Cerpen : Surat Keramik oleh Herlino Soleman

“Aku bosan menerima suratmu yang cuma bercerita tentang kerinduan, dambaan, dan kegersangan jiwamu di negeri perantauan!” tulis Isti, kekasihku, dalam surat yang terakhir kuterima. Ia lalu mengajukan permintaan agar aku menuliskan hal lain yang menarik untuk direnungkan. “Bahwa kau merindukanku, merindukan orangtua dan kerabat serta kampung halaman, itu hal yang pasti kau rasakan! Kalau mau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bunga Jepun oleh Putu Fajar Arcana

Sebulan sesudah bom meledak di Legian, Luh Manik belum memutuskan apa-apa. Saban petang ia masih suka menyusuri jalan setapak, melintasi beberapa petak sawah dan kebun pisang, untuk kemudian tiba di bangunan berbentuk los, di mana dulu ia biasa berlatih menari. Dulu, di sekitar petak sawah terakhir, di dekat sebuah pura kecil, Luh Manik senantiasa memetik … Baca Selengkapnya

Cerpen : Impian di Tengah Musim oleh Bakdi Soemanto

TIBA-TIBA pintu kamar dibuka dari luar dengan mendadak. Seorang perempuan, sepertinya istrinya, masuk dan langsung menjatuhkan di lantai sebuah bungkusan besar dan taplak meja. Buzz ingat, di dalamnya setumpuk kain batik. Lalu, perempuan itu, mungkin istrinya, duduk di sebelahnya, di pinggiran tempat tidur. Ia mengatakan turis-turis itu tiba-tiba pulang. Kerusuhan di kota membuat mereka takut. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dua Tengkorak Kepala oleh Motinggo Busye

ADA dua tengkorak kepala yang sampai saat ini masih membuat aku harus menghela napas dalam-dalam. Dua tengkorak kepala manusia yang paling memberikan arti bagi hidupku. Aku harus berurusan dengan dua tengkorak kepala itu. Ini bermula dari telepon interlokal Umi, ibuku: aku harus segera berangkat ke Lhok Seumawe, Aceh. Umi telah dua kali menginterlokalku. Kata beliau, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sawitri oleh Danarto

PEREMPUAN itu terhuyung-huyung, lalu sesaat kemudian jatuh tersungkur. Seperti telah memunggah beban berat dari pundaknya, dia tak sadarkan diri. Tergolek dalam semak-belukar rimba raya yang lebat, dia seolah lelap tertidur. Kelihatan kumuh, pakaian yang robek-robek, rambut yang acak-acakan, dan tubuh yang tergores-gores, perempuan itu menyiratkan kecantikan yang perkasa. Telapak kakinya yang merah-jambu pecah-pecah. Di sana-sini … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tak Ada Mawar di Jalan Raya oleh Agus Noor

DIHANTAR malam, kamu datang dengan bibir gemetar. Tubuhmu tertelan kaos warna biru, bergambar bunga mawar. Membuatku berpikir betapa kamu memang telah menjadi bidadari seperti yang selama ini sering aku bayangkan: dengan sepasang sayap terjuntai di punggung, lembut dan bersih. Di langit, segarit jerit, bagai bayang usungan mayit. Sedangkan lenganmu, penuh pecahan kaca, luka yang lama … Baca Selengkapnya

Cerpen : Percintaan Bulbul oleh Abidah El Khalieqy

“PADA suatu masa, saya melihat laki-laki kulit putih itu seperti sebongkah salju, putih dan dingin, beku. Ia lebih tinggi dan saya, sehingga ketika berbicara di hadapan saya, ia membungkuk seperti berhadapan dengan anak kecil.” Jeff tertawa. Tapi aku tidak memiliki alasan untuk menyertainya tertawa. “Dan, kini saya berhadapan dengan Anda, Jeff.” “Dan, aku seperti potongan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jenazah oleh Achmad Munif

MALAM larut dan suasana sepi sekali. Tidak ada suara gemerisik daun-daun. Bahkan angin pun bagaikan berhenti bertiup. Mata saya tidak mau saya pejamkan, padahal seisi rumah sudah tidur pulas. Tiba-tiba di tengah-tengah kesunyian itu terdengar suara bence—sejenis burung malam—menjerit-jerit. Menurut kepercayaan di desa saya, burung bence jarang mengeluarkan suara. Dan kalau pada malam hari burung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Belaian Ibu oleh Darman Moenir

DARI M kami melarikan diri ke PB, kota yang sesungguhnya tak aneh bagiku. Celaka! Di sana aku jumpa orang kedua di sebuah kantor wilayah departemen. Laki-laki itu pernah jadi tokoh dan sekaligus idolaku dalam bercinta. Laki-laki itu bersungguh-sungguh. Ia pernah melamarku. Lamaran itu bukan ditolak orangtuaku, tetapi ditangguhkan. Ya, ketika itu aku baru duduk di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Meiling oleh NH Dini

KETIKA Meiling baru tiba dari barak pengungsian di Hongkong, bibinya pernah bercerita: “Pamanmu pintar dalam urusan tanah, jual-beli di bidang itu. Hampir seluruh Paris 13 kini menjadi kawasan masyarakat kita, berkat pamanmu bersama kelompoknya. Secara berangsur, perlahan tetapi pasti mereka menawarkan pembelian usaha-usaha dan apartemen penduduk asli di Paris 13.” Setelah bekerja dan tinggal satu … Baca Selengkapnya