Cerpen : Sarang Semut oleh Ketut Sugiartha

Ratnakara tertegun. Ia tidak menyangka istrinya akan mengucapkan kata-kata yang membuatnya mendadak merasa kehilangan segala. Ia berdiri mematung di atas kedua kakinya yang seakan tertancap di tanah. Lidahnya beku, tak mampu mengeja sepatah kata pun. ”Bagaimana mungkin aku dan anak-anak ikut menanggung dosa yang kaulakukan? Menghidupi keluarga adalah tanggung jawabmu. Aku tidak pernah minta kau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tamu Dini Hari oleh Ketut Sugiartha

Suta berkemas hendak meninggalkan gedung kesenian kota yang masih berdenyut selepas tengah malam. Ia minta maaf kepada teman-temannya yang masih asyik berbincang karena mendahului pulang dengan alasan, besok pagi ia harus mudik untuk mengikuti upacara perabuan ibu mertuanya. Yang ingin ia lakukan setiba di rumah tentu membereskan sisa riasan di wajah sebelum membersihkan keringat yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kuda Panandang Kajar oleh Ketut Sugiartha

Dalem Tarukan resah mendengar berita tentang situasi keraton. Semakin banyak saja patih yang kecewa karena sulit menghadap guna melaporkan dan memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas mereka. Mereka jadi menyia-nyiakan banyak waktu hanya untuk menunggu Dalem Samprangan yang tak kunjung muncul ke pendapa. Itu bisa berbahaya bila dibiarkan. Bisa menjadi sesuatu yang sangat buruk dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bukan Bocah Biasa oleh Ketut Sugiartha

Setiap selesai menyusu bocah laki-laki itu selalu minta dilepaskan dari gendongan. Kebiasaan itu membuat Utari bertanya-tanya dalam hati: mau apa sih sebenarnya anak ini? Apabila sudah diturunkan ke lantai ia pasti merangkak mendekati orang-orang yang ada di sekitarnya. Begitu selesai mengamati wajah seseorang dan merasa tidak menemukan apa yang ia cari, perhatiannya akan beralih ke … Baca Selengkapnya

Cerpen : Purnami oleh Ketut Sugiartha

Purnami masih duduk bergeming di teras rumah. Pikirannya berangsur jernih. Pipinya mulai kering, tak lagi dibanjiri air mata. Malam kian larut. Suara gonggongan anjing di kejauhan sesekali memecah keheningan. Juga suara jangkrik yang hilang muncul dari sudut halaman. Kembali dia ingatkan dirinya bahwa semua sudah selesai. Apa yang sudah terjadi biarlah sudah, dan apa yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pandemi oleh Ketut Sugiartha

Tiba-tiba ada desir halus kurasakan di dada. Desir yang sepertinya memberi isyarat bahwa akan terjadi sesuatu yang berpengaruh pada hidupku. Namun, sebagaimana pernah kualami sebelumnya, tidak dapat kupastikan karena aku tidak cakap menerjemahkan firasat. Karena itu, yang dapat kulakukan hanya menebak-nebak. Kendati tebakanku sering meleset, kali ini aku merasa agak yakin bahwa desir halus di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Laki-laki Itu oleh Ketut Sugiartha

Kali ini aku akan bercerita tentang laki-laki aneh yang sering kulihat di halte setelah pertigaan selepas Terminal Ciledug. Tampaknya ia sedikit lebih tua dariku. Paling sekitar tiga puluh lima usianya. Ia selalu kulihat berdiri di situ dengan mata redup menyiratkan timbunan keinginan yang gagal terwujud. Setiap kali Metromini yang kunaiki berhenti di depan halte itu, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Made Segara oleh Ketut Sugiartha

Nengah Longod duduk di sisi balai-balai lumbung dengan kedua kaki berjuntai. Di sebelah kanannya ada dua gelas kopi hitam yang masih menguarkan uap. Belum lama gelas itu ditaruh Wayan Lipur, istrinya, yang buru-buru ke belakang rumah memberi makan babi-babi peliharaannya. Sekitar pukul sembilan pagi waktu itu. Cahaya lembut matahari menembus celah-celah rimbun pepohonan di sekitar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lukisan oleh Ketut Sugiartha

Tertegun ia di sisi tubuh laki-laki yang terbujur kaku di atas balai-balai ruangan itu. Sebuah bilik persegi panjang yang dindingnya disesaki pajangan lukisan beragam ukuran. Pada sebagian tepi plafon tampak noda kecoklatan bekas rembesan air hujan. Sementara lantainya yang terbuat dari tegel tampak mengilat, agaknya sering dipel. Jendela-jendelanya yang memakai kaca nako juga kelihatan bersih, … Baca Selengkapnya