Cerpen : Mata Celurit oleh Muna Masyari

SUBUH telah menyusut, menggulung pergelaran pesta demokrasi di lapangan dekat balai, yang digelar sejak kemarin pagi. Puncak penghitungan suara di menit-menit pertengahan malam menyisakan sesak di dadamu seperti gerobak bertumpuk sampah yang biasa tergeletak di dekat pasar. Perdagangan telah usai. Tenda yang menudungi lapangan, panggung yang teronggok diam, lincak-lincak milik penjual minuman dan makanan ringan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata Celurit oleh Muna Masyari

Subuh telah menyusut, menggulung pergelaran pesta demokrasi di lapangan dekat balai, yang digelar sejak kemarin pagi. Puncak penghitungan suara di menit-menit pertengahan malam menyisakan sesak di dadamu seperti gerobak bertumpuk sampah yang biasa tergeletak di dekat pasar. Perdagangan telah usai. Tenda yang menudungi lapangan, panggung yang teronggok diam, lincak-lincak milik penjual minuman dan makanan ringan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tukar Guling oleh Muna Masyari

Sampir jarit dipadu kebaya putih bertabur payet mengilap yang membalut tubuhmu membuatku ragu, benarkah kau putriku yang pernah kubebat tubuh kecilnya dengan handuk sehabis mandi? Sudah sebesar inikah? Make-up tebal, bibir mungil dalam lukisan lipstik merah bawang, lengkung alis, polesan pewarna, menutupi keaslian wajahmu. Bunga karmelok di samping kanan-kiri sunggar, rumbai kembang semata kaki, tujuh … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jama’ Taksir oleh Muna Masyari

”Beliau menginginkan anak lelaki sebagai penerus.” ”Memangnya kenapa kalau perempuan?” kejarku. Kau terdiam sejenak. ”Karena perempuan selalu menjadi isim maf’ul, bukan isim fa’il.” Jawabanmu serasa menyuapiku dengan ”tahu-tempe”, istilah lain dari nahwu-sharaf ketika di pondok dan menjadi menu wajib para santri. ”Kita dinikahi, bukan menikahi. Diboyong, bukan memboyong. Jadi makmum, bukan imam,” tambahmu, membuatku terpaksa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nama-nama di Batu Nisan oleh Muna Masyari

Senja menyepuh kesuraman. Bayang-bayang kamboja seredup mata bayi mengantuk. Dahan-dahan pohon itu menggeleng enggan seperti bocah demam ditawari makan. Angin menjatuhkan lembar-lembar daunnya yang mulai kekuningan, bagai jiwa-jiwa renta yang tunduk pada ketakberdayaan. Inilah area kepulangan, tempat tertimbunnya harapan dan kenangan. Area kepulangan, tempat kembalinya para pedagang dari pasar kehidupan. Tempat mengkalkulasi untung dan kerugian. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menara Emas oleh Muna Masyari

Di mataku, tiba-tiba ia bagai monster raksasa pengisap darah yang lepas dari kandangnya. Kukuh menjulang penuh keangkuhan. Jari-jari gaibnya menggurita. Mencengkeram ke seluruh penjuru. Melilit mangsa. Lalu diam-diam menancapkan kuku penuh racun ke tubuh mereka. — AKAN tetapi, di mata keluargaku ia dianggap sebagai menara emas! *** ”Jadi?” aku tercekat kaget. Ibu dan Pa’lung justru … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pamengkang oleh Muna Masyari

Hampir lima tahun tidak menginjak kampung halaman, suatu hari dia pulang hanya untuk menjual rahim ibunya demi membayar pelacur! Gambar rumah berdempet-dempetan yang berukuran dan berbentuk sama dan hampir tanpa halaman itu justru mengingatkanmu pada kandang jangkrik berkotak-kotak yang dia tenteng pulang suatu sore dengan senyum mengembang dan peluh membulir di dahinya. Berceloteh riang sekaligus … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tutup Cangkir oleh Muna Masyari

Barangkali Anda berpikir ini hanya perkara tutup cangkir. Terlalu kecil untuk dijadikan pemantik masalah besar. Apalagi sampai membawakan Matrawi sebilah pisau rajang dengan amarah membakar. Atau, mungkin Anda akan mencibir bahwa kewarasan Pan Madhasim memang berkurang gara-gara menderita kerugian tembakau! — “UTANG tiga–empat cangkir kopi yang tak lebih dari 10 ribu rupiah terlalu murah untuk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ulat Daun Emas oleh Muna Masyari

Tidakkah kau perhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Merayapi dahan-dahan, untuk kemudian berpesta daun segar. Pakaian-pakaian bagus dan mahal yang dikenakan bagai bulu-bulu halus yang menghiasi permukaan kulit ulat, tampak indah namun bikin gatal. Setiap omongan besarnya tak lebih dari kotoran yang muncrat ketika ulat kena injak, hijau-pekat dan menjijikkan! Tidakkah kauperhatikan bagaimana sesungguhnya dia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rokat Kandung Kembar oleh Muna Masyari

Untuk apa lagi kau pandangi sembilan biji nangka di tadah cangkir itu? Seharusnya sudah kau buang ketika baru berjumlah empat biji, tanpa perlu ditambahi tiap bulan purnama demi menghitung usia janin yang telah tiada. Perutmu sudah kempis. Janin yang sempat mukim di sana, yang seharusnya kini berusia sembilan bulan dan pintar menendang-nendang sudah kau bunuh. … Baca Selengkapnya