Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Siasat Ki Juru Martani oleh Ade Mulyono

Posted on Kam, 25 Mei 2023

Malam mengundang sepi, merambat naik dan makin tua usianya. Ki Juru Martani belum beranjak dari tempat duduknya setelah berjam-jam lamanya bersemadi. Sambil mendongak ditatapnya gemintang yang kelap-kelip diminyaki bulan purnama. Berharap Penguasa Mayapada menurunkan ilham untuk dirinya. Tanpa petunjuk-Nya, dirinya bagai orang buta yang kehilangan tongkatnya.

Seketika seberkas cahaya rembulan jatuh menyentuh wajahnya yang mulai pasi bagai mayat. Bersamaan dengan itu, embusan angin malam merayap menyergap tubuhnya yang sudah payah.

Ki Juri Martani memejamkan matanya. Ia merasakan sesuatu telah masuk ke dalam kalbunya untuk menuntun pikirannya yang gelap.

”Apa yang harus aku lakukan sekarang,” pikirnya.

Sebagai seorang penasihat di Pajang, ia ikut merasakan betapa beratnya memikul permasalahan kerajaan yang diletakan di atas pundaknya. Ia pusing setengah mati memikirkan siasat bagaimana caranya membantu Sutawijya agar dapat mengalahkan Arya Penangsang.

Beberapa hari yang lalu Adipati Hadiwijaya menemui iparnya Retna Kencana yang sedang bertapa di lereng bukit. Dari situ tersingkap rahasia jika dendam perempuan yang digelari Ratu Kalinyamat itu belum sirna. Mungkin Tuhan memaafkan, tetapi dia tidak. Amarahnya masih berkobar yang tampak dari guratan wajahnya.

Ki Juru Martani memaklumi kemarahan Ratu Kalinyamat. Sebagai seorang istri, ia masih sakit hati karena ulah Adipati Arya Penangsang yang telah membunuh suaminya, Sultan Hadlirin. Atas alasan itu ia merawat dendamnya, menjaganya supaya tetap menyala.

Dengan penuh ratapan ia memohon kepada Adipati Hadiwijaya agar berkenan untuk membalaskan dendamnya—membelas rasa sakit hatinya yang begitu perih. Bagai permintaan seorang pengemis paling iba yang memohon derma di kaki bangsawan ia berujar sambil memunggungi Adipati Hadiwijaya.

”Disaksikan air mataku yang tidak berhenti mengalir ini, aku mohon bunuh Arya Penangsang secepatnya. Jika Adimas takut dengan keris Setan Kober miliknya, maka buatlah sayembara. Aku akan menyerahkan Jepara bagi siapa saja yang berhasil memisahkan ruh Arya Penangsang dari jasadnya.”

Dengan bahasa yang halus Adipati Hadiwijaya menolak permintaan Ratu Kalinyamat. Ia segan untuk menunjukkan sikap bermusuhannya secara terbuka dengan Adipati Arya Penangsang. Baginya, dirinya hanyalah menantu Sultan Trenggono. Lebih dari itu, ia tidak mau menyakiti hati Kanjeng Sunan Kudus. Mengingat, Arya Penangsang adalah murid kesayangannya.

”Kota Pati dan Alas Mentaok juga akan aku serahkan,” seru Sultan Hadiwijaya tanpa berani melihat perempuan yang sudah berbulan-bulan lamanya tinggal di dalam gua tanpa sehelai pakaian pun menutupi tubuhnya. Ia berharap jawabannya dapat sedikit menenangkan hati Ratu Kalinyamat.

***

Waktu yang dinantikan pun tiba. Saat matahari mulai condong ke Barat dan pancaran sinarnya membuat bayangan memanjang, Ki Juru Martani memimpin pasukannya berangkat ke sungai Bengawan Solo. Di tengah perjalanan ia menangkap seseorang yang dicurigai telik sandi Arya Penangsang. Tanpa ampun ia langsung saja melukai telinganya.

”Bawa sepucuk surat ini untuk Adipati Arya Penangsang. Sampaikan padanya Adipati Hadiwijaya menantangnya perang tanding di sungai Bengawan Solo sekarang,” bentak Ki Juru Martani.

Di kedatonnya Arya Penangsang begitu murka membaca sepucuk surat tantangan dari Hadiwijaya. Dicabik-cabiknya surat itu, kemudian diinjak-injaknya. Napas naik turun saat ia berujar lantang: ”Kurang ajar kau Hadiwijaya beraninya menantangku.”

Patih Matahun mempunyai firasat lain. ”Sabar, Kanjeng Adipati. Jangan ke gabah.”

”Prajurit siapkan Gagak Rimang,” perintah Arya Penangsang dengan wajah merah padam bagai bara. Ia tidak peduli dengan nasihat senapatinya.

”Setidaknya tunggu senjakala. Adipati Arya Penangsang juga belum menyempurnakan puasa empat puluh hari untuk mendapatkan kesaktiannya kembali karena tuah rajah kalacakra.”

”Kesabaranku sudah habis. Paman tidak usah khawatir, aku akan mengajari Hadiwijaya bagaimana seharusnya menjadi seorang kesatria.”

Patih Matahun diam tak dapat mencegah junjungannya yang sudah melenggang di atas punggung Gagak Rimang.

Benar-benar kesatria Arya Penangsang datang seorang diri. Sebelum senapatinya menyusul membawa pasukannya.

Sesampainya di Bengawan Solo Arya Penangsang berteriak memanggil Hadiwijaya. Lalu ia mendekat ke tepi sungai. Dari kejauhan di atas punggung kuda betinanya, Sutawijaya muncul. Ia menggerakkan kudanya, meringkik, menyepak kemudian membokongi Gagak Rimang. Seketika Gagak Rimang bertingkah tak wajar melihat kuda betina di hadapannya. Tanpa diperintah Gagak Rimang menerjang sungai Bengawan Solo.

Betapa terkejut Sutawijaya melihat Gagak Rimang membelah sungai Bengawan Solo. Betapa gagahnya, kata Sutawijaya terkesima.

Tiba-tiba saja ratusan anak panah keluar dari dalam hutan menerjang tubuh Arya Penangsang sebelum kaki kudanya meraih daratan. Tetapi tidak satu pun anak panah yang melukai tubuh Adipati Jipang itu.

”Apa kalian pikir dengan mainan anak-anak seperti ini bisa membunuhku. Di mana Hadiwijaya?” bentak Arya Penangsang.

”Aku lawanmu, Paman,” balas Sutawijaya masih di punggung kuda betinanya.

”Aku hanya mau bertarung dengan Hadiwijaya. Aku tidak sudi mengotori lenganku hanya untuk meladeni anak ingusan sepertimu. Pulanglah dan panggil Romomu.”

”Tidak, Paman, akulah lawanmu. Aku malaikat pencabut nyawa yang diutus Romoku untuk menghabisimu Paman.”

”Kurang ajar!”

Sutawijaya memacu kudanya ke arah Barat menuruti perintah Ki Juru Martani. Gagak Rimang mengejarnya. Di tanah lapang Gagak Rimang mengangkat naik kedua kakinya berjingkrak-jingkrak hingga tuannya kehilangan kendali.

”Ada apa Gagak Rimang. Tenang Gagak Rimang,” Arya Penangsang mencoba menenangkan kuda kesayangannya.

Tiba-tiba Sutawijaya menerjangkan tombaknya ke tubuh Arya Penangsang. Dengan satu gerakan cepat Arya Penangsang berhasil menghindar dari kematian.

”Kurang ajar! Licik!” Betapa marahnya Arya Penangsang setelah mengetahui siasat lawannya yang menggunakan kuda betina.

Sutawijaya kembali memacu kudanya memunggungi cahaya matahari. Arya Penangsang masih berusaha menenangkan kudanya yang kian tidak terkendali. Saat melihat Sutawijaya pandangan mata Arya Penangsang menjadi kabur karena sengatan cahaya matahari. Sutawijaya kembali menerjangnya dan kali ini tombak Kyai Plered berhasil melukai sisi kiri perut Arya Penangsang.

Arya Penangsang mengerang kesakitan setelah jatuh tersungkur dari kudanya. Ususnya terburai keluar. Darah mengucur.

”Tombak pusaka rupanya,” gumamnya sambil mengerang. Kemudian ia melilitkan ususnya ke gagang Keris Setan kober di pinggangnya.

Arya Penangsang begitu jengkel dipermainkan oleh anak ingusan. Belum pernah sekalipun ia merasa terhina seperti sekarang ini. Mendadak matanya menjadi merah bagai kerbau marah yang siap menanduk apa saja di depannya. Sambil menggeram ia memburu Sutawijaya. Meski dalam kondisi terluka ia berhasil meringkus anak angkat musuh bebuyutan itu dan memukulnya hingga Sutawijaya terlempar lima tombak jaraknya.

Ia bangkit dan kembali menyerangnya. Sekali lagi, ia terjungkal kena pukulan Arya Penangsang yang membuat wajahnya babak belur. Kini Sutawijaya terdesak. Ia tidak menyangka Arya Penangsang masih kokoh berdiri bagai pilar meski tubuhnya terluka parah. Dengan sisa tenaganya Arya Penangsang mencekik Sutawijaya tanpa ampun.

Melihat Sutawijaya dalam mara bahaya, Ki Juru Martani, Ki Panjawi, dan Ki Ageng Pemanahan segera berlari untuk menolongnya.

Dari kejauhan suara azan terdengar sayup-sayup. Kesakitan Arya Penangsang pulang ke tubuhnya.

Melihat tiga orang tua berlari ke arahnya, Arya Penangsang tertawa terbahak-bahak. ”Bahkan separuh kesakitanku lebih dari cukup untuk menghabisi tiga orang jompo seperti kalian,” ujarnya jemawa.

Mengetahui kesakitan Arya Penangsang telah pulih, Ki Juru Martani panik. Gentar. Keberaniannya seketika lenyap begitu saja bagai angin. Dan benar saja Arya Penangsang laksana harimau lapar yang dengan mudah mengoyak-oyak tubuh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi hingga keduanya terpelanting sepuluh langkah jauhnya.

Sutawijaya bangkit berusaha melawan Arya Penangsang sekali lagi. Kembali ia tersungkur oleh sepakan Arya Penangsang yang sangat kuat. Ia merasakan tulangnya ngilu. Dadanya sesak. Bekas kaki Arya Penangsang membekas di atas perutnya.

”Yang kita hadapi bukan manusia, Paman,” kata Sutawijaya sambil memegangi dadanya.

Meladeninya secara langsung ialah hal konyol. Itu sama saja dengan bunuh diri. Hanya Sultan Hadiwijaya yang dapat menandingi kesaktiannya, pikir Ki Juru Martani.

”Mengapa diam orang tua. Silakan bagian tubuh mana yang ingin kau jajal,” seru Arya Penangsang.

”Kesombonganmu akan menenggelamkanmu,” balasnya sambil memasang kuda-kuda.

”Kesombonganku bahkan masih di bawah separuh jurusku.”

Ki Juru Martani memberi aba-aba kepada prajuritnya untuk menyerang.

Bagai bocah-bocah kecil di hadapan raksasa, dengan mudahnya Arya Penangsang menghabisi prajurit Pajang.

Mayat bergelimpangan. Mereka tewas dengan cara yang sia-sia.

Hahaha… Tawa Arya Penangsang meledak.

”Sebagai seorang kesatria, senjata pusaka harus dilawan dengan senjata pusaka pula. Cabut keris pusakamu. Kita buktikan pusaka siapa yang lebih sakit. Tombak Kyai Plered Adipati Hadiwijaya atau Keris Setan kober milikmu,” tantang Ki Juru Martani setelah meraih tombak Kyai Plered yang terpental jauh. Ia berjalan pelan memutari lawannya dengan tombak Kyai Plered yang sudah siap menerjangnya jika Arya Penangsang tiba-tiba menyerangnya.

Mendengar nama musuh bebuyutan disebut bertambah marah Arya Penangsang mendengarnya. Tanpa pikir panjang ia mencabut keris pusakanya setelah termakan oleh tipu daya Ki Juru Martani. Baru saja Arya Penangsang menghunus kerisnya, tiba-tiba ia menjerit kesakitan. Tanpa disadari keris yang ia banggakan telah memotong ususnya yang sebelumnya tersampir di gagangnya.

Arya Penangsang ambruk. Lututnya bertumpu ke tanah. Tangan kirinya memegangi ususnya yang terpotong akibat senjata pusakanya sendiri. Sedangkan tangan kanannya masih menggenggam erat keris setan kober yang menancap di tanah basah menjaga tubuh tuannya agar tidak rebah.

Dari kejauhan Patih Matahun yang menyaksikan junjungannya tewas kemudian berujar kepada para prajuritnya sebelum melakukan bela pati: ”Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan Adipati Arya Penangsang kecuali dirinya sendiri. Lihatlah betapa gagahnya, bahkan dalam kematiannya sekalipun ia menolak tunduk di bawah kaki para musuhnya.”

***

Ade Mulyono, lahir di Tegal. Prosais dan esais. Beberapa cerpennya dimuat di Kompas, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan Majalah Harmoni. Menyelesaikan sarjana sastra di Universitas Pamulang, Banten. Buku terbarunya Jingga (2023).

sumber : kompas.id, 25 Mei 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme