Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cinta Buta Amangkurat oleh Ade Mulyono

Posted on Kam, 03 Agu 2023

Malam semakin tua: tinggi dan sunyi. Di peraduannya, Amangkurat belum bisa memejamkan matanya barang sekejap pun. Pikirannya gentayangan. Matanya menyala menjaga rembulan yang sedang berlayar di atas awan. Di bawah cahaya lampu minyak kesedihan membayang di wajahnya.

Tidak bisa dimungkiri sebagai seorang raja di tanah Jawa, segalanya telah ia peroleh; kemasyhuran, kehormatan, dan kejayaan hidupnya yang gemilang. Kecuali satu, cinta yang belum ia dapatkan.

”Apalah artinya surga tanpamu, istriku. Bagai Adam saat di surga dulu, akulah lelakimu yang kesepian itu,” gumam Amangkurat dalam hatinya.

Amangkurat sadar kematian Ratu Malang telah membawa separuh kebahagiaannya. Di saat ia sedang merayakan kesedihannya, tiba-tiba saja ia teringat syair dari seorang pujangga: obat mujarab orang yang patah hati ialah dengan jatuh cinta kembali.

Keesokan harinya Amangkurat bangun lebih pagi dan segera mengumpulkan para senapatinya.Dengan penuh semangat sang raja mengutus Nayatruna dan Yudakarti untuk mencarikan seorang gadis yang dapat mengobati lukanya—luka yang tak ada tetes darahnya.

”Setiap kali kalian memasuki desa-desa, periksalah sumurnya. Jika air dalam sumur itu harum dan segar, maka dapat dipastikan di desa itulah gadis yang kecantikannya bersinar terang bagai bintang kejora tinggal,” kata Amangkurat memberi wejangan kepada kedua senapatinya.

Kedua senapati Mataram itu hanya mengangguk kemudian memberi sembah sebelum berangkat memenuhi keinginan junjungannya. Hampir separuh wilayah kekuasaan Mataram sudah kedua senapati Mataram itu singgahi, tetapi belum mereka menemukan gadis yang diinginkan. Barulah setelah memasuki tepi Kali Mas, Surabaya, yang merupakan wilayah kekuasaan Pangeran Pekik, kedua utusan Amangkurat mendapati apa yang dicarinya.

”Tidak hanya sumur yang harum dan segar, sungai di sini juga begitu sejuk Kakang,” kata Nayatruna setelah membasuh wajahnya dari air sumur seorang mantri bernama Mangunjaya.

Yudakarti mengangguk dan segera menemui sang mantri.

”Jika benar Tuan memiliki seorang anak gadis jelita yang tidak ada duanya, maka perlihatkanlah pada kami kemilau mutiara yang Tuan sembunyikan itu,” pinta Yudakarti pada Mangunjaya. Maka dipanggillah seorang anak gadis berusia sebelas tahun. Betapa terkejut dua utusan dari Mataram itu melihat kecantikan anak gadis sang mantri.

”Ini anak hamba namanya Roro Oyi.”

”Cantik sekali. Aku yakin kelak jika sudah dewasa kecantikannya akan menyinari Surabaya. Kalau begitu silakan berkemas, kita bawa Roro Oyi ke hadapan Raja Amangkurat,” kata Nayatruna mendesak.

Sesampainya di istana Mataram, Amangkurat kesengsem dengan kecantikan Roro Oyi. Meski jatuh hati Amangkurat tahu diri, bahwa gadis di hadapannya terlalu muda untuk dijadikan istri. Maka ia pun menitipkan Rara Oyi ke Mantri Wirareja sampai usianya cukup untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Hari berganti minggu, minggu merengkuh bulan, dan bulan menjemput tahun. Begitulah bergulirnya waktu dengan cepat. Kini Roro Oyi tumbuh menjadi gadis remaja yang kecantikan menjadi pengantar mimpi indah para perjaka. Jikalau ia berjalan di antara bunga, maka menunduklah bunga-bunga itu untuk memberikan salam dan pujian. Bila ia tersenyum maka senyumnya laksana mentari di antara kabut-kabut pagi. Matanya laut: tenang, dalam, dan diam. Pipinya ranum dan bibirnya merah bagai belahan delima. Dan itulah kekuatan utamanya.

***

Sore itu, Pangeran Adipati Anom baru saja keluar dari hutan setelah seharian berburu. Entah bagaimana ceritanya saat langkah kaki kuda yang ditungganginya membawanya ke rumah Mantri Wirareja.

”Mimpi apa hamba semalam, hingga Dewata mengirim Pangeran Adipati Anom ke gubuk kami ini,” kata Mantri Wirareja menyambut kedatangan Pangeran Adipati Anom.

”Aku hanya mengikuti arah mata angin,” balasnya ringkas. Ketika keduanya sedang asyik berbincang tanpa sengaja pangeran Mataram itu melihat Roro Oyi yang sedang belajar membatik. Ia tertegun melihat kecantikan gadis di depan matanya. Gairah mudanya menyala membakar dadanya.

”Namanya Roro Oyi. Sebentar lagi dia akan diperistri oleh Prabu Amangkurat, ayahanda Pangeran Adipati Anom,” kata Mantri Wirareja berterus terang.

Bagai disambar petir betapa terkejut Pangeran Anom mendengar ucapan Mantri Mangunjaya. Ia tahu watak ayahandanya yang gemar memperistri perempuan cantik. Pangeran Anom segera undur diri dan bergegas pulang dengan membawa perasaan yang tidak karuan.

Sudah berhari-hari Pangeran Anom tergolek di kamarnya. Ia jatuh sakit. Bagai gelas kaca yang dibanting ke lantai sekeras-kerasnya, begitulah hatinya saat ini. Roro Oyi gadis yang telah memenjarakan hatinya sebentar lagi bilik-biliknya akan dimiliki oleh ayahandanya sendiri. Membayangkan hal itu, dadanya terasa sesak. Hampir setiap malam ia mengigau memanggil namanya: ”Oh, Rara Oyi aku telah terbunuh oleh kecantikanmu.”

Pangeran Purbaya sesepuh Mataram yang cukup dihormati, mengetahui jika cucunya sedang tergila-gila dengan Rara Oyi yang kecantikannya begitu tersohor. Ia pun segera berangkat menuju ke kediaman Wirareja untuk menjemput Rara Oyi. Ia tidak peduli dengan Raja Amangkurat yang akan menjadikan Rara Oyi sebagai istrinya. Baginya kebahagiaan cucunya di atas segalanya. Tekadnya sudah bulat, tidak ada yang dapat menghentikan langkahnya meski langit runtuh sekalipun.

Melihat kedatangan Pangeran Purbaya beserta puluhan prajuritnya, hati Mantri Wirareja gentar. Nama besar yang disandang Pangeran Purbaya telah meruntuhkan keberaniannya. ”Jangan ada yang berani mencabut keris kalian di hadapan Pangeran Purbaya,” kata Wirareja kepada para pengawalnya.

Kedatangan Pangeran Purbaya dan rombongannya disambut dengan baik. Setelah berdiskusi cukup alot, Wirareja akhirnya luluh melepas Roro Oyi untuk dinikahkan dengan Pangeran Anom. Terlebih emas, keris, dan pakaian indah yang dibawa istri Pangeran Purbaya tidak bisa ditolaknya.

Kedatangan Rara Oyi disambut gembira Pangeran Anom. Hanya dalam kedipan mata keduanya saling jatuh cinta. Kini kedua muda-mudi itu akan berkisah tentang kasih. Tentang cinta yang merindu dendam, yang sudah lama tertahan dan terasingkan.

Di istananya, Amangkurat sangat murka mendengar kabar calon istrinya akan dikawinkan dengan putranya, Pangeran Adipati Anom. Tanpa pikir panjang ia mengeluarkan titah pada prajuritnya untuk segera menangkap Wirareja, Pangeran Purbaya, dan putranya sendiri.

”Bunuh siapa saja yang berani membangkang,” perintahnya sambil mengacungkan keris dengan penuh amarah terpancar dari wajahnya yang merah.

Bagai singa lapar yang dikeluarkan dari kandangnya, prajurit-prajurit Mataram mengamuk membakar kedaton Pangeran Anom. Semua orang kepercayaannya tidak luput dari pembantaian. Tidak terkecuali keluarga Wirareja yang dihabisi di tengah hutan. Pangeran Anom dan Roro Oyi juga berhasil diringkusnya dan digiring ke hadapan sang raja.

Di kaki ayahandanya, Pangeran Adipati Anom bersujud memohon ampunan.

”Keris yang sudah dicabut pantang untuk disarungkan,” ujarnya menggelegar bagai guntur. ”Bunuh Roro Oyi dengan kerismu atau kau akan kehilangan kedudukanmu sebagai pewaris takhta kerajaan Mataram.”

”Hamba sangat mencintainya Rara Oyi. Tidak adakah cara lain yang dapat aku tebus untuk mengganti kesalahanku?”

”Dosamu teramat besar. Lebih besar dari Gunung Merapi. Bahkan seisi laut Jawa tidak dapat memadamkan api amarah yang berkobar di dadaku. Hanya nyawa Roro Oyi yang dapat menyelamatkanmu. Usia gadis itu hanya sepanjang usia malam ini. Jika tidak kau laksanakan, biar sengatan sinar matahari yang akan membakar kulit kalian berdua.”

Bagai buah simalakama kini hati Pangeran Adipati Anom diliputi kebingungan. Dengan rasa putus asa ia menemui Rara Oyi di kamarnya. Baru saja melihat bayangan kekasihnya, langkah kakinya mendadak begitu berat seperti terbenam di dalam lumpur.

Roro Oyi yang mengetahui kedatangan kekasihnya bergegas keluar untuk menjemputnya.

”Apa yang terjadi dengan cinta kita, Kakanda?” tanya Roro Oyi sambil mengusap air mata pemuda yang sangat dicintainya. Kemudian kembali berujar pelan, ”Jikalau air matamu lebih berharga dari sebuah kehidupan, maka sungguh cinta telah bertakhta di atas segala, kekasihku. Aku sudah mendengar semuanya. Lanjutkan hidupmu tidak ada yang perlu disesali. Seisi alam mayapada pun tahu semua ini salahku. Kecantikan yang dianugerahkan Dewata pada diriku ini tidak lain hanya sebuah kutukan. Ia akan membawa prahara, malapetaka, dan bencana bagi siapa saja yang menuruti hawa nafsunya.”

Hening.

”Janganlah ragu kekasihku, cabut kerismu. Aku akan tetap hidup bersama napasmu,” bisik Rara Oyi di telinga pemuda yang dicintainya.

Pangeran Adipati Anom masih menangis saat Roro Oyi membimbing tangannya untuk mencabut keris yang terselip di pinggangnya.

”Jikalau ada yang bertanya apa itu cinta? Maka jawablah dengan lantang kekasihku, inilah yang dinamakan cinta,” kata Rara Oyi lagi sesaat sebelum menikamkan keris kekasihnya ke perutnya sendiri.

***

Ade Mulyono, lahir di Tegal. Prosais dan esais. Tulisannya dimuat di sejumlah media seperti Kompas, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Harian Rakyat Sultra, dan Majalah Harmoni. Novel terbarunya Namaku Bunga (2022).

sumber : kompas.id, 03 Agt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme