Cerpen : Jagoan Tangan Buntung oleh Ade Mulyono

Oleh ADE MULYONO — Ratim meringis kesakitan memegangi lengan tangannya yang nyaris putus. Darah di sekujur tubuhnya belum sepenuhnya kering. Sambil menyemburkan ludahnya ke langit, ia meninggalkan halaman rumah sakit dengan perasaan marah bercampur kecewa setelah petugas administrasi melayangkan pertanyaan menohok: Bapak punya uang? SEPERTI kena tonjok, Ratim hanya menggeleng kemudian melangkah pergi dengan menahan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Musim Dingin yang Kejam oleh Ade Mulyono

HARI itu Minggu. Hari saat Marry merayakan ulang tahunnya. Layaknya Putri Salju, gadis kecil itu terlihat begitu cantik saat mengenakan gaun putih. Ia tersenyum malu seusai meniup lima lilin di kue ulang tahunnya. Sekelompok badut yang sengaja diundang untuk menghibur pesta ulang tahun Marry sukses menarik perhatian anak-anak. Namun, suasana kegembiraan seketika berubah menjadi kepanikan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Juru Tangis dalam Tiga Babak oleh Ade Mulyono

Sudah seminggu Mak Yanti berjuang melawan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ia tahu ajal sudah di tenggorokannya. Dengan sisa napasnya yang tinggal satu tarikan lagi, ia mengumpulkan semua anggota keluarganya. Di hadapan anak, menantu, cucu, dan cicitnya, wanita tua yang kini genap berusia seratus tahun itu berwasiat. ”Telah aku wariskan segala yang aku punya untuk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cinta Buta Amangkurat oleh Ade Mulyono

Malam semakin tua: tinggi dan sunyi. Di peraduannya, Amangkurat belum bisa memejamkan matanya barang sekejap pun. Pikirannya gentayangan. Matanya menyala menjaga rembulan yang sedang berlayar di atas awan. Di bawah cahaya lampu minyak kesedihan membayang di wajahnya. Tidak bisa dimungkiri sebagai seorang raja di tanah Jawa, segalanya telah ia peroleh; kemasyhuran, kehormatan, dan kejayaan hidupnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Siasat Ki Juru Martani oleh Ade Mulyono

Malam mengundang sepi, merambat naik dan makin tua usianya. Ki Juru Martani belum beranjak dari tempat duduknya setelah berjam-jam lamanya bersemadi. Sambil mendongak ditatapnya gemintang yang kelap-kelip diminyaki bulan purnama. Berharap Penguasa Mayapada menurunkan ilham untuk dirinya. Tanpa petunjuk-Nya, dirinya bagai orang buta yang kehilangan tongkatnya. Seketika seberkas cahaya rembulan jatuh menyentuh wajahnya yang mulai … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dendam Kesumat oleh Ade Mulyono

MATAHARI yang kelewat panas membakar tubuhku. Mungkin saja punggungku sudah gosong saat aku berbincang di tengah sawah dengan seorang lelaki berusia 40 tahun kurang dua bulan lagi. Kang Datam, begitu aku memanggil lelaki yang masih sibuk mencangkul dan membiarkan mulutku berbusa. “Sebaiknya istirahat dulu, Kang, di gubuk. Aku bawa tapai dan es cendol,” bujukku untuk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Terusir oleh Ade Mulyono

Kesedihan sepertinya makin akrab dengan perempuan muda beserta bayinya. Sudah berhari-hari derita tak bosan mengepung hidupnya. Baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumah salah seorang warga di desa sebelah ia sudah disembur: “Istri orang kumunis, ya? Merad!” begitulah orang itu mengusirnya. Perempuan itu pergi membawa air matanya. Kembali ia terlunta-lunta dari satu desa ke desa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Serdadu Terakhir oleh Ade Mulyono

”Tembak!” teriak komandan kepada prajuritnya. ”Tembak” bisa dikatakan salah satu kata paling ajaib yang berhasil diciptakan bahasa manusia setelah lema dari langit: ”Kun”. Sebab, hanya dengan modal satu kata itu bentuk kehidupan dapat berubah dalam sekejap. Efeknya luar biasa bagi psikologi manusia. Tentu setelah kata sakti itu menunjukkan hasilnya: kehancuran. Kematian? Sudah pasti satu paket dengan pemusnahan. … Baca Selengkapnya