Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tukar Guling oleh Muna Masyari

Posted on Ming, 29 Sep 2024

Sampir jarit dipadu kebaya putih bertabur payet mengilap yang membalut tubuhmu membuatku ragu, benarkah kau putriku yang pernah kubebat tubuh kecilnya dengan handuk sehabis mandi? Sudah sebesar inikah?

Make-up tebal, bibir mungil dalam lukisan lipstik merah bawang, lengkung alis, polesan pewarna, menutupi keaslian wajahmu. Bunga karmelok di samping kanan-kiri sunggar, rumbai kembang semata kaki, tujuh cunduk melati dan cunduk mentul yang menghiasi kepalamu, sungguh asing di mataku.

Kepalamu dulu masih seukuran kelapa gading muda, berambut sepunggung dan sehalus sutra kecokelatan. Kadang kukepang berhias pita. Kadang kuikat dua dengan tali karet berwarna. Itulah yang selama ini melekat dalam ingatanku.

Matamu yang lebar berbulu palsu dan lebat itu, bertahun-tahun lalu, masih sejernih air sumur yang baru ditimba di subuh hari. Mata bening yang mendadak beriak ketakutan, suatu malam, begitu melihat semburan darah di lantai, membercak di meja dan kursi, berlumuran di bajuku, bahkan memerahi kedua tanganku.

18 tahun, atau mungkin 19 tahun yang lalu, lebih tepatnya ketika usiamu menginjak genap 3 tahun, kaki mungilmu gemetar mendapati ruang tamu memerah dan pecahan gelas dan ampas kopi berserakan di mana-mana. Segera kuraih tubuhmu ke dalam pelukan. Membenamkan wajahmu ke dada agar tidak melihat sosok yang terkapar di lantai dengan lubang tusuk bagian perut dan terus menyembur darah segar mengental.

”Embu’….” isakmu tertahan. Bergetar ketakutan.

Tanganku ikut menggigil mendekap tubuh kecilmu. Segigil sekarang, ketika melihat tangan dan jemarimu yang berhias hena putih tempel bermotif manik-gliter, menggenggam buket mawar bercampur rumput artifisial nanas menik, berdiri anggun di depanku dengan tatapan asing. Tak mengenaliku.

”Bibi mencari siapa?”

Bibi?

Aku tergagap. Mulutku ternganga, mengatup, menganga lagi, bergumam tak jelas. Keraguan menyergapku. Pertanyaanmu mempertegas kehadiranku sebagai tamu tak diundang. Atau, mungkin juga tak diharapkan. Bahkan tidak ada yang mengenaliku sejak tadi. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dalam mempersiapkan acara.

Bibimu dan suaminya tidak tahu mengenai kepulanganku kali ini, dan aku belum bertemu dengan mereka. Gadis remaja yang kutanyai di mana kau berada hanya menunjukkan kamarmu, kemudian berlalu dengan tergesa.

Kuremas tali tas berisi pakaian yang kujinjing sejak tadi. Mungkin seharusnya aku tidak hadir. Mungkin seharusnya aku tidak ke sini. Akan tetapi, kabar pernikahanmu membuat kerinduanku seperti hujan. Semakin lama semakin deras dan menyebabkan banjir bandang, hingga pertahananku tumbang.

Dulu, selepas dari sel jeruji, kuputuskan untuk tak kembali ke kampung halaman demi menyelamatkan kakek-nenekmu, agar tak lagi menanggung cemoohan dan hinaan sebab memiliki anak pembunuh, sebagaimana tahi kering disiram air hujan. Pun, kutekadkan untuk tidak mengunjungimu dan memilih merantau ke negeri seberang demi mengubur kenangan.

”Setidaknya, kau lihatlah anakmu sekali saja!”

Bibimu, kakak perempuanku satu-satunya yang menyambut kebebasanku di gerbang waktu itu, memaksaku mumpung belum ada jadwal keberangkatan.

”Tidak. Cukuplah dia menganggapmu sebagai ibu satu-satunya tanpa tahu status dan keberadaanku. Tak perlu kauceritakan siapa diriku.” Aku menggeleng lemah, memilih numpang di rumah teman yang sama-sama baru dibebaskan dari penjara.

”Dia sudah besar. Sudah kelas lima. Aku yakin bisa memahami tindakanmu waktu itu,” desaknya, namun kembali kubalas dengan gelengan kepala.

Tentu kau bukan lagi bocah mungil yang kutinggal bertahun-tahun silam. Sudah tujuh kali Lebaran kugemakan takbir dan doa di bilik jeruji, selama itu pula kularang dia membawamu mengunjungiku agar kau tak pernah melihatku bergelang besi. Biar kerinduan kutanggung sendiri walau menjadi tikaman paling nyeri. Cukup kudengar kabarmu dari jauh. Aku hanya berharap kau melupakan peristiwa malam itu. Menghapusnya dari jejak memorimu. Sudah kuminta bibimu untuk membawamu pergi ke luar Madura. Melupakan masa lalu maupun ayahmu.

Seandainya bisa, aku pun ingin melupakan peristiwa itu. Melupakan tanggal muda yang ganjil, ketika tiba-tiba ayahmu kembali selagi matahari masih kuning rekah dan air seduhan kopi belum dijerang. Padahal biasanya dia pulang setelah kelelawar mulai meninggalkan dahan tempat bergelantung sepanjang siang, dan tidurmu sudah mirip kucing kekenyangan.

Aku sedang mengangkat pakaian dari tali jemuran ketika dump truck-nya memasuki gerbang pagar dengan kaca agak buram, dan kau sibuk bermain gundukan pasir di bawah pohon mangga, di sudut halaman. Raung mobil dan asap knalpot seolah menguluk salam. Kaus kecut dan syal handuk yang lembap sudah menjadi teman kepulangan. Senada dengan celana kotor dan wajah lusuhnya yang berleleh peluh.

Buru-buru kubereskan jemuran dan segera ke dapur.

”Nanti malam temanku mau ke sini,” seraya mengeringkan rambut dengan handuk sehabis mandi. Wangi Sunsilk terendus samar.

”Siapa?” meletakkan kopi mengepul di atas meja.

”Yang Lebaran kemarin main bersama istrinya,” melemparkan handuk ke sandaran kursi. Kebiasaan yang tak kunjung berubah meskipun sudah berulang kali kuminta untuk menyampirkan ke tempatnya.

Aku teringat pada temannya sesama sopir yang memiliki istri berwajah putih dan lekuk-lekuk tubuhnya tampak jelas dalam balutan baju ketat-elastis dan berleher lebar. Bahkan aku sempat memergoki ayahmu sering melirik perempuan itu.

Mereka juga membawa anak lelakinya, sekitar dua tahun lebih tua darimu, memegang kapal-kapalan berbahan kayu.

”Datang bersama istrinya lagi?” menyembunyikan sulur-sulur kecemburuan yang kembali tersulut.

”Mungkin sendiri. Kau beli saja lepet di warung, dia lebih suka barang berbungkus daripada pisang goreng,” tersenyum menyimpan arti, dan aku mulai memahami senyum itu setelah temannya datang sebelum azan Isya berkumandang dan matamu sudah merem-merem ayam di kamar.

”Ayo, masuk!” sambut ayahmu di depan pintu dengan tubuh sudah disemprot parfum.

Kemeja kotak lengan pendek yang dikenakan memberinya isyarat kalau dia tidak akan bersantai di rumah.

”Bagaimana?”

Pertanyaan ayahmu yang berhasil kutangkap ketika memasuki ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring lepet janur.

”Beres! Sudah kujelaskan tadi.”

”Berarti tidak ada masalah.”

Aku berlalu, kembali ke kamar dan kulihat matamu sudah terpejam. Tak kudengar perbincangan mereka selanjutnya. Baru 15 menit kemudian ayahmu menyusul dan pamit akan keluar.

”Ke mana?” aku bangkit dari sisimu perlahan, khawatir kau terbangun.

”Nanti tahu sendiri. Kau temani saja dia!” menunjuk keluar.

”Maksudmu?”

”Hanya semalam.”

”Maksudmu, dia akan tidur di sini sementara kau mau pergi?” mendesis tak percaya.

”Iya, hanya semalam. Dia akan menginap di sini dan aku akan menginap di rumahnya,” membuka lemari dan mengacak lipatan baju, tanpa memedulikan tatapanku.

Kutatap lekat-lekat wajahnya setelah berhasil mendapatkan dompetnya. Mencari mimik lelucon yang sama sekali tidak lucu itu.

”Ayolah, ini sudah biasa,” bujuknya, mendapati raut protes di wajahku.

”Kau bilang biasa?” dengan suara sedikit meninggi, masih tak percaya.

”Iya, ini namanya tukar guling, sekadar melepas jenuh. Sama-sama impas. Tidak ada yang dirugikan. Kau bersiap saja, aku pergi dulu,” hendak pergi, namun berhasil kutahan.

”Tunggu dulu! Tukar guling? Apa maksudmu?” kutatap wajahnya lekat-lekat.

”Iya, tukar bini. Hanya sementara. Ini memang sudah biasa!” menyentak, lalu pergi begitu saja dengan kesal.

Aku terpaku diam, mencerna setiap ucapannya. Sudah biasa? Sejak kapan?

Entah sudah berapa tahun hidup bersama dalam simpul tali pernikahan, baru malam itu mengetahui adanya kebiasaan tukar guling. Kebiasan dari mana? Kebiasan di desa itu yang luput dari pengetahuanku? Atau kebiasaan gila di antara sesama sopir? Padahal yang kutahu, para suami rela bertaruh nyawa demi harga dirinya. Lebih baik mati mengacungkan arit daripada hidup menggelung punggung membiarkan istrinya digoda.

Ketika ayahmu pergi dengan sepeda motornya, kuusir lelaki di ruang tamu itu. Rasa muak dan jijik membuatku tak bisa mengendalikan sikap. Akan tetapi, pengusiran yang kulakukan sia-sia, dan lelaki yang semula bersikap manis itu berubah jadi sosok beringas sebagaimana hewan lapar. Memaksakan kehendaknya terhadapku, seolah tak mau dirugikan.

Ketika dia mencoba melepaskan jilbab dan bajuku, barulah aku mengerti bahwa diriku tak lebih dari lepet janur, sementara ayahmu sedang memburu pisang goreng.

Apakah kepatuhan semacam itu yang diinginkan ayahmu? Menjadikan diriku sebagai santapan orang, sedangkan dirinya memburu kesenangan. Perempuan hanya dijadikan barang pertukaran!

Kemarahan memberiku kekuatan baru untuk berontak dan melawan. Tak kubiarkan tangan lelaki itu menyentuh kulitku.

Entah bagaimana, tiba-tiba ada darah menyembur seperti slang bocor, dan di mataku yang terlihat hanya merah. Hitam kopi di lantai bercampur darah. Mataku nanar. Erang kesakitan dan tubuh yang terkapar membuatku tersadar, mendadak ketakutan. Pecahan gelas yang tergenggam dengan tangan gemetar segera kulempar.

Barangkali, kegaduhan itu yang membuatmu terbangun dan melangkah keluar dari kamar. Kau berdiri di ambang pintu sebagaimana sekarang. Akan tetapi kali ini, salak petasan, tabuhan rebana dan riuh pembacaan salawat Thola’al Badru di luar yang menyentak kesadaranku, bukan isak tangismu.

Kulihat wajahmu yang tadi tampak heran penuh tanya kini berubah tegang.

”Kenapa berdiri di sini? Ayo, bersiap! Pengantin prianya sudah datang!”

Seseorang yang menghambur dari belakang sedikit menyenggol pundakku. Perempuan muda yang kutebak sebagai perias itu membetulkan letak karmelok dan kembang rumbai yang menjuntai di dadamu, memeriksa riasan, memperhatikan posisi cunduk melati dan cunduk mentul, membetulkan lipatan sampir, lalu memperhatikan tubuhmu secara keseluruhan.

”Cantik!” serunya, tersenyum puas.

Dengan langkah pendek-pendek kau dituntun keluar untuk menyambut kedatangan keluarga mertuamu. Aku terbiar. Mematung sendiri menatap kamar pengantin yang kautinggalkan. Sebuah kamar berdinding kelambu satin putih gading dan berhias mawar-mawar merah fanta di hulu dipan. Hanya itu yang terlihat dari bingkai pintu.

Riuh di luar memancingku untuk mengintip melalui jendela.

Tamu undangan sudah duduk rapi di kursi menikmati suguhan kue basah dan minuman dalam botol kemasan, menghadap dekorasi model bambu runcing berjajar empat yang dipenuhi bunga bagian tengahnya. Standing oval berdiri di kedua sisi. Daun anggur putih dan kembang melati berjuntaian menghiasi plafon. Lampu-lampu kristal akrilik bergelantungan mirip di kediaman Tuan Takur dalam film India yang dulu sering kutonton. Hatiku tiba-tiba gerimis teringat saat kau masih bermain gundukan pasir di sudut halaman.

Kau berdiri di depan panggung dekorasi, menyambut kedatangan keluarga mertua didampingi bibimu dan seorang lagi yang tak kukenali. Siap menyalami mereka satu per satu.

Lama kupandangi kakak perempuanku yang masih secantik dulu. Rindu bermekaran di dadaku. Pandanganku beralih pada keluarga besan yang mulai memasuki tenda. Tiba-tiba mataku terantuk ke sosok berbaju brokat putih yang berjalan paling depan tanpa membawa parsel apa pun. Lengan dan bagian dadanya menerawang tak berpuring. Kerudungnya melilit leher. Wajah dan senyumnya….

Tidak asing!

Ingatanku mendadak berputar secepat mesin giling, mencari wajahnya di bagian sisi masa lalu.

Deg! Mesin pencarian di otakku berhenti. Bukankah dia pisang goreng yang pernah diburu ayahmu? Diakah yang akan jadi ibu mertuamu?

Jantungku berpacu.

Bagaimana mungkin? Kenapa bibimu menerimanya? Apakah kebiasaan tukar guling di desa itu masih ada? Bagaimana denganmu nanti?

Pertanyaan demi pertanyaan yang berjejalan membuat kepalaku serasa mau meledak! Baru kusadari bahwa dulu bibimu tak pernah bertemu dengan perempuan itu! (*)

—

Madura, 2024

Muna Masyari : Buku-bukunya pernah mendapatkan penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim dan Kemendikbudristek sebagai buku cerpen terbaik. Juga masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 untuk novelnya, Damar Kambang. Buku yang baru terbit, Kembang Selir, diterbitkan Diva Press.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 29 September 2024

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme