itu lho, warung untuk UMKM desa saja tidak jadi-jadi!” sahut Yu Gembluk, judes.

Iwan tentu saja tidak mendengar gerutuan dua ibu-ibu itu, dia masih asyik hilir-mudik mendengarkan irama knalpot brong miliknya. Pengumuman kematian dari Mujabat pun tak penting juga, bahkan Iwan sama sekali tidak mendengar pengumuman dari masjid. Total telinganya sudah tersumpal suara knalpot miliknya.

Di dalam kamar mandi, wajah anak Rukayah terlihat bingung. Ibunya malahan keluar dan tidak kunjung kembali. Tampang bocah itu bimbang mau keluar atau menunggu sampai ibunya datang. Di samping bak mandi, dia hanya berdiri membawa sebuah gayung mandi, sedangkan badannya bugil sama sekali.

*

Tak ada yang disesalkan orang-orang ketika Mujabat memberikan informasi tentang kematian, suaranya selalu lantang, namun keanehan selalu muncul. Seringkali orang-orang gagal mendapatkan nama siapa yang meninggal. Ada saja alasannya, entah suara ayam berkokok, motor lewat, teriakan anak tetangga, bahkan sampai suara Mujabat seakan menghilang ditelan angin.

Mujabat sendiri tak tahu alasannya mengapa nama-nama mendiang seringkali tak didengar orang-orang. Menurut dia, suara dari pelantang suara masjid sudah sangat jelas. Setelah mendapatkan banyak gerutuan masalah nama yang tak terdengar, Mujabat semakin memperjelas nama almarhum atau almarhumah. Nama orang yang meninggal akan mendapat penekanan, intonasi, dan kelantangan yang berbeda dibanding bagian-bagian lainnya. Nama mendiang menjadi prioritas Mujabat, sedangkan waktu kematian, tempat pemakaman tak pernah ada masalah. Semuanya hanya menyoal nama.

Kaji Ali, kepala takmir masjid, bahkan sempat membahas masalah ini. Bukan sekali atau dua kali Kaji Ali juga mendapat teguran masalah tidak jelasnya nama orang yang meninggal saat Mujabat memberikan pengumuman kematian.

”Apa ada masalah sama toa-nya?” tanya Kaji Ali saat bertemu Mujabat setelah mendapat keluh-kesah warga.

”Tidak ada masalah di toa-nya, Pak Kaji. Saya juga heran, kok nama almarhum atau almarhumah itu sering tak terdengar.”

”Mungkin untuk nama, waktu menyebut namanya harus lebih keras.”

Mujabat mengikuti usulan Pak Kaji. Saat kabar kematian salah satu warga desa itu datang, Mujabat akan menyebut nama mendiang dengan suara lantang. Tapi, seolah tak ada perubahan, warga desa masih saja mengeluhkan, mereka masih saja gagal mendengar nama mendiang. Nyaris semua warga harus mengonfirmasi ulang ke kanan-kiri tentang siapa yang meninggal hari itu.

*

Bagi Mujabat, semua kematian warga desa harus disiarkan melalui pelantang suara masjid. Semua orang tanpa menakar-nakar baik atau buruk kelakuan almarhum terdahulu. Pernah satu hari, selepas maghrib, terdengar pengumuman kematian dari pelantang masjid. Suara Mujabat terdengar nyaring sebelum isya kabar kematian itu harus sampai di telinga warga desa. Maghrib itu, Mujabat mengabarkan kematian Jayus, preman kampung yang saban hari menongkrong di pengkolan pasar. Kerja Jayus hanya memalak para pedagang, tukang becak, sampai sopir angkot. Orang-orang itu harus setor uang keamanan kepadanya.

Kematian Jayus dan korban lain menggetarkan warga desa, bahkan media massa juga meliput. Tentu saja kabar kematian itu diliput setelah pengumuman Mujabat menggema, pembawa kabar utama tentang kematian untuk khalayak ramai berada di tangannya.

Terang kabar kematian Jayus cukup mengejutkan warga desa. Tak disangka umur Jayus begitu pendek. Usianya belum juga menyentuh angka 40. Pesta miras oplosan menjadi sebab kematian preman bertubuh tambun itu. Setelah diselidiki, ada kandungan metanol di dalam ciu yang ditenggak Jayus. Kematian itu bukan saja menimpa Jayus, melainkan juga menelan 10 orang lainnya.

Kematian Jayus dan korban lain menggetarkan warga desa, bahkan media massa juga meliput. Tentu saja kabar kematian itu diliput setelah pengumuman Mujabat menggema, pembawa kabar utama tentang kematian untuk khalayak ramai berada di tangannya. Tak sekadar preman, Mujabat juga memutuskan mengumumkan kematian itu lintas agama. Bagi Mujabat, siapa saja yang meninggal berhak mendapat pelayanan pengumuman darinya meski orang itu tak seagama dengannya. Semua itu bermula tepat tiga bulan setelah kematian Jayus.

Mata Mujabat mengamati peti mati di depannya, kemudian dia membaca papan dukacita. Mendiang salah satu warga baru, belum ada setahun tinggal di desa. Orang-orang masih cukup asing dengan keluarga Theodore Rudi. Kedatangan peti mati milik Theodore Rudi tidak disambut banyak orang, bahkan Mujabat bisa menghitung pelayat menggunakan jari.

”Sepi sekali,” bisik Markum perlahan. Dia berdiri di samping Mujabat, mengamati peti mati mendiang Theodore Rudi.

”Kenapa sepi begini, ya?” tanya Mujabat hati-hati.

”Mungkin orang-orang belum tahu kalau Pak Theo meninggal.”

Mujabat tercenung mendengar jawaban Markum. Tanpa berkata apa-apa lagi dia berjalan ke masjid. Diambilnya mic, pelantang suara dinyalakan. Tak berselang lama suaranya terdengar lantang, semua warga desa dalam sekejap menghentikan kegiatan mereka. Begitu suara Mujabat terdengar, maka tandanya ada kabar kematian yang dibawa.

”Pengumuman! Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Theodore Rudi!” Mujabat memulai pengumuman kematian.

Sebagian besar warga memperlihatkan wajah heran, baru kali ini Mujabat mengumumkan kematian dengan cara agak berbeda. Dia tak mengucapkan salam seperti biasa. Melainkan berwujud pengumuman, betul-betul ada kata ”pengumuman” di sana. Mujabat sendiri mengulang beberapa kali menyoal kematian Theodore Rudi. Dirinya juga menerangkan di sebelah mana rumah mendiang. Mujabat menerangkan siapa Theodore Rudi, ini berguna untuk warga desa yang belum sempat mengenal mendiang.

Hal baru pengumuman kematian lewat pelantang suara masjid itu sedikit menimbulkan pertanyaan. Seperti sebelumnya, Kaji Ali mendapat serangkaian pertanyaan menyoal itu, tapi dengan tegas beliau mengatakan bahwa hal semacam itu perlu. Pengumuman kematian warga desa harus mencakup semuanya, tidak terbatas untuk satu agama saja. Begitu pula yang dikatakan Mujabat saat dirinya ditanya mengenai pengumuman kematian Pak Theo, jawabannya lugas.

”Kematian tetaplah kematian, tugasku mengabarkan semua kematian warga desa tanpa melihat agama dan perilaku mereka saat hidup.”

*

Kaji Ali terkejut, Mujabat ia temukan terlentang di dekat tempat wudhu. Kepalanya berada di sisi barat, sedangkan kakinya di timur. Matanya terpejam rapat, seolah pembawa pengumuman kematian itu sedang tidur nyenyak. Tergesa Kaji Ali membawa Mujabat ke puskesmas desa dibantu beberapa orang. Maghrib itu, semua anggota jemaah masjid waswas, Mujabat tak kunjung membuka mata.

Isya lewat, perlahan Kaji Ali mengambil mic. Beberapa anggota jemaah Shalat Isya, menunduk sedih. Sebagian dari mereka berkaca-kaca. Tangan Kaji Ali sedikit bergetar, begitu pula suaranya.

”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia dengan tenang, Saudara kita Mujabat bakda maghrib ini….”

Semua warga desa terkejut mendengar suara Kaji Ali. Mereka tak percaya ketika nama Mujabat yang disebut. Mereka bahkan merasa mungkin Kaji Ali keliru. Tapi, tiga kali Kaji Ali mengulang pengumuman kematian itu dan nama Mujabat dengan sangat jelas mereka dengar. Ini kali pertama warga desa mendengar nama almarhum di pengumuman kematian lewat pelantang suara masjid sejernih itu. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi.

Artie Ahmad, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Dia menulis cerita pendek dan novel. Beberapa naskahnya telah terbit, setidaknya ada 7 buku. Cerpen ”Bukan Seorang Drupadi” masuk ke Kumpulan Cerpen PilihanKompas 2022.

Hanafi Muhammad, belajar seni rupa secara formal di SSRI Yogyakarta dari 1976 hingga 1979. Ia adalah penerima anugerah Top 10 Phillip Morris pada 1997. Sejak 1992, ia telah mengadakan pameran tunggal ataupun kelompok di dalam dan luar negeri. Sejumlah pameran tunggalnya diadakan di acara- acara seni rupa terkemuka di Indonesia, seperti Jakarta Biennale dan Art Jog. Pameran internasionalnya dilakukan di Houston dan New York, Amerika Serikat, Spanyol, Hong Kong, dan Singapura. Kini, Hanafi berkarya dan tinggal di Depok, Jawa Barat.

sumber : kompas.id, 21 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme