Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ulat Daun Emas oleh Muna Masyari

Posted on Ming, 08 Nov 2020

Tidakkah kau perhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Merayapi dahan-dahan, untuk kemudian berpesta daun segar. Pakaian-pakaian bagus dan mahal yang dikenakan bagai bulu-bulu halus yang menghiasi permukaan kulit ulat, tampak indah namun bikin gatal. Setiap omongan besarnya tak lebih dari kotoran yang muncrat ketika ulat kena injak, hijau-pekat dan menjijikkan!

Tidakkah kauperhatikan bagaimana sesungguhnya dia seperti ulat? Oh, tentu bukan ulat tanduk hijau berhias garis putih-hitam yang menggemaskan dan sering kauakrabi di tegal itu. Bukan! Dialah ulat yang merayapi dahan-dahan kecil sepertimu. Setiap dahanmu menyembul tunas-tunas baru, dia datang memamahnya hingga lumat, dan kau menjelma dahan gundul tak berdaya, diam kaku menunggu musim kembali tiba.

Sudah berapa banyak peluh kuning kau peras lalu dia sesap?

“Apakah Jhi Sappak akan pergi umrah lagi?” kau menyambung pertanyaan setelah mendapat jawaban bahwa aku sedang menggambar pola untuk gamis H. Sappak.

Kuiyakan tanpa mengangkat wajah, tak ingin konsentrasi terpecah. Tatapan dan pikiran kupusatkan pada permukaan kain yang terhampar. Kuluruskan pita meteran, menandai kain di titik angka 32 sebagai batas seperempat lingkar dada, lalu membuat lengkung dari ujung garis bahu hingga titik 32 tadi untuk kerung lengan….

Kurasakan tatapanmu mengikuti gerak tanganku.

Bukan sekali ini H. Sappak memesan jahitan gamis menjelang keberangkatannya ke tanah suci. Tepatnya, sehabis panen tembakau dia pergi umrah, tiap itu pula bikin gamis baru sebelum berangkat, persiapan untuk dipakai sepulang dari sana, karena gamis-gamis produk Arab tak ada yang pas dengan ukuran badannya.

Ukuran badan H. Sappak sudah kuhapal. Mulai dari lingkar dada, lingkar panggul, lebar bahu, panjang lengan, panjang gamis, angka-angka itu masih bersusun rapi dalam ingatan. Sisanya, tinggal kutanyakan mau minta model kantong apa dan kerah yang bagaimana. Walaupun kutunjukkan beberapa foto atau sketsa, dia masih menambahinya dengan varian yang disukai. Tidak serta merta asal tunjuk.

Tahun kemarin minta kerah koko yang dihiasi bordiran benang perak campur emas, dikasih kancing bulat emas, ujung lengan dan kantong dada juga dibordir dengan warna senada. Tidak perlu dikasih kantong samping. Panjang gamis cukup separuh betis dengan tepi bawah dibentuk oval.

Kali ini minta model kerah the cuban collar, kancing jas besar dengan bukaan depan penuh, panjang gamis semata kaki, ujung lengan dibelah belakang berhias dua kancing.

“Kemarin itu aku ke rumahnya menagih sisa uang tambakau, tapi dia bilang dari gudang pusat belum cair.” Suaramu seperti derak pohon tumbang, membuat konsentrasiku terbang berhamburan laksana burung kaget.

Kuangkat kepala, menatapmu yang duduk di seberang hamparan kain dan masih menggenggam segulung benang yang kaupinjam kemarin. Ada gugat berakar di matamu. Kau menatap kain putih yang belum kupotong dengan wajah beku seperti dahan gundul kehilangan daun.

“Berapa uangmu yang belum dibayar?”

“Yang kemarin saja sekitar tiga jutaan. Setelah dipotong utang modal, hanya dikasih 500 ribu. Sisa yang tiga jutaan itu, ditagih beberapa kali tetap belum dibayar.”

“Tahun-tahun sebelumnya?”

“Aku sendiri lupa sudah, anakku yang ingat. Dia selalu mendesakku agar ditagih, ingin beli sepeda motor katanya.” Kau mendesah samar.

Terbayang di benakku sepasang mata anakmu yang begitu bernyala semangat, membantumu selama menanam dan merawat pohon tembakau. Katamu, dia tak pernah mengeluh meskipun harus bangun sebelum subuh, berangkat menyiram melawan gigil yang meringkus badan mengilukan tulang. Tidak merasa malu apalagi jijik menyunggi sakarung pupuk kandang. Tak peduli kulitnya kering menghitam akibat matahari bengis memanggang.

Jika persediaan air mulai menipis, menyiram di pertengahan malam pun kalian lakukan. Kau dan anakmu saling berganti posisi. Jika dia yang mengerek timba di sumur, kau yang memikul dan menyiramkannya. Demikian juga sebaliknya. Kulit tangannya lebih cepat memerah akibat mencengkram tambang jika dibandingkan dengan tanganmu.

Kau hanya bisa mengusap dada ketika melihatnya meniup telapak tangan dengan wajah setengah meringis. Tak perlu mendengarnya berkeluh, aku yakin kau ikut merasakan panas dan perih yang dirasakannya. Andai suamimu masih ada, saat ini tangan itu tentu masih terbiasa memegang pena memaknai kitab, bukan mencengkeram gagang cangkul dan tambang timba sumur.

Di usia lima belas tahun seharusnya dia berada di pondok pesantren. Bukankah demikian harapan suamimu dulu? Namun nasib bertutur lain. Suamimu meninggal hanya menitipkan yatim di pangkuan dan dua petak tegal. Dengan dua petak itulah kau menyambung hidup sambil membesarkan anakmu yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

Kini, anakmu sudah tumbuh menjadi pemuda tanggung dan mulai belajar jadi tulang punggung. Memasuki musim tanam tembakau, kau dan anakmu seolah menabur benih emas bersiram keringat. Harapan demi harapan muncul sepanjang tumbuhnya helai-helai daun.

Selama ikut merawat, memupuki, menyirami, membuang ulatnya, anakmu kerap berceloteh tentang teman-temannya yang sudah memiliki sepeda motor sendiri. Tentang keinginan-keinginannya jika nanti memiliki sepeda motor juga seperti mereka.

“Cobalah nanti kau jual ke gudang lain, daripada tidak dibayar begitu!” saranku.

“Mau dijual ke gudang mana kalau modal tetap berutang padanya?” kau menarik napas.

“Cari utang modal pada orang lain saja.”

“Berutang pada orang lain kalau banyak malah dimintai bunga. Bertani dengan modal uang riba sama saja menanam pohon api, kata orangtuaku dulu!”

Ketakberdayaan di wajahmu semakin lekat, sepasrah daun dimamah ulat.

Selain perawatan yang tak segampang tanaman pangan, tembakau juga butuh modal besar. Sejak pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, masih bisa dikerjakan sendiri. Akan tetapi, begitu memasuki masa panen, mulai dari memetik, memeram, menggulung, merajang, menjemur, hingga pengebalan, semua pengerjaannya membutuhkan jasa tenaga kuli, dan hal itu menyedot dana yang jauh lebih besar dari masa penanaman.

Sebagaimana petani kurang mampu di desa ini, modal tanam tembakau hingga masa panen kau utang pada H. Sappak. Selain tanpa bunga, mau berutang berapapun tak pernah pulang dengan tangan hampa.

Entah siapa yang memulai, sebagai balas jasa, begitu panen tiba, semua hasil rajangan tembakau dijual padanya. Padahal, penjualan pada H. Sappak tidak pernah membuat dirimu dan orang-orang itu puas. Tembakau-tembakau kalian hampir tidak pernah dibayar lunas. Setelah dipotong utang modal, sisa pembayaran sulit diharapkan.

Kalaupun dibayar sebagian, dengan cara dicicil hingga tak berwujud sesuatu yang berharga karena habis digunakan untuk belanja. Padahal, musim tembakau menjadi musim impian, bagai menyembulnya tunas-tunas emas di musim hujan. Musim yang dinanti-nanti dan hanya kembali setahun sekali. Musim di mana uang kecil seolah bersembunyi.

Kuli, pedagang, petani, berlomba menjunjung mimpi bagai penjudi. Harapan-harapan untuk membeli barang mahal berharap tunai di musim panen itu. Pun, impian anakmu untuk membeli sepeda motor sudah digantung sejak tahun lalu.

“Kalau memang punya niat melunasi, daripada pergi umrah tiap tahun ‘kan lebih baik dibuat bayar utang, taiya?” tambahmu.

“Benar kau itu! Ongkos umrah tidak sedikit, ditambah biaya pesta keberangkatan dan kepulangan yang selalu menggelar pesta meriah.”

“Belum menghitung belanja dapur, untuk beli petasan dan uang pengganti bensin untuk sepeda motornya saja tidak cukup tiga juta.”

“Ditambah oleh-oleh, taiya,” timpalku.

Sebagaimana tradisi pulang haji, setiap kali H. Sappak pulang umrah, penjemputannya dipawai dengan ratusan kendaran roda dua dan puluhan roda empat. Sebagian besar sepeda motor itu dicopot leher knalpotnya hingga menimbulkan bunyi yang meraung-raung keras dan parau, beradu dengan bunyi petasan yang menyalak susul-menyusul dan gaduhnya tabuhan rebana.

Selain suguhan-suguhan istimewa, suvenir yang hadiahkan kepada para tamu juga beragam. Ada sajadah, serban, peci putih, gamis dan barang-barang produk Arab lainnya. Khusus kerabat dekat dan kiai dihadiahi permadani.

Selama menemui tamu, dengan bangga H. Sappak tak henti bercerita tentang perjalanannya, tempat-tempat bersejarah yang diziarahi, juga ibadah-ibadah yang sudah ditunaikan selama berada di tanah suci.

Tak lupa dia membeberkan tentang jutaan rupiah yang dihabiskan dalam berbelanja sebagai oleh-oleh. Pada saat itulah aku teringat cairan perut ulat yang muncrat ketika diinjak. Sangat menjijikkan!

“Kalau begitu sering-sering saja kau tagih. Siapa tahu kalau sudah bosan ditagih lama-lama dibayar juga!” usulku akhirnya.

“Justru aku malas sering-sering ke sana. Setiap menagih, sudah tidak dibayar, kadang suka colak-colek jika kebetulan istrinya tidak ada di rumah.”

Tiba-tiba sekujur tubuhku merasa panas-gatal mendengar keluhanmu. Berkali-kali ke tanah suci masih sekurang ajar itu? Dasar ulat beracun! Kutukku geram.

Senja diam-diam mengintip ketika kau pamit dan benang putih kau serahkan seraya berucap terima kasih. Saat melangkah pulang, kulihat tumitmu yang hitam pecah-pecah seperti parut karat.

Setelah punggungmu lenyap di balik pintu pagar, kuperhatikan lagi hamparan kain yang sudah bergambar separuh pola dan bisa kusempurnakan untuk kemudian dipotong. Akan tetapi….

Akhirnya dia datang juga untuk mengambil gamis pesanannya dengan pelipis berleleh peluh seperti biasa. Cincin batu akik di jemarinya bagai manik-manik di punggung ulat.

“Apa sudah selesai?”

“Kainnya kurang, Jhi!.”

“Bagaimana bisa kurang? Bukankah 3 meter biasanya masih ada sisa? Lebarnya ‘kan dobel.” dahinya mengernyit heran.

Kuperlihatkan selembar kain yang sudah dipotong dengan bentuk kain kafan lapis pertama sambil membayangkan seekor ulat menggeliat kepanasan saat disundut bara ujung rokok.

Madura, Juli 2020

Muna Masyari : bertempat di Pamekasan, Madura. Peraih Cerpen Terbaik Kompas 2017, dengan judul Kasur Tanah. Penerima Anugerah Sutasoma kategori Sastra Indonesia Terbaik 2020 lewat buku Martabat Kematian.

Kuss Indarto : menerbitkan buku kumpulan karikatur “Sketsa di Tanah Mer(d)eka” (1998) dan kumpulan tulisan seni rupa “Jejak Rupa” (2015). Menguratori berbagai pameran seni rupa, antara lain Biennale Jogja (2007), Pameran Koleksi Galeri Nasional Indonesia di Museum Nasional Kamboja (2014) dan Ruang Indonesia di Beijing International Art Biennale (2017).

sumber : kompas.id, 08 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme