Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bukan Bocah Biasa oleh Ketut Sugiartha

Posted on Ming, 08 Mei 2022

Setiap selesai menyusu bocah laki-laki itu selalu minta dilepaskan dari gendongan. Kebiasaan itu membuat Utari bertanya-tanya dalam hati: mau apa sih sebenarnya anak ini? Apabila sudah diturunkan ke lantai ia pasti merangkak mendekati orang-orang yang ada di sekitarnya. Begitu selesai mengamati wajah seseorang dan merasa tidak menemukan apa yang ia cari, perhatiannya akan beralih ke orang lain. Begitu seterusnya sampai setiap orang berhasil diperiksanya.

Mereka yang memperhatikan perilakunya tentu terheran-heran dan berpikir ia pasti bukan bocah biasa. Beda dengan anak kecil seusianya, gerakannya demikian lincah dan ia memiliki kemauan besar untuk mengetahui atau menemukan sesuatu. Sampai sejauh ini belum ada yang tahu apa sebenarnya yang ia cari atau inginkan. Keanehan sudah menyertainya sejak ia mulai hadir di dunia ini. Neneknya orang pertama yang dibuatnya takjub. Wanita itu tergopoh-gopoh menemui Dharmaraja guna melaporkan bahwa pada saat bocah itu lahir ruangan bersalin dipenuhi cahaya terang benderang. Raja Amarta dan keempat adiknya senang mendengarnya. Mereka yakin masa depan penerus dinasti Kuru itu pasti akan gemilang.

Pandita istana segera dipanggil dan diminta melakukan upacara pembersihan dan pemberkatan untuk si bayi. Selanjutnya Dharmaraja mengundang ahli perbintangan yang akan diminta menuliskan ramalan masa depan anak itu berdasarkan hari kelahirannya. Ia dan adik-adiknya ingin segera tahu seperti apa gambaran kehidupan penerus mereka.

Pada hari ketiga para brahmin yang diundang telah hadir dan diberi tempat duduk khusus di pendapa agung. Mereka itu para bijak yang pengetahuannya tentang horoskop tidak perlu diragukan lagi. Mereka dapat memberikan gambaran rinci mengenai karakter dan nasib setiap anak berdasarkan getaran energi planet yang berpengaruh pada hari kelahirannya.

Setelah menjamu dan menghadiahi para brahmin dengan hadiah berharga berupa kain sutra dan permata, Dharmaraja maju membawa selembar lontar di atas nampan emas yang berisi keterangan mengenai jam dan hari kelahiran si bocah. Nampan itu ia letakkan di depan Lokacarya yang jadi pemimpin para brahmin. Ia lalu memberi hormat dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sambil menunduk.

”Yang Suci, para bijak yang mengetahui ketiga masa, mohon periksa horoskop anak yang baru lahir ini. Bagaimana susunan bintang-bintang dan pengaruh planet-planet yang akan menuntun jalan hidupnya? Kami ingin tahu seperti apa peruntungannya kelak.”

Lokacarya mengambil lontar itu lalu dicermati bersama para ahli perbintangan yang menyertainya. Tak lama kemudian mereka membuat kesimpulan dengan perasaan takjub.

”Yang Mulia,” ucap Lokacarya. ”Sampai saat ini kami sudah memeriksa ribuan horoskop, tapi kami belum pernah melihat yang seperti ini. Kami tak pernah menemukan susunan bintang dan planet sebaik yang ada pada hari kelahiran pangeran ini. Berbahagialah, segala kebaikan akan datang dari segala penjuru untuknya.”

Dharmaraja menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya sambil kembali mengatupkan tangan di depan dada. ”Yang Suci mengatakan, segala kebaikan akan datang kepadanya. Namun, apakah ia juga akan memberikan kebaikan kepada rakyatnya? Apakah ia akan menghormati orang-orang suci?”

”Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ia akan menjadi raja yang adil dan bijaksana. Rakyat sangat menghormati dan mencintainya. Ritual seperti yang tertulis dalam kitab suci akan diselenggarakan dengan baik. Ia akan memperoleh kemuliaan seperti leluhurnya.”

Sebenarnya masih banyak hal baik yang ingin Lokacarya sampaikan kepada Dharmaraja, tetapi pandita itu merasa perlu menghentikan ucapannya. Ia khawatir jika nanti terkesan terlalu menyanjung dan bahkan disangka hendak menjilat. Sebaliknya Dharmaraja masih belum puas. Ia ingin mendengar lebih banyak mengenai masa depan putra Utari itu.

Karena dapat menangkap apa yang sedang dipikirkan Dharmaraja, Lokacarya berkata lagi, ”Agaknya Yang Mulia ingin tahu lebih banyak. Namun, kami akan lebih senang menjawab pertanyaan khusus daripada menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak begitu penting.”

”Baiklah,” tanggap Dharmaraja. ”Pada saat ia memerintah kelak, apakah akan terjadi perang? Jika terjadi perang, bagaimana ia akan menghadapinya?”

”Tidak, Yang Mulia. Perang tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang berani mengganggu kerajaannya.”

Mendengar hal itu, Dharmaraja bertukar pandang dengan Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Mereka sama-sama tersenyum dengan wajah memancarkan sukacita. Setelah itu Dharmaraja berpaling lagi kepada Lokacarya.

”Kami patut bersyukur karena Dewata telah melimpahkan anugerah mahabesar kepada kami. Tapi…?”

”Agaknya masih ada yang ingin Yang Mulia tanyakan,” Lokacarya menatap Dharmaraja yang tampak bimbang dan menundukkan wajah. ”Katakan saja Yang Mulia. Kami siap menjawab semua pertanyaan. Mengapa Yang Mulia tiba-tiba jadi ragu?”

”Kami sangat puas mendengar penjelasan Yang Suci bahwa pangeran ini akan menjalani kehidupan yang pasti diimpikan setiap orang. Ia pasti akan menjadi raja yang akan dikenang selamanya. Kebajikan dan kedamaian yang akan menyertai perjalanan hidupnya membuat kami sangat bahagia seakan kami ikut mengalaminya. Namun, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan lagi. Saya mohon maaf jika ini tidak layak ditanyakan.”

”Silakan, Yang Mulia. Katakan saja.”

”Bolehkah saya tahu bagaimana nanti ia mengakhiri hidupnya?”

Kami sangat puas mendengar penjelasan Yang Suci bahwa pangeran ini akan menjalani kehidupan yang pasti diimpikan setiap orang. Ia pasti akan menjadi raja yang akan dikenang selamanya. Kebajikan dan kedamaian yang akan menyertai perjalanan hidupnya membuat kami sangat bahagia seakan kami ikut mengalaminya.

Para brahmin tidak menyangka Dharmaraja akan menanyakan hal itu. Begitu juga Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Mereka heran bagaimana kakak sulung mereka bisa penasaran seperti itu.

Arjuna yang merasa perlu menenangkan kakaknya lantas berkata, ”Sudahlah, Kanda. Bukankah kematian akan datang kepada siapa saja dengan caranya sendiri? Tidakkah berlebihan jika kita ingin mengetahui hal itu sekarang? Saya khawatir kebahagiaan yang barusan kita rasakan akan sirna begitu saja karena kecemasan yang tidak beralasan.”

“Entahlah, Dinda. Tiba-tiba saja saya merasa gelisah dan ingin menanyakan hal itu.” Sementara itu, Lokacarya minta waktu untuk menganalisa kembali horoskop bocah itu. Mendengar itu Dharmaraja tampak semakin gelisah seakan sedang menanti kabar buruk. Lokacarya lekas memberikan tanggapan.

”Yang Mulia, pangeran ini akan mengakhiri hidupnya karena kutukan.”

”Apa?” Bukan kepalang terkejutnya Dharmaraja. ”Bagaimana kebajikan bisa berujung kutukan?”

Lokacarya membisu lalu menoleh pelan ke samping. Seorang brahmin yang duduk di sebelahnya kemudian mewakili, ”Setelah mengkaji kembali horoskopnya, kami berkesimpulan bahwa pangeran ini akan wafat karena dipatuk ular.”

Dharmaraja terduduk lesu dihantam rasa putus asa. Seperti yang dikhawatirkan Arjuna, kebahagiaan yang barusan mereka rasakan jadi sirna dalam sekejap. Dharmaraja menggeleng-gelengkan kepala. ”Seorang yang menjalani kehidupan penuh kebajikan berakhir dengan kutukan? Dan dipatuk ular? Sungguh mengerikan. Ini tidak adil,” ratapnya.

Brahmin itu lanjut menyampaikan hasil analisa yang lain. ”Tidak perlu bersedih, Yang Mulia. Setelah mencermati kembali posisi planet-planet dalam horoskop anak ini, ada perpaduan yang berpengaruh sangat kuat. Dan itu pengaruh yang mendatangkan kebaikan. Setelah ia tahu mengenai kutukan itu, ia akan segera meninggalkan istana. Meninggalkan takhta dan keluarga lalu menyepi di tepi Sungai Gangga untuk memasrahkan diri kepada Dewata. Kemudian seorang resi agung akan muncul lalu menuntunnya ke jalan pencerahan. Ketekunannya menjalankan ajaran sang resi agung dan kesadarannya yang terus meningkat akhirnya mengantarkannya ke kehidupan abadi. Ya, ia akan moksa.”

Mendengar pernyataan brahmin itu wajah-wajah muram berubah semringah. Dharmaraja tidak lagi merasa khawatir, begitu pula saudara-saudaranya. Para brahmin pun merasa lega karena sudah menyelesaikan tugas mereka dan diterima dengan baik oleh penguasa negeri.

Hari terus berganti melahirkan peristiwa demi peristiwa yang berbeda. Akan tetapi, ada yang tidak berubah: tingkah laku bocah itu. Setiap selesai menyusu ia tetap saja minta dilepaskan dari gendongan. Para dayang yang menjaganya tidak lagi tertarik mempercakapkannya sebab itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Ketika upacara pemberian nama tiba, pendapa agung dihadiri banyak tamu. Para raja, para resi, kaum terpelajar dan sebagainya telah menempati kursinya masing-masing. Sri Kresna yang datang terakhir mendapat penghormatan khusus dari seluruh yang hadir sebelum ia duduk di kursi yang telah disediakan.

Tak lama kemudian Sahadewa keluar dari keputren diiringi para dayang. Ia menggendong putra Utari yang berpakaian sutra dan berhiaskan permata. Pancaran keceriaan dari wajah bocah itu menyedot perhatian semua yang hadir. Sampai di tempat upacara pemberian nama yang beralaskan kembang aneka warna, Sahadewa menurunkan bocah itu. Begitu lepas dari gendongan, seperti biasa ia langsung merangkak dari tempatnya diturunkan. Sahadewa berusaha mencegahnya tetapi sia-sia.

”Biarkan saja, Dinda,” kata Dharmaraja. ”Mari kita lihat apa yang akan ia lakukan kali ini.”

Agaknya bocah itu sudah mengamati orang-orang yang hadir di pendapa agung sebelum dilepaskan dari gendongan. Begitu pantatnya menyentuh lantai ia langsung bergerak ke arah yang pasti: tempat duduk Sri Kresna.

Orang yang dituju hanya tersenyum menyaksikan anak itu merangkak mendekatinya, sampai anak itu memegang kaki kursi yang didudukinya sambil menatap seakan ingin digendong. Sri Kresna yang tidak habis pikir melihat perilaku aneh bocah itu lalu mengangkat dan menggendongnya sambil tertawa. Segera saja anak itu memeriksa wajah penggendongnya seteliti mungkin seperti orang dewasa sedang memeriksa sesuatu. Setelah itu ia memeluk erat leher Sri Kresna seakan tak mau dilepaskan. Ia merasa sangat nyaman berada dalam gendongan orang yang menjadi kusir Arjuna selama perang saudara di Kurusetra itu.

”Karena ia selalu melakukan pariksha, memeriksa setiap orang, maka nama yang tepat untuknya adalah Parikesit,” kata Sri Kresna.

Dharmaraja dan saudara-saudaranya setuju. Maka dimulailah upacara pemberian nama yang dipimpin Kripacarya dengan melantunkan mantra-mantra Weda.

****

Ketut Sugiartha tinggal Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan 11 buku tunggal dan 3 buku bersama berupa novel dan kumpulan cerpen.

Cahyo Heryunanto, ilustrator asal Yogyakarta, lahir 26 Oktober 1995. Sejak 2018 memulai karier sebagai ilustrator di media nasional Indonesia. Beberapa kali mendapatkan penghargaan ilustrasi tingkat nasional ataupun internasional.

sumber : harian Kompas edisi 08 Mei 2022 di halaman 10 dengan judul “Bukan Bocah Biasa “.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme